LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Defisit AS Tembus $15T, Kenapa Rasio Utang Malah Turun?

Defisit AS mendekati $15T sejak 2020 dan lelang Treasury naik 2x lipat dari 2019, namun rasio utang domestik ke PDB justru lebih rendah. Ini penjelasannya.


Key Takeaways

  • Belanja defisit pemerintah AS sejak 2020 mendekati US$15 triliun, melampaui total utang nasional AS pada 2011.
  • Ukuran lelang surat utang Treasury mendekati dua kali lipat dibanding 2019 untuk menutup kebutuhan kas anggaran.
  • Rasio utang domestik terhadap PDB justru lebih rendah karena tertolong pembesaran PDB nominal.

Sejak 2020, belanja defisit Amerika Serikat menyentuh hampir US$15 triliun. Angka itu melampaui seluruh utang nasional AS pada 2011. Untuk menutup kebutuhan kas, ukuran lelang surat utang Treasury di pasar perdana kini mendekati dua kali lipat dibanding posisi 2019.

Kondisi ini memunculkan fakta yang menarik. Pasokan surat utang baru terus masuk ke pasar, tetapi porsi utang domestik terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) justru tercatat lebih rendah. Ada pembacaan yang perlu dipahami di balik dua data yang sekilas berlawanan ini.

Kenapa Rasio Utang Terhadap PDB Justru Menyusut?

Kunci jawaban dari kondisi ini ada pada penyebut rasio tersebut, yaitu PDB nominal. PDB nominal mengukur total nilai ekonomi dengan memperhitungkan kenaikan harga. Saat inflasi naik dan kegiatan ekonomi berjalan, nilai nominal PDB membesar lebih cepat daripada laju penerbitan utang baru.

Pemerintah AS menambah utang hampir US$15 triliun lewat defisit anggaran dalam beberapa tahun terakhir. Di atas kertas, tambahan utang sebesar itu biasanya langsung menaikkan rasio utang terhadap ekonomi. Namun inflasi punya efek ganda. Selain mengurangi daya beli, inflasi mengecilkan nilai riil utang masa lalu jika dibandingkan dengan ukuran ekonomi nominal yang membesar.

Meski rasio di atas kertas terlihat aman, kenyataan di pasar lelang obligasi tetap menuntut likuiditas tunai yang nyata.

Pasar Menyerap Pasokan Lelang Dua Kali Lipat

Ukuran lelang Treasury yang mendekati dua kali lipat dari posisi 2019 memperlihatkan volume likuiditas yang ditarik ke kas pemerintah AS. Surat utang baru dalam jumlah sebesar ini bersaing langsung memperebutkan dana yang beredar di pasar global.

Ketika lelang obligasi AS berlangsung dalam ukuran mendekati dua kali lipat, pasar modal negara berkembang ikut menanggung imbasnya. Dana global cenderung ditarik ke aset berdenominasi dolar AS untuk menyerap pasokan obligasi pemerintah tersebut. Akibatnya, aliran dana asing ke bursa saham dan pasar obligasi emerging market menghadapi persaingan ketat dalam menjaga likuiditas.

Di pasar domestik Indonesia, suplai surat utang AS yang tebal membuat nilai tukar rupiah dan pasar obligasi negara tetap rentan menghadapi tekanan keluar arus modal.

Arah Pasar ke Depan

Jika pertumbuhan PDB nominal tetap mampu mengimbangi pasokan lelang baru, maka pasar obligasi dapat terus menyerap surat utang tanpa koreksi harga yang dalam. Sebaliknya, jika laju ekonomi mulai melambat sementara ukuran lelang tetap mendekati dua kali lipat dari posisi 2019, maka investor akan meminta yield lebih tinggi sebagai imbalan menyerap pasokan tersebut, yang berisiko memicu keluarnya dana asing dari pasar modal negara berkembang termasuk Indonesia.

Fokus yang perlu dipantau berikutnya adalah daya serap investor pada lelang Treasury mendatang dan ketahanan pertumbuhan PDB nominal AS.