Pasar saham China tertinggal dari bursa AS dengan margin terlebar dalam sejarah per Oktober 2026. Simak arah foreign flow dan efeknya ke pasar berkembang.
Key Takeaways
- Pasar saham China tertinggal dari bursa saham Amerika Serikat dengan selisih performa terbesar dalam sejarah per 24 Oktober 2026.
- Kesenjangan ini memperlihatkan pemisahan arah yang tajam antara perolehan laba emiten di Wall Street dan kehati-hatian investor terhadap bursa China.
- Valuasi saham China yang jauh lebih murah belum berhasil menarik kembali aliran dana global skala besar tanpa adanya bukti perbaikan fundamental yang nyata.
Per 24 Oktober 2026, jurang performa pasar saham China terhadap bursa saham Amerika Serikat resmi mencatat rekor terlebar sepanjang sejarah. Bursa China kini tertinggal lebih jauh dibandingkan periode mana pun sebelumnya saat disandingkan dengan Wall Street. Catatan ini bukan sekadar fluktuasi harian biasa, melainkan cerminan dari arah modal global yang terus meninggalkan pasar ekuitas China dan menumpuk di aset Amerika Serikat.
Modal Global Lebih Memilih Bertahan di Wall Street
Pelebaran selisih performa ini memperlihatkan arah foreign flow yang belum berpihak ke aset China. Selama beberapa periode terakhir, bursa saham Amerika Serikat ditopang oleh kinerja laba emiten yang kuat dan daya tarik sektor teknologi, sementara pasar China menghadapi tantangan pemulihan ekonomi domestik serta kehati-hatian investor institusi global. Akibatnya, setiap kali pasar mencoba mengharapkan pembalikan arah, reli di pasar saham China kerap tertahan oleh aksi jual pemodal asing.
Ketika dua bursa terbesar di dunia bergerak ke arah berlawanan seperti ini, investor global cenderung memilih kepastian. Saham-saham di bursa AS tetap dihargai dengan valuasi premium karena emiten di sana mampu membukukan pertumbuhan pendapatan yang konsisten. Sebaliknya, pasar saham China kehilangan daya tariknya karena pemodal belum melihat kepastian pertumbuhan laba yang bisa diandalkan.
Valuasi Diskon Belum Mampu Mengubah Keadaan
Secara teori, melebarnya jurang performa ini membuat saham-saham China terlihat jauh lebih murah secara rasio valuasi dibandingkan saham-saham AS. Namun pasar saham jarang bergerak hanya karena sebuah aset terlihat murah. Tanpa katalis yang kuat berupa perbaikan pendapatan riil emiten dan kejelasan arah kebijakan ekonomi, saham yang murah bisa tetap murah untuk waktu yang lama.
Kondisi ini juga memberi imbas tidak langsung ke bursa negara berkembang di kawasan Asia. Selama dana global terkonsentrasi di bursa AS, likuiditas di pasar berkembang cenderung terbatas. Sebagian investor sempat berharap dana yang keluar dari bursa AS akan mencari alternatif yang lebih murah di kawasan Asia, tetapi kenyataannya modal asing masih enggan mengambil risiko di pasar saham China.
Dua Jalur yang Menentukan Jarak Performa ke Depan
Kelanjutan dari rekor selisih performa ini bergantung pada arah laba korporasi dan likuiditas global. Jika perbaikan laba emiten di China mulai terbukti dan kebijakan pendukung berhasil mengembalikan kepercayaan pelaku usaha, maka jurang performa ini berpeluang menyempit lewat aksi beli pemodal yang memburu valuasi diskon. Sebaliknya, jika pertumbuhan pendapatan di bursa AS tetap jauh lebih unggul sementara aktivitas ekonomi China berjalan lambat, maka selisih terlebar sepanjang sejarah ini akan bertahan lebih lama dan menahan minat dana global untuk kembali ke bursa Asia.
Bagi pelaku pasar, fokus berikutnya bukan lagi menebak kapan pasar saham China menyentuh dasar, melainkan memantau apakah ada perbaikan pertumbuhan laba bersih emiten yang mampu mengubah cara pandang modal asing.