LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Dimana Sebenarnya Bottom IHSG?

IHSG turun tajam setelah risiko MSCI meningkat. Ulasan valuasi, arus dana, reformasi pasar, dan tanda yang perlu terlihat sebelum menyebut bottom.


IHSG sudah jatuh jauh, tetapi pertanyaan pentingnya bukan “berapa murah sekarang?” Melainkan: siapa yang masih menjual, siapa yang mulai membeli, dan apakah pembenahan pasar cukup meyakinkan untuk menahan arus keluar?

Hingga 31 Oktober 2026, jawaban itu belum tuntas. Koreksi 14,91% dalam sepekan hingga 16 Oktober membawa indeks ke 5.185,11. Pemicu utamanya adalah konsultasi MSCI yang mengusulkan perubahan status Indonesia dari Emerging Market langsung menjadi Standalone Market. Itu masih usulan, bukan keputusan final.

Pasar sedang menghitung risiko yang berbeda

MSCI menyoroti transparansi kepemilikan, kejelasan saham yang benar-benar beredar di publik, dan kualitas pembentukan harga. Free float adalah bagian saham yang tersedia untuk diperdagangkan masyarakat; angka kepemilikan publik di atas kertas belum tentu berarti sahamnya aktif beredar.

Jika status berubah, dana yang mengikuti indeks global kemungkinan perlu menyesuaikan portofolio. Namun besarnya arus keluar belum bisa dipastikan sekarang. Konsultasi masih dibuka sampai 30 April 2027, sedangkan keputusan dijadwalkan paling lambat 30 Juni 2027. Sebelum itu, manajer dana aktif pun dapat bergerak lebih dulu—membuat tekanan datang bertahap, bukan hanya pada hari keputusan.

Angka valuasi memberi bantalan, bukan kepastian

Pada data dengan cut-off 19 Oktober, P/E IHSG ke depan sekitar 8,4 kali, turun sekitar 43% sejak awal tahun dan berada di kisaran 3,5 standar deviasi di bawah rerata historis. P/E membandingkan harga dengan perkiraan laba; semakin rendah, semakin murah harga relatif terhadap laba yang diproyeksikan. Tetapi proyeksi laba dapat berubah dan tidak semua emiten punya kualitas yang sama.

Diskon besar memang menarik bagi investor yang punya horizon panjang. Namun pasar tidak selalu berhenti turun saat valuasi terlihat murah. Seperti rumah di kawasan rawan banjir, harga murah belum cukup—pembeli ingin melihat saluran airnya berfungsi. Untuk IHSG, saluran itu adalah arus jual yang mereda, rupiah yang lebih stabil, dan reformasi yang betul-betul diterapkan.

Risiko arus keluar jangan dibaca sebagai angka pasti

Perkiraan penjualan pasif dalam skenario Standalone berada di US$2,5–6 miliar. Dengan kemungkinan penjualan aktif, satu analisis memperkirakan rentang gabungan US$4,3–13,1 miliar, dengan skenario dasar US$7,5 miliar. Rentang lebar ini menunjukkan ketidakpastian, bukan tagihan yang pasti akan dibayar pasar.

Empat bank besar menyumbang sekitar Rp67 triliun penjualan bersih asing sejak awal tahun pada data laporan 21 Oktober—sekitar 61% dari total penjualan asing. Konsentrasi itu membuat saham bank besar sensitif terhadap perubahan alokasi dana global, sekalipun kondisi bisnis masing-masing bank tidak mendadak berubah seburuk harga sahamnya.

Investor domestik dapat menjadi penyeimbang, tetapi kapasitasnya tidak tak terbatas. Perkiraan tambahan 1 poin persentase alokasi ekuitas institusi lokal setara sekitar US$1,1 miliar daya beli. Menyamai skenario dasar US$7,5 miliar membutuhkan kenaikan sekitar 7 poin persentase. Relokasi sebesar itu memerlukan waktu dan keputusan investasi, bukan sekadar imbauan.

Reformasi: yang dihitung adalah pelaksanaan

OJK dan BEI menyampaikan rencana pengungkapan afiliasi bagi pemegang saham dengan kepemilikan minimal 1% dan pengecualian sekitar 80 saham berkonsentrasi tinggi dari perhitungan IHSG. Saham-saham itu tetap tercatat dan diperdagangkan. Bobot sekitar 18% yang dikaitkan dengan kelompok tersebut juga tidak berarti indeks otomatis turun 18%; komposisi indeks akan dihitung ulang.

Pengungkapan 1% pun belum otomatis membuka siapa pemilik manfaat terakhir, karena tahap awal mengandalkan deklarasi emiten. Pasar akan menilai apakah data dapat diverifikasi, pelanggaran ditindak, dan aturan diterapkan merata. Pengumuman adalah awal pekerjaan, bukan hasil akhirnya.

Tanda bottom yang lebih masuk akal

Bottom jarang terlihat jelas saat sedang terjadi. Konfirmasi yang lebih berguna muncul ketika tekanan jual asing mengecil, indeks mampu bertahan saat ada kabar buruk, transaksi tetap likuid, rupiah tidak terus melemah, dan investor lokal menyerap pasokan secara konsisten. Satu hari rebound saja belum cukup untuk menyebut tren berbalik.

Target 6.000 pada akhir 2026 dan 7.600 pada akhir 2027 yang muncul dalam riset adalah proyeksi, bukan janji dan bukan penanda bahwa bottom sudah lewat. Keduanya bergantung pada asumsi arus dana dan pemulihan kepercayaan. Bila reformasi tidak menghasilkan perubahan yang bisa diukur, diskon valuasi dapat bertahan lebih lama.

Karena itu, pendekatan yang lebih sehat adalah masuk bertahap, menjaga kas, dan memilah emiten dari neraca, arus kas, serta daya tahan labanya. IHSG mungkin sudah murah secara historis, tetapi dasar yang kokoh baru terbentuk ketika penjual mulai kehabisan tenaga dan pembeli punya alasan untuk bertahan.