LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

IHSG Sentuh 6.071: Asing Keluar Rp81 T, Apa Penopangnya?

IHSG tertekan ke 6.071 di tengah net sell asing Rp81 triliun dan spread yield obligasi yang menyempit. Dividen AALI dan GEMS jadi bantalan defensif.


Key Takeaways

  • IHSG turun ke level 6.071,14 dengan foreign net sell harian Rp1,61 triliun, memperlebar arus keluar modal asing sepanjang tahun berjalan menjadi Rp81,04 triliun.
  • Selisih imbal hasil obligasi 10 tahun Indonesia (7,14%) dan US Treasury (5,29%) menyempit ke 185 bps, menekan rupiah yang tertahan di Rp17.870 per dolar AS.
  • Sektor teknologi terkoreksi 2,76%, sementara arus kas emiten komoditas dibagikan ke pemegang saham lewat dividen interim jumbo AALI Rp233 per saham dan GEMS Rp3,59 triliun.

IHSG ditutup turun 0,83% ke posisi 6.071,14 pada akhir perdagangan September 2026. Penurunan harian ini memperlebar koreksi indeks menjadi 29,79% secara year-to-date. Tekanan paling nyata terlihat dari aksi jual pemodal non-residen yang membukukan foreign net sell harian Rp1,61 triliun, membawa total dana asing yang keluar dari bursa domestik mencapai Rp81,04 triliun sepanjang 2026.

Spread Yield 185 Bps Mengunci Tekanan Rupiah

Pemicu keengganan modal asing bertahan di pasar ekuitas domestik bermuara pada pasar obligasi. Yield US Treasury tenor 10 tahun kini bertengger di 5,29%, sementara yield SBN 10 tahun berada di level 7,14%. Selisih kedua surat utang ini hanya tersisa 185 basis poin. Dengan premi risiko yang serapat itu, investor global cenderung menahan diri masuk ke pasar berkembang, terlebih nilai tukar rupiah masih berada di Rp17.870 per dolar AS.

Tekanan suku bunga global sulit mereda dalam waktu dekat karena harga minyak mentah Brent naik ke US$98,03 per barel (+61,1% YTD). Kenaikan energi ini langsung mendorong inflasi tahunan Jerman naik ke 3,3%, melampaui estimasi pasar dan menjauhkan peluang pelonggaran moneter di Eropa maupun Amerika Serikat.

Teknologi Terkoreksi, Emiten Komoditas Guyur Dividen

Beban kenaikan biaya dana paling dirasakan oleh sektor berorientasi pertumbuhan. Sektor teknologi melemah 2,76% dan sektor konsumen non-primer turun 2,36%. Saham yang valuasinya bergantung pada proyeksi laba masa depan kehilangan daya tarik saat suku bunga The Fed bertahan di 4,00% dan BI Rate di 5,75%.

Di sisi lain, emiten berbasis komoditas merespons dengan membagikan likuiditas langsung ke pemegang saham. GEMS menetapkan dividen interim kedua senilai US$225 juta atau setara Rp3,59 triliun, ditopang harga batu bara yang stabil di US$146,50 per ton. AALI juga membagikan dividen interim Rp233 per saham senilai Rp448,48 miliar, dividen tengah tahunan tertingginya sejak 2018. Tanggal cum dividend kedua emiten ini jatuh pada 8 Oktober 2026. Sementara itu, TOWR memilih aksi buyback hingga 0,5% modal disetor untuk menahan penurunan harga sahamnya di pasar.

Yang Menentukan Arah IHSG Menguji Support 6.000

IHSG kini bergerak menguji area support psikologis 6.000 dengan batas atas di 6.200. Daya tahan level ini akan diuji oleh rilis inflasi domestik yang diproyeksikan naik ke 3,3% serta data ketenagakerjaan AS akhir pekan. Selama selisih yield obligasi tidak melebar kembali ke atas 200 bps, aksi jual asing pada saham likuid seperti BBCA dan BMRI masih akan membatasi ruang kenaikan indeks.