LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Data Center RI Menuju 1.957 MW: Kuncinya di Listrik

Kapasitas data center Indonesia diproyeksikan capai 1.957 MW di 2030. Komputasi AI memicu lonjakan kebutuhan listrik dan menguji kecepatan izin proyek.


Key Takeaways

  • Kapasitas operasional data center di Indonesia mencapai 468 MW pada kuartal II/2026, dengan proyeksi mencapai 1.957 MW pada 2030.
  • Tambahan kapasitas sekitar 500 MW dalam 2–3 tahun ke depan menuntut pasokan daya stabil dari pembangkit energi terbarukan dan keandalan jaringan listrik.
  • Investasi fasilitas hyperscale seperti BDx Jatiluhur senilai Rp3,5 triliun masih tertahan perizinan AMDAL dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG).

Kapasitas data center operasional di Indonesia berada di posisi 468 MW pada kuartal II/2026, naik dari 202 MW pada 2022. Target kapasitas diproyeksikan naik lebih dari empat kali lipat menuju 1.957 MW pada 2030 demi menampung beban komputasi artificial intelligence (AI). Ruang pertumbuhannya nyata, tetapi laju ekspansi fisik di lapangan berhadapan langsung dengan ketersediaan pasokan listrik dan kepastian regulasi.

Kebutuhan 500 MW Baru Bergantung pada Pasokan Listrik

Dalam dua hingga tiga tahun ke depan, pasar bersiap menerima tambahan kapasitas sekitar 500 MW. Server komputasi AI bekerja tanpa henti selama 24 jam sehari dengan kebutuhan daya pendinginan yang sangat tinggi. Karakteristik ini membuat pasokan listrik menjadi faktor penentu utama antara proyek yang berjalan dan yang tertunda.

Penyedia daya seperti PLN dan produsen listrik swasta berbasis energi baru terbarukan—mulai dari PLTS, hidro, hingga geotermal—memegang peran sentral. Operator hyperscale global mencari pasokan listrik hijau untuk memenuhi target emisi mereka. Namun pasokan listrik hijau belum cukup jika jaringan kabel penghubung dan kesiapan baterai penyimpanan energi (energy storage) belum merata ke lokasi pusat data.

Kasus BDx Jatiluhur Memperlihatkan Hambatan Izin

Skala modal yang masuk ke sektor ini terlihat pada proyek BDx di kawasan Jatiluhur, Purwakarta. Proyek bernilai Rp3,5 triliun ini dirancang sebagai data center hyperscale yang membutuhkan pendinginan setara 384 liter air per detik atau 33.000 meter kubik per hari saat beroperasi penuh.

Meskipun komitmen dananya riil, fasilitas ini belum bisa beroperasi penuh karena dokumen AMDAL dan Persetujuan Bangunan Gedung (PBG) belum selesai diterbitkan. Hambatan perizinan seperti ini menjadi ujian bagi realisasi proyek infrastruktur digital. Pembangunan fisik tidak bisa mulai menyerap beban komputasi sebelum izin dasar tuntas.

Rantai Pasok dari Fiber Optic hingga Pembangkit Hijau

Pengembangan data center menyalurkan modal ke berbagai lini pendukung. Di sektor telekomunikasi, kebutuhan kabel fiber optic dan gerbang internet (internet gateway) bertambah untuk mengejar latensi rendah (low latency). Di sektor manufaktur, penyedia sistem pendingin serta peralatan mekanikal dan elektrikal mencatat pesanan baru.

Arah sektor ini ke depan tidak ditentukan oleh ramalan adopsi AI semata, melainkan kecepatan penyelesaian izin konstruksi dan ketersediaan daya listrik 24 jam yang siap dialirkan ke fasilitas server.