Ekspektasi CPI September naik 0,6% m/m dan efek shutdown mengerek proyeksi CPI November ke 3,8% y/y, mempersempit ruang manuver The Fed.
Key Takeaways
- CPI September diperkirakan naik 0,6% m/m, mempersempit ruang pelonggaran sebelum rapat FOMC 28 Oktober.
- Efek government shutdown Oktober 2025 kembali masuk ke data tahunan, mendorong proyeksi CPI November ke 3,8% y/y dan Core CPI ke kisaran 2,7%.
- Komponen portfolio management fees dari PPI tidak lagi masuk ke perhitungan PCE, mengurangi pengaruh rilis PPI terhadap tolok ukur inflasi The Fed.
- Pidato Chair Kevin Warsh pada 15 Oktober pukul 23.30 ET menjadi komunikasi terakhir sebelum blackout period, tetapi data inflasi lebih menentukan arah kebijakan.
Ekspektasi kenaikan CPI sebesar 0,6% m/m pada September mengunci arah rapat FOMC 28 Oktober bahkan sebelum Chair Kevin Warsh berbicara. Komunikasi resmi terakhir The Fed sebelum memasuki blackout period dijadwalkan berlangsung lewat diskusi IMF pada Kamis, 15 Oktober pukul 23.30 ET. Pernyataan Warsh diperkirakan minim rincian dan membuat pasar terus menebak arah suku bunga acuan. Namun, rilis data inflasi yang keluar mendahului jadwal pidato tersebut membuat komentar sang ketua dewan gubernur kehilangan bobot penentunya.
Distorsi Shutdown Mulai Mengerek Angka Tahunan
Tekanan harga di Amerika Serikat tidak berhenti pada angka bulanan September. Perhitungan inflasi tahunan mulai kembali memuat efek distorsi dari government shutdown Oktober 2025. Periode penutupan layanan pemerintah federal setahun lalu membuat data resmi CPI dan Core CPI tahunan saat itu mencatat angka yang lebih rendah dari laju inflasi riil.
Mulai rilis Oktober dan periode sesudahnya, efek basis rendah tersebut berbalik bekerja. Proyeksi menunjukkan CPI November akan terdorong ke 3,8% y/y, sementara Core CPI bergerak mendekati 2,7%. Naiknya angka tahunan ini bukan sekadar anomali statistik sesaat, melainkan penyesuaian atas hilangnya distorsi masa lalu. Ketika angka inflasi tahunan bergerak mendekati 4%, dewan gubernur The Fed tidak memiliki alasan kuat untuk melonggarkan kebijakan moneter secara terburu-buru.
Perubahan Hitungan PCE Mengurangi Pengaruh PPI
Fokus pasar terhadap rilis PPI juga mengalami pergeseran teknis. Indeks harga produsen selama ini dibaca teliti karena sejumlah komponennya menjadi input perhitungan PCE, indikator inflasi utama yang dipantau The Fed. Namun, laporan PCE kini tidak lagi menarik komponen portfolio management fees dari data PPI.
Langkah ini menyingkirkan bagian paling fluktuatif dari PPI dalam pembentukan angka PCE. PPI tetap berguna untuk mengukur pergerakan biaya input sektor produksi, tetapi bobot keterkaitannya terhadap proyeksi PCE menjadi lebih kecil. Kenaikan tajam pada angka PPI tidak lagi serta-merta diartikan sebagai lonjakan langsung pada angka PCE di akhir bulan.
Arah Suku Bunga Menjelang Rapat 28 Oktober
Jika CPI September terealisasi di level 0,6% m/m dan laju tahunan mengonfirmasi tekanan harga akibat normalisasi efek shutdown, maka The Fed memiliki dasar kuat untuk mempertahankan suku bunga acuan tanpa memberi kepastian jadwal pemangkasan. Sebaliknya, jika data CPI September keluar jauh di bawah perkiraan, pasar obligasi dan saham memiliki ruang reli jangka pendek, kendati proyeksi CPI November yang menuju 3,8% y/y tetap membatasi ruang pelonggaran berikutnya.
Arah kebijakan suku bunga menuju keputusan 28 Oktober kini sepenuhnya bergantung pada pembuktian angka CPI September dan data awal Oktober, bukan pada retorika di podium IMF.