LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Korelasi Yield US Treasury dan S&P 500 Berbalik Negatif

Yield US Treasury 10-tahun bertahan di 5,25% saat korelasi dengan S&P 500 jatuh ke -0,63. Ini artinya bagi valuasi saham dan IHSG.


Key Takeaways

  • Korelasi 30 hari antara yield US Treasury 10-tahun dan indeks S&P 500 turun ke level -0,63, menegaskan arah gerak keduanya yang saling bertolak belakang.
  • Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun bertahan di level 5,25%, posisi tertinggi dalam 24 tahun terakhir.
  • Tekanan suplai utang pemerintah AS, inflasi yang bertahan tinggi, dan harga minyak mentah menjadi penahan utama yield di level tinggi.
  • Kenaikan yield memangkas premi risiko saham, membuat valuasi saham dengan rasio P/E tinggi paling rawan terkoreksi.

Korelasi 30 hari antara yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun dan pergerakan indeks S&P 500 turun tajam hingga menyentuh -0,63. Angka korelasi negatif ini memperlihatkan satu pola yang tegas di pasar: setiap kali yield obligasi AS bergerak naik, bursa saham justru tertekan, begitu juga sebaliknya. Kondisi ini terjadi tepat ketika yield US Treasury tenor 10 tahun bertahan di level 5,25%, titik tertinggi dalam 24 tahun terakhir, sementara indeks S&P 500 masih bertahan dekat rekor tertinggi.

Jarak Lebar Antara Yield Obligasi dan Harga Saham

Pasar saham saat ini berada pada posisi yang tidak biasa. Ketika yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun berada di 5,25%, bursa saham Wall Street justru diperdagangkan dengan valuasi mahal. Padahal, yield obligasi pemerintah adalah suku bunga bebas risiko atau risk-free rate yang menjadi dasar perhitungan seluruh aset keuangan dunia.

Tiga faktor utama terus menahan yield di level tinggi: lonjakan harga minyak mentah, laju inflasi yang sulit turun, serta beban utang pemerintah AS yang memaksa penerbitan surat utang dalam jumlah besar. Ketika pasokan obligasi baru membanjiri pasar, harga obligasi turun dan yield otomatis naik karena pasar meminta imbal hasil yang lebih menarik.

Kondisi ini langsung menekan apa yang disebut Equity Risk Premium (ERP), yaitu selisih imbal hasil yang diharapkan dari memegang saham dibandingkan memegang obligasi pemerintah. Ketika yield obligasi pemerintah sudah memberikan 5,25% tanpa risiko gagal bayar, daya tarik laba emiten saham yang berada di kisaran 4% sampai 5% menjadi sangat tipis. Investor institusi mulai menghitung ulang apakah layak menanggung risiko fluktuasi bisnis demi imbal hasil yang hampir sama dengan surat utang negara.

Memilih Deposito Bebas Risiko atau Membeli Toko Ritel

Cara paling sederhana memahami situasi ini adalah dengan melihat pilihan pedagang di pasar riil. Bayangkan Anda punya modal dan dihadapkan pada dua pilihan: memasukkan uang ke deposito bank pemerintah yang dijamin aman dengan bunga bersih 5,25% setahun, atau membeli toko kelontong di pinggir jalan yang menghasilkan keuntungan bersih sekitar 5% setahun namun penjualannya bergantung pada cuaca, daya beli warga, dan biaya operasional.

Jika bunga deposito aman hanya 1% atau 2%, membeli toko kelontong tentu pilihan menarik. Namun ketika deposito aman naik ke 5,25%, tidak ada alasan rasional untuk membeli toko kelontong tersebut dengan harga mahal, kecuali toko itu bisa membuktikan labanya akan berlipat ganda dalam waktu singkat. Logika yang sama sedang bekerja di bursa saham hari ini. Valuasi saham mahal langsung dinilai ulang karena biaya modal diskonto mereka naik.

Jalurnya ke Nilai Tukar Rupiah dan IHSG

Efek dari yield obligasi AS 5,25% tidak berhenti di New York, melainkan merambat langsung ke pasar negara berkembang termasuk Indonesia. Jalurnya terlihat jelas dari dua pintu: pergerakan mata uang dan arus modal asing atau foreign flow.

Yield US Treasury yang tinggi menarik dolar AS pulang ke negeri asalnya. Ketika dana global memilih memarkir uang di surat utang AS, mata uang negara berkembang seperti rupiah menghadapi tekanan pelemahan. Bagi Bank Indonesia, situasi ini membatasi ruang pelonggaran moneter. Suku bunga domestik harus bertahan di level tinggi agar selisih yield surat berharga negara kita tetap menarik bagi investor asing.

Bagi emiten di Bursa Efek Indonesia, pemetaannya terbagi jelas:

  • Pihak yang tertekan: Emiten dengan utang berdenominasi dolar AS tanpa lindung nilai (unhedged) dan emiten dengan rasio utang tinggi. Beban bunga pinjaman baru akan memakan laba operasional mereka. Saham properti dan teknologi juga menghadapi tantangan karena suku bunga kredit bertahan tinggi.
  • Pihak yang diuntungkan: Emiten yang memiliki posisi kas bersih melimpah (net cash) tanpa utang bank. Posisi ini memungkinkan mereka meraup pendapatan bunga tinggi dari penempatan kas. Selain itu, emiten eksportir komoditas yang membukukan pendapatan dalam dolar AS namun mencatat beban operasional dalam rupiah mendapatkan margin keuntungan tambahan.

Yang Bisa Membatalkan Tekanan Ini

Arah pergerakan berikutnya bergantung pada data inflasi AS dan realisasi lelang surat utang pemerintah AS. Thesis tekanan yield terhadap saham ini akan gugur jika inflasi AS turun lebih cepat dari perkiraan, membuka pintu bagi bank sentral untuk memangkas suku bunga acuan. Jika harga minyak mentah berbalik turun dan lelang surat utang AS terserap dengan mudah oleh pasar tanpa perlu menaikkan yield, korelasi negatif ini akan melemah dan pasar saham kembali mendapatkan ruang gerak.