Laba bersih BUMI naik 188% di 1H26 berkat KPC dan harga batu bara. Mampukah diversifikasi tembaga dan emas menopang target valuasi Rp230?
Key Takeaways
- Laba bersih 1H26 naik 188,4% YoY menjadi US$59 juta, ditopang bagian laba joint venture KPC sebesar US$41 juta.
- Biaya produksi naik ke US$43,1 per ton akibat harga bahan bakar, tetapi tertutup kenaikan rata-rata harga jual (ASP) menjadi US$62,9 per ton.
- Diversifikasi mineral mulai berjalan lewat akuisisi Loyal Metals senilai US$56 juta dan operasional tambang tembaga Wolfram.
- Perhitungan DCF menghasilkan nilai wajar Rp230 per saham, berbanding harga pasar saat ini di level Rp135 per saham.
PT Bumi Resources Tbk (BUMI) membukukan laba bersih US$59 juta pada paruh pertama 2026, naik 188,4% dibandingkan US$20 juta pada periode yang sama tahun lalu. Pendapatan terkumpul US$858 juta, sudah mengisi 51% dari estimasi setahun penuh. Mesin utamanya tetap batu bara yang menyumbang US$762 juta atau 88% dari total pendapatan konsolidasi.
KPC Mengunci Laba di Tengah Kenaikan Biaya Bahan Bakar
Secara operasional, volume penjualan batu bara BUMI tumbuh 11,5% menjadi 38,8 juta ton dengan total produksi mencapai 38,5 juta ton. Kenaikan biaya produksi sebesar 2% menjadi US$43,1 per ton akibat naiknya harga solar tambang berhasil diimbangi kenaikan ASP tertimbang sebesar 3% ke posisi US$62,9 per ton.
Kunci lonjakan laba bersih perseroan justru berada di luar pendapatan konsolidasi langsung. Bagian laba bersih dari entitas asosiasi dan joint venture melesat 177% menjadi US$44 juta, terutama disumbang oleh PT Kaltim Prima Coal (KPC) sebesar US$41 juta. Pasar tertolong oleh kuota produksi nasional 2026 yang dipangkas 24% menjadi sekitar 600 juta ton, membuat pasokan global mengetat dan menjaga harga batu bara Newcastle bertahan di kisaran US$140 hingga US$150 per ton.
Taruhan Tambang Mineral di Luar Batu Bara
Batu bara masih menjadi penopang kas, tetapi diversifikasi mulai digulirkan untuk mengantisipasi siklus komoditas. Kinerja anak usaha mineral, PT Bumi Resources Minerals Tbk (BRMS), sempat tertekan rugi bersih US$4,78 juta pada kuartal kedua 2026 karena produksi emas yang turun ke 21.091 ons.
Untuk menutup celah tersebut, penetrasi aset mineral luar negeri dipacu. BUMI menuntaskan akuisisi 100% Loyal Metals senilai US$56 juta (AUD79,07 juta) yang menguasai proyek tembaga-emas Highway Reward di Australia serta proyek litium di Kanada. Unit usaha lain, Wolfram, telah mengawali produksi komersial dengan target 12.000–15.000 ton setara tembaga pada 2026 dan mengantongi kontrak offtake tujuh tahun dengan Glencore. Aset-aset ini dirancang untuk mendongkrak pendapatan hingga US$2,32 miliar pada FY28F dengan margin laba bersih 8,1%.
Batas Toleransi Biaya dan Risiko Regulasi
Valuasi berbasis Discounted Cash Flow (DCF) dengan asumsi WACC 14,3% menempatkan nilai wajar BUMI pada Rp230 per saham, jauh di atas harga pasar Rp135 per saham. Namun, realisasi target penjualan batu bara 82–84 juta ton sepanjang tahun ini berhadapan langsung dengan dua penentu: pergerakan harga bahan bakar yang dapat mengerek biaya tunai tambang melampaui US$43,1 per ton, serta kepastian penyesuaian kuota produksi melalui RKAB pemerintah. Bila kenaikan biaya operasional melampaui pertumbuhan harga jual, ruang laba bersih akan langsung terpotong.