LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Inflasi AS September Capai 3,7%, Bunga The Fed Sulit Turun

Inflasi AS September naik ke 3,7% dan Core CPI ke 2,6%, melampaui konsensus. Simak analisa dampaknya terhadap yield obligasi, IHSG, dan valuasi saham.


Key Takeaways

  • Indeks Harga Konsumen (CPI) AS September naik 3,7% secara tahunan (YoY), lebih tinggi dari konsensus pasar di level 3,6%.
  • Core CPI menyentuh 2,6% YoY di atas proyeksi 2,5%, mencatatkan angka inflasi tertinggi ketiga sejak September 2023.
  • Ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed kembali naik di pasar berjangka, mendorong yield US Treasury bertahan di level tinggi lebih lama.
  • Kekuatan indeks dolar AS menekan nilai tukar rupiah dan memicu potensi foreign outflow dari pasar saham domestik.

Data inflasi Amerika Serikat untuk September resmi berada di angka 3,7% YoY, melampaui proyeksi konsensus yang mematok angka 3,6%. Pada saat yang sama, Core CPI atau inflasi inti naik ke level 2,6% YoY, juga berada di atas ekspektasi pasar yang berada di 2,5%. Rilis data ini menandai pembacaan inflasi tertinggi ketiga sejak September 2023.

Reaksi pasar langsung terlihat pada pergeseran ekspektasi suku bunga acuan. Pelaku pasar yang sebelumnya bertaruh bahwa The Fed akan segera melunakkan arah kebijakan moneter kini harus menghitung ulang posisi mereka. Angka 3,7% ini menegaskan satu hal: inflasi di tingkat konsumen masih menolak turun ke target 2% yang dipatok bank sentral.

Inflasi Inti Membuktikan Penurunan Harga Masih Alot

Membedah rilis data kali ini mengharuskan kita melihat lebih dalam ke angka Core CPI. Inflasi umum atau headline memang kerap dipengaruhi oleh fluktuasi harga bensin dan pangan mentah. Namun, ketika inflasi inti yang sudah membuang komponen energi dan makanan ikut naik ke 2,6%, masalahnya bergeser ke sektor jasa, biaya sewa tempat tinggal, serta upah tenaga kerja.

Kenaikan inflasi inti ini menjadi alasan kenapa pasar obligasi langsung bereaksi defensif. Tekanan harga di sektor jasa bersifat jauh lebih lengket daripada harga komoditas. Sekali tarif sewa atau upah pekerja naik, pemilik bisnis jarang sekali menurunkan harga jual mereka kembali ke level semula.

Ibarat Menurunkan Berat Badan di Fase Terakhir

Memahami perjalanan inflasi dari puncak 9% ke level sekarang bisa diibaratkan seperti program penurunan berat badan. Menurunkan bobot dari 100 kilogram ke 80 kilogram relatif cepat karena tubuh baru mulai membuang kelebihan air dan lemak awal. Namun, menurunkan bobot dari 75 kilogram menuju target ideal 70 kilogram membutuhkan usaha yang jauh lebih berat dan waktu yang jauh lebih panjang.

The Fed kini berada di fase pembakaran lemak membandel tersebut. Membawa inflasi dari level 9% ke kisaran 3,7% terbantu oleh normalisasi rantai pasok global dan penurunan harga minyak dari puncaknya. Tetapi, memangkas sisa 1,7% menuju target resmi 2% terbukti jauh lebih rumit ketika belanja konsumen domestik AS masih belum melambat.

Yield Treasury Naik, Valuasi Saham Mulai Diuji

Konsekuensi langsung dari rilis data ini terasa pada pasar surat utang. Yield US Treasury tenor 10 tahun kembali terdorong naik karena pasar mulai mengantisipasi skenario suku bunga tinggi yang bertahan lebih lama (higher for longer). Peluang pengetatan moneter lanjutan kini kembali diperhitungkan dalam kurva suku bunga.

Bagi pasar modal, kenaikan yield obligasi bebas risiko (risk-free rate) secara otomatis menaikkan cost of capital dan discount rate dalam perhitungan valuasi saham. Saham-saham dengan valuasi mahal yang mengandalkan proyeksi pertumbuhan laba di masa depan, seperti sektor teknologi, menjadi kelompok yang paling rentan mengalami koreksi harga.

Jalurnya ke Pasar Domestik Lewat Rupiah dan Arus Dana Asing

Efek dari rilis data inflasi AS ini menjalar ke bursa saham Indonesia lewat pergerakan valuta asing. Kenaikan yield obligasi AS membuat indeks dolar AS (DXY) menguat, yang pada gilirannya menekan pergerakan rupiah. Pelemahan mata uang domestik kerap memicu aksi jual pemodal asing di IHSG untuk mengamankan keuntungan portofolio mereka dalam denominasi dolar.

Kondisi ini membagi emiten di bursa ke dalam dua kelompok yang berbeda nasib. Emiten manufaktur dan farmasi yang mengandalkan bahan baku impor serta perusahaan dengan porsi utang dolar tinggi akan menghadapi tekanan ganda pada margin laba bersih mereka. Sebaliknya, emiten komoditas berorientasi ekspor yang menerima pendapatan dalam dolar AS justru mendapatkan bantalan alami dari pelemahan kurs.

Sektor Perbankan Jadi Penopang Ketahanan Indeks

Di tengah tekanan eksternal ini, sektor perbankan dengan rasio dana murah (CASA) yang solid tetap menjadi penopang utama IHSG. Bank bermodal besar memiliki kemampuan mengelola margin bunga bersih (NIM) lebih baik saat suku bunga acuan bertahan di level tinggi, meski pertumbuhan penyaluran kredit baru berpotensi melambat jika likuiditas industri mengetat.

Fokus perhatian pasar sekarang beralih ke data pasar tenaga kerja dan upah per jam di Amerika Serikat. Selama angka penyerapan tenaga kerja masih ketat dan upah terus bertumbuh, inflasi akan sulit turun lebih jauh, dan tekanan terhadap aset berisiko di pasar berkembang masih akan berlangsung.