Kekayaan rumah tangga AS naik jadi US$185 triliun, tapi 70% dikuasai 10% teratas. Pahami kenapa kepemilikan saham jadi benteng utama menghadapi inflasi.
Key Takeaways
- Total kekayaan bersih rumah tangga di Amerika Serikat naik US$84 triliun sejak awal 2020 menjadi US$185 triliun, dengan 1% kelompok teratas menguasai US$60,3 triliun atau 32,5% dari total nilai tersebut.
- Dolar AS kehilangan daya beli sebesar 23% akibat inflasi indeks harga konsumen bertahan di atas target 2% selama 60 bulan beruntun.
- Kelompok 0,1% teratas menempatkan hampir 60% portofolio mereka pada saham dan reksa dana ekuitas, berbanding terbalik dengan 50% kelompok terbawah yang hanya mengalokasikan 4%.
- Yield US Treasury tenor 30 tahun bertahan di level tertinggi sejak 2002 akibat beban utang fiskal dan inflasi yang belum mereda.
Sejak kuartal pertama 2020, total kekayaan bersih rumah tangga di Amerika Serikat bertambah US$84 triliun hingga menyentuh US$185 triliun. Kenaikan 83% dalam rentang enam tahun sekilas tampak seperti kabar baik bagi perekonomian. Namun, saat rincian kepemilikan dan penurunan daya beli uang dibedah, angka tersebut menunjukkan cerita yang sangat berbeda bagi para pemodal.
Sebagai perbandingan, total kekayaan rumah tangga AS berada di angka US$55 triliun pada 2009 pascakrisis finansial global, lalu naik menjadi US$101 triliun saat pandemi dimulai pada 2020. Penambahan US$84 triliun dalam tempo singkat tidak terbagi merata ke seluruh lapisan masyarakat, melainkan terkonsentrasi pada mereka yang memegang kepemilikan atas aset produktif.
1% Teratas Menguasai 14 Kali Lipat Kekayaan 50% Warga Terbawah
Saat ini tercatat ada 134,8 juta rumah tangga di Amerika Serikat. Dari total tersebut, 1% kelompok teratas—atau sekitar 1,4 juta rumah tangga—menguasai kekayaan senilai US$60,3 triliun. Porsi ini setara dengan 32,5% dari total kue kekayaan nasional, naik sekitar 4 poin persentase sejak 2020.
Di ujung spektrum yang berlawanan, 50% kelompok terbawah—mencakup 67,4 juta rumah tangga—hanya menguasai US$4,3 triliun. Artinya, kelompok 1% teratas memegang US$59 triliun lebih banyak daripada separuh populasi terbawah secara gabungan. Kelompok 1% teratas mengendalikan kekayaan 14,3 kali lipat lebih besar dibanding seluruh kelompok 50% terbawah.
Jika rentang diperlebar ke 10% rumah tangga teratas, kelompok ini menguasai 70% dari seluruh kekayaan bersih di Amerika Serikat. Kelompok ini mencatat penambahan kekayaan bersih sebesar US$52,7 triliun sejak awal 2020. Bahkan pada lapisan yang lebih sempit, yaitu 0,1% teratas, kekayaan mereka berlipat ganda sejak 2019 dengan tambahan US$14,5 triliun, sehingga rata-rata nilai kekayaan bersih per rumah tangga di kelompok elite ini mencapai kisaran US$200 juta.
Pajak Tak Kasatmata Bernama Erosi Daya Beli Dolar
Untuk memahami kenapa jurang ini melebar begitu cepat, bayangkan sebuah pasar malam kecil di mana pengelola tiba-tiba mencetak jutaan kupon belanja baru dan membagikannya secara cuma-cuma kepada pengunjung. Jumlah barang dagangan di dalam pasar tidak bertambah, sehingga para pedagang langsung menaikkan harga jual makanan dan barang mereka. Pemilik kios dan penyewa lapak yang memegang stok barang menjadi jauh lebih kaya karena nilai barang dagangannya naik berlipat ganda. Sebaliknya, pengunjung biasa yang hanya menyimpan kupon tunai di dompet mendapati sisa kupon mereka tidak lagi cukup untuk membeli sepiring makanan.
Hal serupa terjadi di panggung makroekonomi ketika paket stimulus senilai lebih dari US$4 triliun dikucurkan ke sistem keuangan pada 2020. Injeksi likuiditas tersebut berfungsi seperti pajak terselubung yang bekerja lewat jalur inflasi. Sejak saat itu, inflasi indeks harga konsumen di AS bertahan di atas target tahunan bank sentral sebesar 2% selama 60 bulan berturut-turut. Rentang inflasi berkepanjangan seperti ini terakhir kali terjadi pada era 1980-an, saat suku bunga kredit perumahan berada di atas level 10%.
Hasil akhirnya adalah penurunan nilai riil mata uang. Dolar AS telah kehilangan 23% daya belinya sejak awal 2020. Perhitungan praktisnya: jika nilai portofolio investasi Anda naik 30% dalam enam tahun terakhir, Anda sebenarnya hanya berada di posisi impas secara riil. Kenaikan nominal portofolio habis terpotong oleh kenaikan biaya hidup dan depresiasi daya beli kas.
Portofolio Saham Jadi Pembeda Garis Pemisah
Faktor penentu utama di balik pemisahan kekayaan ini terletak pada jenis aset yang dimiliki. Kelompok 0,1% teratas menempatkan hampir 60% aset mereka dalam bentuk saham dan reksa dana ekuitas. Sebaliknya, 50% kelompok terbawah hanya menaruh 4% aset mereka di pasar modal.
Ketika uang beredar bertambah dan inflasi mengerek harga barang, perusahaan publik yang memiliki keunggulan kompetitif mampu menaikkan harga jual produk untuk menjaga margin keuntungan. Laba emiten tetap tumbuh, dividen dibagikan, dan harga saham terapresiasi seiring ekspansi laba bersih. Pemilik saham menikmati perlindungan ganda: nilai modal mereka terangkat mengikuti inflasi sekaligus menerima arus kas dividen.
Sebaliknya, kelompok nonpemilik aset hanya mengandalkan upah bulanan dalam bentuk uang tunai. Saat biaya sewa, bahan bakar, dan kebutuhan pokok naik, upah yang tidak tumbuh secepat inflasi membuat kapasitas tabungan tergerus. Fenomena ini semakin diperkuat oleh perkembangan teknologi kecerdasan buatan, di mana efisiensi operasional dan pertumbuhan produktivitas diserap langsung ke dalam laba emiten teknologi, memberi imbal hasil bagi pemegang saham tetapi memperkecil porsi pendapatan bagi tenaga kerja operasional.
Sinyal Peringatan dari Yield Treasury 30 Tahun
Bukti bahwa inflasi struktural belum selesai tercermin langsung di pasar obligasi pemerintah AS. Yield US Treasury tenor 30 tahun bertahan di level tertinggi sejak 2002. Pemerintah AS terus memperbesar penerbitan surat utang untuk menutup defisit anggaran, sehingga para pembeli obligasi meminta imbal hasil yang lebih tinggi sebagai syarat menahan risiko inflasi jangka panjang.
Kondisi ini memberikan pesan yang gamblang bagi strategi investasi di pasar modal, termasuk di bursa saham domestik seperti IHSG. Menaruh dana dalam bentuk kas murni atau alat tabungan berbunga rendah di bawah tingkat inflasi riil adalah formula pasti untuk kehilangan daya beli secara perlahan. Menghadapi era utang fiskal tinggi dan penurunan nilai mata uang, kepemilikan atas bisnis riil dengan neraca keuangan sehat, arus kas operasional kuat, serta kemampuan menentukan harga jual adalah satu-satunya benteng pertahanan yang teruji.