Investor Jepang mencatat penjualan bersih obligasi AS US$28 miliar di paruh pertama. Kenaikan yield lokal dan mahalnya biaya hedging jadi pemicu utama.
Key Takeaways
- Investor institusi Jepang mencatatkan penjualan bersih (net sell) obligasi pemerintah AS tenor panjang sebesar ¥4,5 triliun atau setara US$28 miliar pada paruh pertama tahun ini.
- Aksi jual ini merupakan posisi net selling semesteran pertama dari Tokyo sejak 2022, mengakhiri tren beli konsisten selama dua tahun terakhir.
- Tingginya biaya lindung nilai mata uang (currency hedging cost) membuat imbal hasil bersih surat utang AS menjadi negatif bagi investor Jepang.
- Normalisasi suku bunga oleh Bank of Japan (BOJ) mengangkat imbal hasil obligasi domestik, memicu pemulangan dana kembali ke pasar dalam negeri Jepang.
Arus keluar modal dari surat utang pemerintah Amerika Serikat (US Treasury) bukan lagi sekadar spekulasi. Data paruh pertama tahun ini mencatat investor asal Jepang melepas kepemilikan bersih obligasi pemerintah AS jangka panjang senilai ¥4,5 triliun, atau sekitar US$28 miliar. Angka ini menandai penjualan bersih semesteran pertama yang dilakukan pemodal Jepang sejak 2022.
Sebagai pemilik asing terbesar atas surat utang pemerintah AS dengan total kepemilikan melebihi US$1,1 triliun, pergeseran portofolio pemodal Jepang ini membawa konsekuensi langsung ke pasar keuangan global, termasuk ke pasar modal Indonesia.
Biaya Lindung Nilai Menghapus Keuntungan Bunga
Mengapa pembeli terbesar obligasi AS justru berbalik menjual? Jawabannya bukan karena mereka meragukan kemampuan bayar pemerintah AS, melainkan karena hitungan matematika lindung nilai (currency hedging) yang sudah tidak masuk akal.
Bayangkan Anda pedagang beras di Jakarta yang melihat harga jual beras di Surabaya lebih mahal 4%. Tertarik dengan selisih itu, Anda mengirim beras ke sana. Namun, biaya sewa truk pendingin dan asuransi jalan ternyata memakan 4,5%. Bukannya untung, Anda justru merugi 0,5% setiap kali mengirim barang. Begitulah kondisi yang dihadapi dana pensiun dan perusahaan asuransi jiwa di Tokyo hari ini.
Secara kasat mata, kupon obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun terlihat menarik di kisaran 4,2% hingga 4,4%. Namun, investor institusi Jepang yang memiliki kewajiban dalam mata uang yen wajib membeli kontrak proteksi nilai tukar agar tidak rugi jika yen menguat terhadap dolar AS. Karena selisih suku bunga acuan antara Federal Reserve dan Bank of Japan masih lebar, biaya kontrak lindung nilai ini berada di atas 5%. Begitu biaya proteksi ini dikurangkan dari kupon yang didapat, imbal hasil bersih (hedged yield) yang dibawa pulang investor Jepang justru berada di wilayah negatif.
Imbal Hasil Domestik Jepang Mulai Menarik Modal Pulang
Selama bertahun-tahun, kebijakan suku bunga minus dari Bank of Japan memaksa pemilik modal lokal di Jepang berburu keuntungan ke luar negeri. Tidak ada pilihan lain saat surat utang pemerintah Jepang (JGB) tidak memberikan imbalan apa pun. Keadaan ini sekarang berubah total.
Langkah BOJ yang mulai menaikkan suku bunga acuan dan mengurangi pembelian obligasi telah mendorong imbal hasil JGB tenor 10 tahun naik melewati level 1%. Bagi pengelola dana pensiun di Tokyo, mengunci imbal hasil 1% hingga 1,3% di pasar lokal jauh lebih aman dan menguntungkan daripada menaruh modal di US Treasury yang memberikan hasil bersih minus setelah dipotong biaya lindung nilai mata uang. Risiko kursnya nol dan modal tetap berada di dalam negeri.
Fenomena ini dikenal sebagai repatriasi modal, di mana likuiditas yang selama bertahun-tahun parkir di luar negeri ditarik pulang karena pasar domestik sudah mampu memberikan imbal hasil yang memadai.
Efek Arus Dana ke Surat Utang dan Saham Indonesia
Ketika pembeli jangkar seperti Jepang mulai menahan diri atau menjual obligasi AS, suplai surat utang di Washington menjadi kurang terserap. Agar surat utang baru tetap laku di pasar lelang, Departemen Keuangan AS harus menawarkan imbal hasil yang tetap tinggi. Kondisi ini menahan yield US Treasury tetap bertahan di level atas.
Bagi pasar modal Indonesia, yield obligasi AS yang enggan turun membatasi gerak Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga acuan secara agresif. BI perlu menjaga selisih imbal hasil (yield spread) antara Surat Berharga Negara (SBN) dan US Treasury tetap cukup lebar agar rupiah tidak tertekan arus modal keluar. Saat suku bunga acuan BI-Rate bertahan tinggi, biaya pinjaman bagi sektor riil dan emiten di bursa ikut tertahan di level tinggi.
Di pasar saham, saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BMRI, BBRI, dan BBNI cenderung lebih mampu bertahan karena memiliki struktur pendanaan dana murah yang tebal. Sebaliknya, emiten dengan rasio utang tinggi dan kebutuhan belanja modal besar akan menghadapi beban bunga pinjaman yang lebih lama berada di level atas, menekan pertumbuhan margin laba bersih mereka.
Yang Menentukan Arah Pasar Berikutnya
Keberlanjutan aksi jual investor Jepang ini bergantung pada dua hal: seberapa cepat The Fed mulai memangkas suku bunga acuan dan seberapa agresif BOJ menaikkan suku bunganya. Jika The Fed mulai memangkas bunga secara berkala, selisih suku bunga AS-Jepang akan menyempit, memangkas biaya lindung nilai valas dan berpotensi meredam aksi jual modal Jepang.
Namun jika pemangkasan bunga AS berjalan lambat sementara imbal hasil obligasi domestik Jepang terus naik, aliran modal keluar dari US Treasury akan berlanjut. Kondisi ini akan menjaga biaya modal global tetap mahal lebih lama, menuntut pemodal di bursa saham domestik untuk lebih selektif memilih emiten dengan neraca kas bersih (net cash) yang kuat dan rasio utang yang rendah.