LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Lelang US Treasury Laris, Tapi Yield Tetap Sentuh 5,3%

Yield US Treasury 10-tahun naik ke 5,33% meski lelang $39 miliar laris diborong investor. Simak efeknya ke valuasi saham dan pergerakan IHSG.


Key Takeaways

  • Yield US Treasury tenor 10 tahun dan 30 tahun naik 4 basis poin masing-masing ke 5,33% dan 5,73%, posisi tertinggi sejak 2002.
  • Lelang obligasi US$39 miliar mencatatkan rasio penawaran (bid-to-cover ratio) 2,77 kali dengan serapan pemodal non-dealer mencapai 97,5%.
  • Tingginya minat beli belum mampu menahan kenaikan yield obligasi akibat tekanan harga minyak dan pasokan utang baru pemerintah AS yang terus bertambah.
  • Kenaikan yield obligasi global menaikkan biaya modal dan menekan valuasi saham ber-PE tinggi di pasar modal domestik.

Surat utang pemerintah AS tenor 10 tahun dan 30 tahun naik 4 basis poin, masing-masing menyentuh 5,33% dan 5,73%. Angka ini menempatkan biaya pinjaman jangka panjang pemerintah AS di level tertinggi sejak 2002. Pasar obligasi sedang memperlihatkan anomali: permintaan pemodal sangat kuat di pasar perdana, tetapi yield di pasar sekunder tetap merayap naik.

US$39 Miliar Langsung Diserap Pemodal Akhir

Pada lelang obligasi pemerintah AS senilai US$39 miliar bertenor 10 tahun, penawaran dimenangkan di yield 5,30%. Angka itu lebih rendah dari yield pasar sekunder sebelum lelang yang berada di 5,33%. Dalam perdagangan obligasi, kondisi ini disebut clearing through—tanda bahwa pembeli rela menerima imbal hasil lebih rendah karena berebut jatah alokasi.

Rasio penawaran dibanding kuota lelang (bid-to-cover ratio) naik ke 2,77 kali, level tertinggi sejak 2016. Artinya, setiap US$1 obligasi yang ditawarkan ke meja lelang diperebutkan oleh penawaran masuk senilai US$2,77.

Ibarat pasar beras induk yang kedatangan pasokan 100 karung, para pedagang grosir dan pembeli langsung mengajukan pesanan hingga 277 karung. Sebanyak 97,5% dari seluruh surat utang tersebut langsung diserap oleh pembeli non-dealer—yaitu dana pensiun, perusahaan asuransi, manajer investasi, reksa dana, dan pemodal asing. Bank perantara besar (primary dealer) hanya kebagian sisa 2,5%. Saat barang hampir seluruhnya diserap pemakai akhir tanpa menumpuk di meja perantara, harga obligasi biasanya menguat. Kali ini arah pasar justru sebaliknya.

Banjir Pasokan Utang Mengalahkan Kuatnya Permintaan

Penyebab utamanya ada di sisi pasokan dan risiko inflasi. Angka yield di atas 5% memang membuat dana pensiun bergegas mengunci imbal hasil tahunan tanpa risiko gagal bayar. Namun, selera beli institusi ini berhadapan dengan tumpukan pasokan utang baru yang terus dikeluarkan Departemen Keuangan AS.

Pemerintah AS butuh menerbitkan surat utang dalam jumlah besar untuk membiayai defisit anggaran yang melebar. Bersamaan dengan itu, kenaikan harga minyak mentah kembali menambah risiko inflasi jangka panjang. Pembeli menyadari, sebanyak apa pun mereka menyerap obligasi hari ini, lelang berikutnya akan segera datang dengan jumlah yang sama besarnya.

Ketika pasokan barang di pasar mengalir terus-menerus, pembeli di pasar sekunder meminta bantalan yield yang lebih tinggi untuk mengimbangi risiko penurunan harga obligasi di kemudian hari.

Saham Ber-PE Tinggi Tertekan, Emiten Berkas Tebal Lebih Aman

Kenaikan yield US Treasury ke level 5,33% ini mengubah perhitungan di bursa saham Indonesia. Yield surat utang AS adalah suku bunga bebas risiko (risk-free rate) global yang menjadi acuan menghitung biaya modal (cost of capital).

Ketika pemodal bisa mengantongi imbal hasil 5,3% per tahun dalam dolar AS tanpa risiko kredit, daya tarik saham di pasar negara berkembang berkurang. Arus dana asing (foreign flow) cenderung menahan diri atau keluar perlahan, yang kemudian menekan kurs rupiah dan IHSG.

Kondisi ini membagi emiten di bursa saham ke dalam dua kelompok:

Kelompok pertama adalah saham dengan valuasi mahal dan rasio harga terhadap laba (P/E ratio) tinggi yang paling rentan terkoreksi. Saham teknologi dan emiten pertumbuhan yang belum mencetak arus kas operasional kuat akan mengalami penurunan valuasi karena proyeksi laba masa depan dihitung dengan tingkat diskonto yang lebih tinggi. Emiten dengan utang dolar AS yang besar juga harus bersiap menanggung bunga lebih mahal saat memperpanjang pinjaman (refinancing).

Sebaliknya, kelompok yang lebih terlindungi adalah perusahaan dengan kas bersih (net cash) melimpah dan perbankan bermodal besar yang mampu menjaga margin bunga. Saham pembagi dividen konsisten juga lebih diminati karena memberi arus kas nyata di tengah ketidakpastian valuasi.

Data Inflasi dan Lelang Berikutnya Menentukan Arah Pasar

Arah pasar modal selanjutnya bertumpu pada konsistensi penyerapan di lelang-lelang berikutnya dan pergerakan data inflasi AS. Jika inflasi tetap bertahan akibat kenaikan harga minyak sementara lelang obligasi berikutnya mulai sepi dari pembeli non-dealer, yield obligasi 10 tahun akan tertahan di atas 5,3% lebih lama. Kondisi suku bunga acuan global yang tinggi dalam periode panjang menuntut pemilihan saham yang lebih selektif—mengutamakan neraca yang sehat, utang yang terkendali, dan valuasi yang tidak membebani.