LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Inflasi Tokyo Naik 2,7%: BOJ Didesak Naikkan Bunga

Inflasi inti Tokyo naik ke 2,7% di September 2024. Simak efek potensi kenaikan suku bunga BOJ dan yen carry trade terhadap pasar saham IHSG.


Key Takeaways

  • Inflasi inti Tokyo naik ke 2,7% secara tahunan (YoY) pada September 2024 dari 1,8% di Agustus, melampaui perkiraan pasar di 2,3%.
  • Tekanan harga meluas ke sektor riil: inflasi sektor jasa naik 2,3% dan tarif penginapan berbalik arah ke 4,6% setelah sebelumnya minus 1,4%.
  • Kenaikan inflasi terjadi saat subsidi energi pemerintah masih menahan angka indeks sebesar 0,4%, menandakan tekanan harga riil mendekati 3,1%.
  • Rilis data ini memperbesar peluang kenaikan suku bunga lanjutan oleh Bank of Japan (BOJ), yang berpotensi memicu pelepasan yen carry trade dan menekan arus dana asing di bursa saham negara berkembang.

Inflasi inti wilayah Tokyo tercatat 2,7% YoY pada September 2024, naik dari posisi 1,8% pada Agustus. Realisasi ini berada di atas konsensus yang memperkirakan kenaikan 2,3%. Angka ini juga menjadi catatan pertama inflasi Tokyo menyentuh level 2% atau lebih sejak Januari tahun ini.

Sebagai barometer awal bagi tren inflasi nasional Jepang, data Tokyo memberi pesan jelas ke pasar: tekanan harga di ekonomi terbesar keempat dunia ini tidak lagi semata-mata dipicu oleh lonjakan harga komoditas impor yang bersifat sementara, melainkan mulai berakar pada kenaikan harga di tingkat konsumen domestik.

Bukan Cuma Makanan, Inflasi Sektor Jasa Ikut Naik

Jika dibedah lebih dalam, kenaikan harga kali ini memiliki struktur yang jauh lebih kuat dibanding bulan-bulan sebelumnya. Indeks inflasi inti di luar energi dan makanan segar bergerak naik ke level 3,0% dari 2,0% pada Agustus. Makanan olahan mencatat kenaikan harga 3,6%, dengan 4.965 item makanan dan minuman menaikkan harga jual bulan lalu. Jumlah barang yang mengalami kenaikan harga ini naik lebih dari dua kali lipat dibanding periode yang sama tahun lalu.

Komponen yang paling mencuri perhatian analis pasar modal adalah sektor jasa. Harga jasa naik 2,3%, mencatat laju terkuatnya sejak November 2023. Tarif penginapan berbalik arah cukup tajam dari posisi kontraksi -1,4% menjadi tumbuh 4,6%. Kenaikan pada sektor jasa merupakan sinyal bahwa dunia usaha di Jepang mulai meneruskan kenaikan biaya upah tenaga kerja langsung ke harga akhir konsumen.

Kualitas angka inflasi 2,7% ini menjadi kian berbobot karena subsidi tarif energi dari pemerintah Jepang masih berjalan. Subsidi tersebut menahan laju inflasi umum sekitar 0,4 poin persentase. Tanpa intervensi subsidi tersebut, laju inflasi riil di tingkat dasar sebenarnya berada di kisaran 3,1%.

Uang Murah Tokyo Mulai Menghilang

Untuk memahami mengapa data inflasi dari Tokyo memicu perhitungan ulang portofolio global, bayangkan perumpamaan sederhana ini. Seorang pengusaha meminjam uang dari tetangganya yang mematok bunga hampir 0%. Uang pinjaman itu ia bawa ke kota lain untuk dibelikan surat berharga atau saham yang memberi imbal hasil 6% hingga 7%. Selama bunga pinjaman di tetangga tetap nol dan nilai tukar uangnya stabil, pengusaha tersebut menikmati keuntungan bersih dari selisih bunga.

Praktik ini dikenal di pasar modal sebagai yen carry trade. Dana triliunan dolar dipinjam dalam mata uang Yen yang murah untuk dibelanjakan ke aset berimbal hasil lebih tinggi di seluruh dunia, mulai dari obligasi Amerika Serikat hingga saham-saham di pasar berkembang.

Kondisi ini berubah drastis ketika bank sentral Jepang menaikkan suku bunga. Ketika suku bunga di Tokyo naik dan nilai tukar Yen menguat, biaya cicilan pinjaman membengkak. Pengusaha tersebut mau tidak mau harus segera menjual aset investasinya di luar negeri untuk mengembalikan pinjaman Yen sebelum beban bunganya semakin mahal.

Data inflasi September ini menempatkan Bank of Japan (BOJ) dalam posisi yang semakin sulit untuk mempertahankan suku bunga rendah pada pertemuan kebijakan moneter 29-30 Oktober mendatang. Bank sentral kini memiliki dasar data yang sangat kuat untuk melanjutkan pengetatan suku bunga acuan.

Efek Penguatan Yen ke Aliran Dana Asing di IHSG

Bagi pasar modal Indonesia, arah kebijakan BOJ berdampak langsung melalui likuiditas global dan pergerakan dana asing (foreign flow). Saat BOJ menaikkan suku bunga acuan, selisih imbal hasil antara Yen dan aset negara berkembang menyempit. Investor global yang memanfaatkan leverage Yen cenderung memangkas posisi risiko portofolio mereka secara serentak.

Saham-saham berkapitalisasi besar di IHSG yang menjadi tempat parkir dana asing, khususnya emiten perbankan lapis satu (BBCA, BBRI, BMRI, BBNI), biasanya menjadi aset yang paling likuid untuk dicairkan oleh pengelola dana global saat proses penutupan posisi carry trade terjadi. Di pasar obligasi, yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun juga berpotensi menghadapi tekanan naik jika dana asing memilih keluar dan kembali ke pasar uang Jepang.

Sebaliknya, penguatan Yen memberi keuntungan bagi emiten manufaktur atau farmasi domestik yang mengimpor bahan baku dalam denominasi Yen, serta emiten yang memiliki kewajiban utang berdenominasi mata uang Jepang karena beban pembayaran pokok dan bunga pinjaman mereka menjadi lebih mahal saat dikonversi ke Rupiah.

Dua Indikator Penentu Sebelum Akhir Oktober

Arah pergerakan pasar saham hingga akhir bulan akan ditentukan oleh rilis data inflasi nasional Jepang dan pergerakan pasangan mata uang USD/JPY. Jika data nasional mengonfirmasi tren Tokyo dan Yen menguat menembus level 140 per dolar AS, pasar saham Asia termasuk IHSG berpotensi menghadapi fase konsolidasi seiring berkurangnya likuiditas uang murah dari Tokyo.