LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Inflasi AS di Atas 2% Selama 60 Bulan: Rekor Sejak 1980

Inflasi CPI AS bertahan di atas target 2% selama 60 bulan beruntun. Kondisi ini belum pernah terjadi sejak 1980-an saat bunga KPR berada di atas 10%.


Key Takeaways

  • Inflasi CPI AS bertahan di atas target 2% The Fed selama 60 bulan beruntun, rentang waktu terpanjang dalam empat dekade terakhir.
  • Durasi inflasi di atas target selama lima tahun ini terakhir terjadi pada era 1980-an, saat bunga pinjaman rumah (mortgage rates) berada di atas 10%.
  • Penurunan daya beli dolar AS mencatatkan rekor historis, memperlebar jurang pemisah antara pemilik aset dan pemegang uang tunai.

Inflasi CPI Amerika Serikat resmi mencatatkan 60 bulan beruntun berada di atas target 2% The Fed. Lima tahun penuh tanpa sekalipun inflasi tahunan menyentuh target acuan bank sentral. Rentang waktu inflasi persisten selama ini belum pernah terlihat lagi sejak era 1980-an, masa ketika suku bunga KPR (mortgage rates) bertahan di atas 10%.

Mengulang Durasi 1980-an Tanpa Bunga KPR 10%

Ketika inflasi bertahan di atas target selama lima tahun berturut-turut pada 1980-an, pengetatan moneter kala itu mendorong bunga pinjaman perumahan melampaui level 10%. Catatan durasi inflasi tinggi kini kembali menyamai rekor empat dekade lalu, tetapi beban pembiayaan utang saat ini bekerja dalam struktur perbankan yang berbeda.

Inflasi yang tidak kunjung turun ke target 2% memicu penurunan daya beli dolar AS dalam skala historis. Inflasi yang berjalan bertahun-tahun memotong nilai riil uang secara konstan. Tabungan tunai dan penerima upah tetap kehilangan daya beli setiap tahun, sementara harga barang kebutuhan pokok bertahan di tingkat harga baru yang lebih tinggi.

Jurang Lebar Pemilik Aset dan Penerima Upah Tunai

Penurunan daya beli dolar AS menjadi penggerak utama melebarnya jurang kekayaan. Pihak yang sepenuhnya bergantung pada pendapatan tunai dan upah bulanan merasakan pukulan langsung karena kenaikan gaji jarang bisa mengejar laju kumulatif inflasi lima tahun.

Sebaliknya, pemilik aset riil dan modal mendapatkan proteksi alami. Saat nilai riil uang tergerus, harga nominal aset produktif seperti saham dan properti ikut naik menyesuaikan inflasi. Pemilik modal berhasil mempertahankan nilai kekayaannya, sementara masyarakat yang hanya memegang uang tunai kehilangan porsi daya beli dalam jumlah besar.

Jalur Suku Bunga dan Arah Valuasi Pasar

Jika inflasi CPI terus bertahan di atas 2%, maka The Fed tidak punya ruang untuk menurunkan suku bunga acuan ke level rendah. Biaya pinjaman yang tertahan tinggi akan menekan valuasi saham dengan P/E ratio mahal dan membebani emiten yang memiliki beban utang besar. Sebaliknya, jika laju inflasi akhirnya terhenti dan turun ke bawah 2%, maka The Fed memiliki ruang untuk melonggarkan likuiditas, yang membuka jalan bagi aliran modal masuk kembali ke pasar obligasi dan bursa saham negara berkembang.

Bagi pasar modal Indonesia, inflasi AS yang kaku menjaga yield obligasi global tetap tinggi. Selama daya beli dolar terus tertekan namun suku bunganya bertahan tinggi untuk menahan inflasi, pasar saham cenderung memberi premi lebih pada emiten dengan neraca kas bersih (net cash) dan kemampuan menetapkan harga (pricing power) yang kuat.

Fokus ke depan bertumpu pada rilis data inflasi bulanan AS berikutnya, untuk melihat apakah rekor 60 bulan ini akhirnya terputus atau justru berlanjut.