Defisit anggaran AS tembus US$1,993 triliun dengan beban bunga US$1,143 triliun. Pelajari efek bertahannya yield Treasury ke likuiditas rupiah dan IHSG.
Key Takeaways
- Defisit anggaran federal AS naik 12% secara tahunan menyentuh US$1,993 triliun atau setara 6,2% dari PDB, akibat pengeluaran US$7,4 triliun yang jauh melampaui kas penerimaan US$5,4 triliun.
- Beban bunga pembayaran utang mencatatkan rekor US$1,143 triliun, menyedot lebih dari 20% total penerimaan pajak dan menyumbang lebih dari separuh kenaikan defisit tahunan.
- Penerimaan pajak korporasi turun 16% dan bea masuk turun 11%, sementara pos belanja wajib perlindungan sosial justru naik 7% menjadi US$217 miliar.
- Kebutuhan penerbitan obligasi baru untuk menutup kas yang defisit menahan yield US Treasury tetap tinggi, membatasi pelonggaran moneter dan menahan arus dana asing di bursa saham negara berkembang.
Pemerintah federal Amerika Serikat mengakhiri tahun fiskal dengan lubang anggaran sebesar US$1,993 triliun. Angka defisit ini setara dengan 6,2% dari produk domestik bruto (PDB), naik dari posisi 5,8% pada tahun fiskal sebelumnya. Posisi defisit di atas 6% biasanya hanya muncul ketika roda ekonomi sedang terpukul resesi besar. Fakta bahwa pembengkakan kas ini terjadi saat ekonomi AS masih berjalan memperlihatkan ketidakseimbangan struktural yang kian melebar antara kas masuk dan kas keluar.
Total belanja pemerintah tercatat mencapai US$7,4 triliun, sementara uang yang masuk ke kas penerimaan hanya US$5,4 triliun. Selisih kas sebesar US$2 triliun tersebut harus ditutup dengan menjual surat utang baru secara berkala ke pasar modal global.
Beban Bunga Menyerap Seperlima Penerimaan Pajak
Komponen belanja yang membesar paling cepat bukan anggaran pembangunan fisik baru, melainkan biaya membayar bunga utang lama. Beban bunga federal naik 11% secara tahunan atau bertambah US$115 miliar menjadi US$1,143 triliun. Kenaikan bunga utang ini menyumbang lebih dari separuh total kenaikan defisit tahunan.
Artinya, dari setiap lima dolar penerimaan pajak yang ditarik dari pembayar pajak di AS, lebih dari satu dolar langsung habis sekadar untuk membayar kupon surat utang. Situasi kas makin tertekan karena pos belanja wajib seperti jaminan sosial dan kesehatan (Social Security, Medicare, dan Medicaid) naik gabungan sebesar US$217 miliar atau tumbuh 7%.
Di saat belanja wajib terus bertambah, pendapatan negara justru mengalami penurunan. Penerimaan pajak korporasi turun 16% dan pendapatan dari pos bea masuk turun 11%. Jurang antara kas masuk dan pengeluaran rutin kian melebar tanpa adanya tanda-tanda pemangkasan anggaran dari para pembuat kebijakan menjelang tahun politik.
Utang Lama Jatuh Tempo di Tengah Bunga Tinggi
Kondisi keuangan ini mirip dengan situasi pemilik toko kelontong grosir. Toko mencatatkan penjualan tunai US$5,4 juta, tetapi kewajiban belanja barang dan operasional mencapai US$7,4 juta. Untuk menutup lubang kas US$2 juta, pemilik toko terus menarik utang baru dari kreditur.
Masalah utama muncul ketika surat utang yang ditarik beberapa tahun lalu dengan bunga murah di kisaran 1% hingga 2% kini jatuh tempo. Agar kas tidak macet, pengelola kas harus menerbitkan utang baru untuk melunasi utang lama atau yang biasa disebut proses refinancing. Karena suku bunga acuan saat ini bertengger di level tinggi, utang lama yang berbunga murah otomatis berganti menjadi surat utang baru berbiaya bunga 4% hingga 4,5%.
Beban bunga akhirnya membesar dengan sendirinya bukan karena ada ekspansi bisnis baru, melainkan akibat menggulung utang lama di tengah pasar uang yang mahal. Tanpa disiplin pemangkasan belanja, pemerintah AS harus terus membanjiri pasar dengan lelang obligasi baru untuk menjaga likuiditasnya.
Jalurnya ke Nilai Tukar Rupiah dan Arus Dana Asing di IHSG
Kebutuhan pasokan lelang obligasi yang sangat besar memaksa imbal hasil atau yield US Treasury bertahan tinggi agar pasar bersedia menyerap surat utang tersebut. Ketika aset berisiko rendah di AS menawarkan imbal hasil menarik, modal global cenderung bertahan di aset berdenominasi dolar AS.
Bagi pasar modal Indonesia, kondisi ini membatasi ruang pelonggaran likuiditas. Bank Indonesia harus berhati-hati melonggarkan suku bunga acuan agar jarak imbal hasil antara Surat Berharga Negara (SBN) dan obligasi AS tetap terjaga demi menahan stabilitas rupiah. Kurs rupiah yang tertahan memberi tekanan pada emiten bursa yang memiliki porsi utang dolar tinggi tanpa lindung nilai memadai.
Sektor dengan utang valas besar atau yang bahan bakunya bergantung pada impor menghadapi kenaikan biaya keuangan yang menggerus laba bersih. Sebaliknya, emiten perbankan dengan modal kuat dan porsi dana murah (CASA) dominan berada di posisi yang jauh lebih terlindungi karena mampu menjaga margin bunga bersih (NIM) saat suku bunga bertahan tinggi lebih lama.
Yang Menentukan Arah Valuasi ke Depan
Tingginya defisit anggaran AS mematahkan asumsi bahwa era suku bunga murah akan segera kembali dalam waktu singkat. Angka defisit yang mendekati US$2 triliun ini mengubah cara pasar menghargai aset berisiko.
Indikator terpenting yang perlu dipantau investor saat ini adalah tingkat permintaan dalam lelang US Treasury mingguan dan pergerakan yield tenor 10 tahun. Jika lelang surat utang AS mulai sepi peminat dan pasar meminta tingkat bunga yang lebih tinggi, arus dana asing (foreign flow) ke pasar saham negara berkembang termasuk IHSG berpotensi tersendat. Saham-saham dengan valuasi mahal berdasarkan rasio harga terhadap laba (P/E ratio) menjadi pihak yang paling rentan terhadap penyesuaian harga jika likuiditas global terus tersedot ke penerbitan utang AS.