Inflasi Jerman turun ke 2,8% pada Oktober dan inti ke 2,1%, tertahan berakhirnya pajak bahan bakar di akhir tahun serta risiko energi dari Selat Hormuz.
Key Takeaways
- Inflasi tahunan Jerman turun ke 2,8% pada Oktober dari 3,3% pada bulan sebelumnya, ditopang pemotongan pajak bahan bakar sementara.
- Inflasi inti turun ke 2,1%, level terendah sejak 2021, terbantu oleh penurunan harga sektor jasa.
- Insentif pemotongan pajak bahan bakar berakhir pada akhir tahun, mempersempit laju penurunan inflasi lanjutan.
- Ketegangan di Selat Hormuz menjaga risiko lonjakan harga energi global tetap terbuka.
Inflasi Jerman turun ke 2,8% pada Oktober dari 3,3% pada bulan sebelumnya. Penurunan ini membuka ruang bagi pelonggaran moneter di kawasan Eropa, terutama karena inflasi inti menyusut ke 2,1%. Angka tersebut menjadi level terendah sejak 2021, dengan penurunan harga sektor jasa yang menahan laju kenaikan harga secara umum.
Penurunan Harga Jasa Menahan Inflasi Inti
Penurunan inflasi kali ini terbantu oleh harga jasa yang mulai melandai. Sektor jasa sebelumnya menjadi komponen paling kaku untuk turun. Ketika inflasi inti mampu menyentuh level 2,1%, tekanan dari permintaan domestik terlihat mereda tanpa memicu kenaikan upah yang berlebihan.
Meski demikian, penurunan inflasi utama dari 3,3% ke 2,8% bukan sepenuhnya hasil pendinginan harga yang alami. Sebagian besar penurunan disokong oleh pemotongan pajak bahan bakar yang berstatus sementara. Kebijakan ini memotong harga bahan bakar secara administratif di tingkat konsumen.
Pajak Bahan Bakar Berakhir Saat Selat Hormuz Memanas
Penopang penurunan inflasi tersebut memiliki batas waktu yang jelas. Pemotongan pajak bahan bakar akan berakhir pada tutup tahun. Begitu aturan ini selesai di akhir tahun, harga bahan bakar di pompa bensin berpotensi kembali naik dan langsung menambah beban pada angka inflasi umum periode berikutnya.
Kondisi ini berhadapan dengan risiko pasokan minyak mentah. Ketegangan di sekitar Selat Hormuz menjaga risiko lonjakan harga energi global tetap terbuka. Selat Hormuz adalah jalur perlintasan utama pasokan energi dunia. Gangguan logistik di wilayah tersebut dapat memicu kenaikan harga energi secara mendadak ke pasar Eropa.
Jika ketegangan di Selat Hormuz mereda dan harga energi dunia tetap stabil saat pemotongan pajak berakhir, maka laju inflasi Jerman berpeluang bertahan mendekati target tanpa menekan daya beli. Sebaliknya, jika gangguan pasokan energi terjadi di Selat Hormuz bertepatan dengan berakhirnya insentif pajak di akhir tahun, maka inflasi umum akan kembali naik dan membatasi ruang pemangkasan suku bunga acuan.
Ujian sebenarnya bagi ekonomi Jerman ada pada ketahanan inflasi inti di level 2,1% saat perlindungan pajak dilepas. Arah kebijakan moneter ke depan tidak hanya ditentukan oleh angka 2,8% hari ini, melainkan oleh perkembangan situasi fisik di Selat Hormuz menjelang pergantian tahun.