Bank sentral China membeli 23 ton emas pada September, memperpanjang akumulasi 23 bulan beruntun hingga total cadangan mencapai 2.410 ton.
Key Takeaways
- Bank sentral China membeli 23 ton emas pada September 2026, menjadi pembelian bulanan terbesar sejak September 2023.
- Aksi beli ini memperpanjang akumulasi beruntun menjadi 23 bulan tanpa putus, melanjutkan pembelian masing-masing 20 ton pada Juli dan Agustus.
- Sepanjang 2026 berjalan, total pembelian resmi mencapai 103 ton dan mengangkat cadangan emas China ke rekor 2.410 ton di peringkat kelima dunia.
- Dengan kecepatan beli saat ini, China berpeluang menggeser Prancis (2.437 ton) dan Italia (2.452 ton) sebelum pergantian tahun.
Bank sentral China menambah 23 ton emas ke dalam cadangan resminya pada September 2026. Angka ini menandai pembelian bulanan terbesar sejak September 2023 sekaligus memperpanjang rangkaian akumulasi menjadi 23 bulan berturut-turut. Konsistensi ini memberi pesan tegas ke pasar: Beijing aktif memanfaatkan koreksi harga untuk memperbesar porsi emas fisik dalam neraca cadangan devisanya.
Laju Beli Bertambah Cepat Saat Koreksi Terjadi
Sebelum penambahan September, otoritas moneter China menyerap masing-masing 20 ton emas pada Juli dan Agustus. Tambahan 23 ton tersebut menggenapkan akumulasi resmi sepanjang 2026 menjadi 103 ton. Kini, total kepemilikan emas China menyentuh rekor tertinggi baru di level 2.410 ton.
Pola ini memperlihatkan strategi buying the dip yang sangat terukur. Alih-alih menahan diri saat pasar berfluktuasi, bank sentral China justru menaikkan volume serapan bulanan melampaui rata-rata dua bulan sebelumnya. Keberadaan pembeli institusi sebesar ini bertindak sebagai penopang harga fisik, membatasi potensi penurunan lebih dalam di pasar komoditas global.
Prancis dan Italia Segera Tergeser dari Empat Besar
Dengan kepemilikan 2.410 ton, China kini menempati peringkat kelima pemegang emas terbesar di dunia, tepat di belakang Amerika Serikat, Jerman, Italia, dan Prancis. Namun, jarak menuju posisi ketiga dan keempat semakin sempit. Prancis tercatat memegang 2.437 ton, sedangkan Italia berada di level 2.452 ton.
China hanya terpaut 27 ton dari Prancis dan 42 ton dari Italia. Jika laju akumulasi rata-rata di atas 20 ton per bulan berlanjut, China bisa melompati kedua negara Eropa tersebut secepatnya tahun ini. Pergeseran peringkat ini menegaskan langkah nyata diversifikasi aset cadangan devisa, mengurangi ketergantungan pada surat utang negara maju dan beralih ke aset berwujud yang tidak membawa risiko pembekuan sepihak.
Dua Skenario untuk Permintaan Fisik dan Pasar Saham
Keberlanjutan pembelian selama 23 bulan berturut-turut memberikan acuan penting bagi arah aset berbasis emas.
Jika bank sentral China mempertahankan laju pembelian di kisaran 20 ton per bulan hingga akhir tahun, maka Prancis dan Italia dipastikan terlampaui dan batas bawah harga emas fisik akan tetap kokoh menahan tekanan penguatan dolar. Kondisi ini memberi kepastian margin bagi produsen tambang emas untuk menjaga arus kas operasional mereka. Sebaliknya, jika otoritas moneter Beijing tiba-tiba menghentikan pembelian beruntun 23 bulan ini pada laporan cadangan devisa berikutnya, maka pasar akan kehilangan pilar pembeli terbesarnya, memicu aksi ambil untung jangka pendek pada saham-saham produsen emas sebelum mencari titik keseimbangan baru.
Fokus berikutnya tertuju pada laporan cadangan devisa rilis bulan depan. Data tersebut akan mengonfirmasi apakah pembelian 23 ton pada September murni reaksi oportunistik memanfaatkan harga murah, atau sinyal percepatan alokasi sebelum tahun buku berakhir.