LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

ERP S&P 500 Minus 1,5%: Terendah Sejak 2009

Spread earnings yield S&P 500 dan yield US 10Y menyentuh -1,5 poin persentase, penurunan 5 tahun terbesar sejak 1970-an. Valuasi saham kian mahal.


Key Takeaways

  • Spread tahunan antara earnings yield S&P 500 dan yield US Treasury 10-Year turun ke -1,5 poin persentase, level terendah sejak 2009.
  • Selisih yield ini sudah turun 440 basis poin sejak 2022, penurunan lima tahunan terbesar sejak era 1970-an.
  • Equity risk premium S&P 500 berada di jalur mencatat pembacaan negatif selama tiga tahun berturut-turut, streak terpanjang sejak 2002.
  • Imbal hasil US Treasury 10-Year kini melampaui earnings yield S&P 500, menandakan valuasi saham yang sudah teregang ketat.

Pasar saham Amerika Serikat berada di situasi yang tidak biasa per 13 Oktober 2026. Selisih tahunan antara earnings yield indeks S&P 500 dan yield US Treasury 10-Year turun ke minus 1,5 poin persentase, posisi terendah sejak 2009. Sejak 2022, selisih yield ini sudah turun 440 basis poin, menjadikannya penurunan lima tahunan paling dalam sejak era 1970-an.

Kenapa Investor Rela Menerima Yield Saham Lebih Rendah dari Obligasi

Secara teori dasar pasar modal, memegang saham menanggung risiko lebih besar daripada memegang obligasi pemerintah. Karena risiko tambahan tersebut, investor biasanya meminta tambahan imbal hasil di atas surat utang negara, yang diukur lewat equity risk premium (ERP).

Kondisi saat ini justru terbalik. Surat utang US Treasury 10-Year secara teoritis memiliki risiko lebih rendah, namun kini memberikan yield yang lebih tinggi daripada earnings yield S&P 500. Dengan kata lain, investor menerima return yang lebih kecil dari saham dibandingkan obligasi, meski harus menanggung risiko fluktuasi ekuitas. Catatan ini menempatkan ERP tahunan S&P 500 di jalur zona negatif selama tiga tahun beruntun, streak terpanjang sejak 2002.

Valuasi Saham Teregang dan Selera Risiko Pasar

Secara historis, ERP yang berada di teritori negatif selalu berjalan beriringan dengan dua kondisi: selera risiko yang sangat tinggi dan valuasi saham yang teregang ketat (stretched valuations). Pembeli saham tampak tidak menghiraukan alternatif return dari pasar obligasi karena bertaruh pada pertumbuhan laba korporasi di masa depan.

Masalahnya, margin toleransi pasar menjadi sangat tipis. Ketika yield obligasi bebas risiko gagal bayar berada di atas yield saham, premi risiko menjadi hilang. Setiap gangguan terhadap pertumbuhan laba emiten berpotensi memicu penyesuaian harga, terutama pada saham-saham dengan kelipatan valuasi tinggi yang tidak lagi memberi kompensasi yield memadai.

Kuartal Keempat Menguji Ketahanan Valuasi

Pergerakan spread ini menyiapkan panggung untuk kuartal keempat yang penuh ujian. Jika pertumbuhan laba emiten mampu melompat melampaui ekspektasi pasar, valuasi saham yang mahal ini perlahan bisa masuk akal dan earnings yield akan naik mendekati yield obligasi. Sebaliknya, jika pertumbuhan laba melambat saat yield US 10-Year bertahan tinggi, harga saham berisiko mengalami tekanan jual karena investor rasional akan memindahkan modal ke obligasi pemerintah yang menawarkan return lebih pasti tanpa risiko ekuitas.