LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Di Balik Gadai Saham BMRI: Likuiditas Riil Tembus 101%

BMRI klarifikasi agunan saham JARR-PGUN, namun LDR riil tembus 101% dan margin tertekan. Simak bedah likuiditas dan penyesuaian target harga sahamnya.


Key Takeaways

  • Rasio pinjaman terhadap simpanan (LDR) riil BMRI berada di 101,0% pada Agustus 2026 jika saldo likuiditas pemerintah (SAL) Rp104 triliun dikeluarkan, jauh melampaui angka laporan resmi 94,4%.
  • Pertumbuhan kredit 17,6% yoy melampaui dana murah (CASA) yang hanya tumbuh 8,2%, memicu lonjakan deposito berjangka sebesar 47,8% yoy.
  • Klarifikasi gadai saham JARR (86,6%) dan PGUN (92,4%) memastikan kepatuhan batas pinjaman, tetapi besaran plafon kredit dan loan-to-value belum dibuka.
  • Target valuasi P/B turun menjadi 1,4x dengan target harga Rp4.665 seiring kenaikan Cost of Credit menuju 80 bps.

Klarifikasi Bank Mandiri soal agunan saham JARR dan PGUN meredakan spekulasi pelanggaran batas legal pinjaman, tetapi belum menjawab hal mendasar bagi pemegang saham: berapa nilai fasilitas kredit yang ditarik dan bagaimana kepastian jadwal pembayarannya. Di luar isu debitur grup tersebut, ada tekanan likuiditas yang lebih nyata di paruh kedua 2026.

Klarifikasi JARR-PGUN Belum Hapus Tanda Tanya Kredit

BMRI menyatakan fasilitas pembiayaan diberikan kepada grup pengendali, bukan langsung ke emiten tercatat JARR maupun PGUN. Saham yang diagunkan—masing-masing 86,6% dan 92,4%—berstatus agunan tambahan dengan imbal hasil pinjaman di atas rata-rata kredit korporasi 5,94%. Manajemen juga memastikan batas legal pinjaman tetap terpenuhi.

Masalahnya, rincian plafon kredit, dana terpakai, tenor pinjaman, hingga rasio loan-to-value tidak diumumkan. Menghitung nilai pemulihan agunan saham berkapitalisasi terbatas dalam kondisi tertekan selalu berisiko menghasilkan diskon harga yang besar dibanding harga pasar reguler.

Likuiditas Riil Lebih Ketat dari LDR 94%

Kondisi yang lebih mendesak terlihat pada neraca pendanaan. Angka resmi menunjukkan LDR BMRI per Agustus 2026 berada di 94,4%. Namun posisi ini tertopang penempatan saldo anggaran lebih (SAL) pemerintah senilai Rp104 triliun. Tanpa dana pemerintah tersebut, LDR riil mencapai 101,0%.

Kredit tumbuh 17,6% yoy, sementara pertumbuhan CASA tertinggal di 8,2% yoy. Jurang pertumbuhan ini memaksa BMRI mengandalkan deposito berjangka mahal yang melonjak 47,8% yoy, ditambah pendanaan pasar uang dan surat utang sebesar Rp341 triliun atau 21% dari total kredit. Ketergantungan ini membuat biaya dana sensitif terhadap penarikan likuiditas SAL pada paruh kedua 2026.

Margin Tertekan dan Cost of Credit Merangkak ke 80 Bps

Kenaikan biaya dana diproyeksikan menekan NIM ke level 4,1% pada kuartal ketiga 2026 dari posisi 4,37% di semester pertama. Ruang pemulihan margin di akhir tahun bergantung pada persaingan bunga simpanan dan pelonggaran likuiditas perbankan.

Beban pencadangan juga meningkat. Manajemen memproyeksikan Cost of Credit (CoC) 2026 mendekati batas atas panduan di 60-80 bps, lalu naik ke 80-100 bps pada 2027. Pada saat yang sama, modal inti CET1 turun ke 16.4% di paruh pertama 2026 seusai pembagian dividen.

Dengan Cost of Equity yang dinaikkan ke 14,0% akibat ketidakpastian biaya dana, valuasi wajar P/B disesuaikan turun ke 1,4x dengan target harga Rp4.665. Ujian BMRI ke depan bukan lagi memacu pertumbuhan kredit, melainkan menjaga margin sebelum dana pemerintah ditarik keluar dari neraca.