Investasi properti China turun 21% YoY hingga September 2026. Penurunan bulanan beruntun sejak 2022 ini jauh lebih dalam dibanding krisis 2008.
Key Takeaways
- Investasi properti China turun 21% YoY pada sembilan bulan pertama 2026, rekor penurunan terdalam sepanjang sejarah pencatatan untuk periode ini.
- Penurunan makin melebar dari posisi minus 20% YoY pada delapan bulan pertama 2026, serta melampaui rekor minus 16% YoY saat pandemi 2020.
- Kontraksi bulanan beruntun kini berjalan tanpa jeda sejak 2022, menjadi rentetan penurunan terpanjang dalam catatan pasar modal.
- Berbeda dengan krisis 2008 di mana investasi properti China masih bertumbuh dan tidak pernah berada di bawah plus 1% YoY.
Investasi properti China turun 21% YoY pada sembilan bulan pertama 2026. Angka ini menandai rekor kontraksi terdalam sepanjang sejarah pencatatan untuk periode sembilan bulan pertama, sekaligus memperlihatkan perlambatan yang terus memburuk dari posisi minus 20% YoY pada delapan bulan pertama 2026.
Lebih Rendah dari Pandemi 2020 dan Krisis 2008
Tekanan di sektor properti China saat ini melampaui dua periode krisis besar sebelumnya. Saat pandemi 2020 menghentikan sebagian besar aktivitas fisik, kontraksi investasi properti tertahan di minus 16% YoY. Posisi tahun 2026 mencatat penurunan yang lima persen poin lebih dalam.
Kondisinya bahkan berbanding terbalik dengan krisis finansial global 2008. Pada masa itu, pertumbuhan investasi properti di China tidak pernah turun ke bawah plus 1% YoY. Sekarang, sektor properti China mengalami kontraksi bulanan tanpa henti sejak 2022. Ini adalah rentetan pelemahan bulanan terpanjang sepanjang data ini dihimpun.
Imbas ke Pasar Komoditas dan Bursa Regional
Sektor properti adalah konsumen utama komoditas industri. Ketika investasi properti turun 21% YoY, kebutuhan material dasar konstruksi seperti baja dan bijih besi menyusut secara langsung. Pengembang menahan proyek baru, memperketat likuiditas, dan memangkas pembelian bahan mentah.
Kondisi ini menjalar ke negara-negara berkembang pengekspor bahan baku. Penurunan permintaan dari China menekan penerimaan ekspor dan memperlemah daya tahan mata uang pasar berkembang. Di pasar saham, emiten sektor tambang dan material dasar yang bergantung pada permintaan China menghadapi risiko penurunan pendapatan dan tekanan valuasi.
Dua Jalur Menuju Titik Balik Sektor Properti
Jika dukungan pemerintah China mampu mengalir langsung untuk menopang likuiditas pengembang dan merampungkan proyek yang tertunda, maka laju penurunan investasi properti berpeluang melambat dan memberi bantalan bagi harga komoditas tambang. Sebaliknya, jika bantuan kebijakan hanya berkutat pada pelonggaran moneter tanpa perbaikan penjualan rumah, maka kontraksi investasi properti berpeluang berlanjut dan membebani bursa saham regional lebih lama.
Kunci yang menentukan ke depan adalah apakah rentetan penurunan bulanan yang berjalan sejak 2022 ini mulai menunjukkan tanda pembalikan arah, atau justru terus mencetak rekor kontraksi baru.