LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Core PCE AS Turun ke 3,0%: Efek ke Bunga Fed & IHSG

Inflasi Core PCE AS turun ke 3,0% pada Agustus. Ekspektasi kenaikan bunga mereda, memberi ruang rupiah menguat dan peluang aliran dana asing ke IHSG.


Key Takeaways

  • Inflasi Core PCE AS periode Agustus turun ke level 3,0% secara tahunan, berada di bawah perkiraan konsensus 3,3%.
  • Data Juli direvisi turun masing-masing 30 basis poin, menekan peluang kenaikan suku bunga The Fed pada pertemuan Oktober.
  • Penurunan angka sebagian dipicu penyesuaian metode hitung pada tiga komponen oleh biro statistik, bukan murni penurunan daya beli.
  • Penurunan yield US Treasury memberi ruang bagi rupiah untuk stabil, membuka jalan dana asing masuk ke saham perbankan dan properti di IHSG.

Rilis indeks harga belanja konsumsi perorangan atau Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat periode Agustus keluar lebih rendah dari perkiraan. Angka PCE utama turun ke level 3,4% secara tahunan dibandingkan perkiraan konsensus 3,7%. Sementara itu, inflasi inti atau Core PCE—patokan utama The Fed dalam menentukan arah suku bunga acuan—turun ke 3,0%, berada di bawah ekspektasi 3,3%.

Koreksi ini makin jelas setelah data PCE utama dan Core PCE periode Juli juga direvisi turun masing-masing sebesar 30 basis poin (0,30%). Dua data ini membuat pelaku pasar mengurangi perkiraan kenaikan suku bunga lanjutan pada pertemuan The Fed bulan Oktober. Namun, membaca data ini secara mentah tanpa melihat latar belakang perhitungannya bisa memicu salah baca arah pergerakan harga.

Angka Turun Akibat Perubahan Metode Hitung

Bagi pemula, Core PCE adalah keranjang belanja konsumen yang mengeluarkan pos bahan bakar dan makanan segar. Tujuannya agar bank sentral bisa membaca pergerakan harga dasar tanpa terganggu naik-turun sesaat dari harga komoditas pangan dan energi. Ketika angka ini turun dari perkiraan 3,3% ke 3,0%, pembacaan sepintas menyimpulkan bahwa daya beli masyarakat AS mulai mendingin.

Faktanya, ada faktor teknis pada data kali ini. Bureau of Economic Analysis (BEA) memperbarui cara hitung pada tiga komponen pengeluaran sekaligus merevisi deret data sebelumnya. Artinya, penurunan angka inflasi tahunan ini sebagian disumbang oleh cara ukur yang baru, bukan sepenuhnya karena volume transaksi belanja di lapangan berkurang secara mendadak.

Ibarat pedagang beras di pasar tradisional yang mengganti mangkuk timbangannya dengan wadah baru yang sedikit lebih ringan. Angka di jarum timbangan langsung bergeser turun, tetapi bobot beras riil yang dibawa pembeli pulang belum tentu berkurang banyak. Situasi ini menjelaskan kenapa secara statistik inflasi terlihat melunak, tetapi biaya belanja bahan pangan dan bensin di lapangan masih terasa tinggi.

Peluang Kenaikan Bunga Oktober Mulai Ditinggalkan

Terlepas dari faktor metode hitung tersebut, pasar obligasi dan kontrak berjangka bereaksi cepat. Kontrak berjangka suku bunga acuan The Fed langsung memperhitungkan bahwa bank sentral punya cukup alasan untuk menahan suku bunga di level sekarang. Peluang pengetatan moneter pada pertemuan Oktober bergerak turun.

Ketika kemungkinan kenaikan suku bunga AS mereda, tekanan jual pada surat utang negara AS (US Treasury) ikut berkurang. Imbal hasil atau yield obligasi jangka pendek dan menengah mulai melandai. Posisi dolar AS terhadap mata uang utama dunia pun cenderung kehilangan tenaga untuk terus menguat.

Bagi pasar modal di negara berkembang, meredanya dolar AS membuka peluang masuknya dana asing. Jalurnya sederhana: ketika yield di AS berhenti naik, selisih imbal hasil antara obligasi AS dan surat utang negara berkembang menjadi lebih menarik bagi pengelola dana global.

Bank Besar dan Properti Paling Diuntungkan

Stabilitas nilai tukar rupiah terhadap dolar AS memberi ruang bagi Bank Indonesia untuk mempertahankan suku bunga acuan tanpa harus menguras cadangan devisa. Situasi ini menguntungkan sejumlah sektor di Bursa Efek Indonesia.

Sektor pertama yang diuntungkan adalah perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, BMRI, dan BBNI. Risiko kenaikan biaya dana atau cost of funds menjadi lebih terkendali karena suku bunga acuan domestik tidak perlu dinaikkan untuk mengimbangi The Fed. Selain itu, saham perbankan likuid selalu menjadi pintu masuk utama arus modal asing (foreign flow) saat kondisi pasar global mulai stabil.

Sektor kedua adalah properti dan konstruksi, seperti CTRA, PWON, dan BSDE. Beban bunga kredit konstruksi tidak bertambah, dan suku bunga KPR bertahan di level yang masih bisa dijangkau pembeli rumah pertama. Di sisi lain, emiten dengan utang dolar AS juga terhindar dari rugi kurs yang membengkak.

Sebaliknya, saham komoditas yang sebelumnya diuntungkan oleh harga jual tinggi akibat inflasi berpotensi mengalami normalisasi valuasi jika pasar mulai mengantisipasi penurunan permintaan riil global.

Dua Data yang Menentukan Arah Pasar Berikutnya

Apakah penurunan data inflasi ini sudah cukup untuk mengubah thesis investasi secara permanen? Belum tentu. Satu rilis data bulanan yang dipengaruhi revisi metode statistik belum membuktikan adanya tren penurunan inflasi jangka panjang yang solid.

Pasar masih perlu menguji ketahanan data ini pada rilis inflasi bulan berikutnya tanpa efek perubahan cara hitung. Dua data utama yang perlu dipantau adalah angka ketenagakerjaan AS (Non-Farm Payrolls) serta arah harga minyak mentah dunia. Jika harga minyak kembali naik di pasar spot, biaya energi akan kembali merembet ke biaya produksi barang kebutuhan lainnya.