LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Likuiditas G10 Drop ke Titik Terendah: Pola 2022 Berulang?

Indikator likuiditas berlebih G10 turun ke level terendah sejak awal 2024. Pola ini memimpin bursa saham 3-6 bulan ke depan, mirip fase awal koreksi 2022.


Key Takeaways

  • Indikator Likuiditas Berlebih G10 turun ke titik terendah sejak awal 2024 karena laju suplai uang riil M1 tertinggal di belakang pertumbuhan ekonomi.
  • Perubahan arah likuiditas ini secara historis memimpin arah pergerakan aset berisiko dengan jeda waktu 3 hingga 6 bulan.
  • Pola saat ini menyerupai fase awal 2022, ketika pengetatan likuiditas berujung pada koreksi indeks S&P 500 lebih dari 20%.
  • Di bursa domestik, saham dengan valuasi tinggi dan beban utang besar menghadapi risiko penyesuaian harga terbesar saat likuiditas global menyusut.

Indikator Likuiditas Berlebih G10 turun ke level terendah sejak awal 2024. Indikator ini menghitung selisih antara laju pertumbuhan suplai uang riil M1 dengan laju pertumbuhan ekonomi riil di sepuluh negara maju utama. Ketika angkanya bergerak ke bawah, sistem perbankan global sedang kekurangan kelebihan uang tunai yang biasanya mengalir untuk menopang harga aset berisiko di pasar modal.

Cara kerjanya bisa dipahami lewat perumpamaan sederhana sebuah pasar grosir. Pertumbuhan ekonomi mencerminkan banyaknya barang dagangan di toko yang membutuhkan modal kerja tunai untuk berputar setiap hari. Sementara suplai uang M1 adalah jumlah uang kas yang mengalir di tangan pembeli dan perbankan. Ketika uang kas yang beredar tumbuh lebih banyak daripada barang dagangan yang diputar, ada uang dingin sisa yang menganggur. Uang sisa inilah yang biasanya ditaruh ke bursa saham untuk mengejar return. Namun ketika suplai uang kas mengerut sementara aktivitas ekonomi berjalan lambat, uang dingin itu ditarik kembali untuk menambal kebutuhan operasional. Air kolam mulai surut, dan kapal-kapal yang mengapung di atasnya ikut turun.

Jeda Waktu Tiga Sampai Enam Bulan Sebelum Saham Terkena Imbas

Penurunan likuiditas tidak langsung memicu aksi jual di bursa saham pada hari yang sama. Secara historis, indikator likuiditas berlebih G10 ini memimpin pergerakan harga saham dengan jeda waktu sekitar 3 sampai 6 bulan. Artinya, penurunan likuiditas yang terjadi hari ini baru akan terasa efek penuhnya ke pasar saham beberapa bulan ke depan.

Jeda waktu ini terjadi karena perusahaan dan manajer investasi tidak langsung mengubah portofolio mereka begitu angka likuiditas melambat. Di tahap awal, pasar sering kali masih mengabaikan sinyal ini karena laporan keuangan emiten masih membukukan earnings beat dari sisa momentum kuartal sebelumnya. Namun perlahan, biaya dana perbankan mulai merambat naik, jalur kredit mengetat, dan daya beli investor institusi untuk menyerap penawaran saham baru mulai habis. Ketika pembeli berkurang, harga saham menjadi jauh lebih rentan terhadap sentimen negatif sekecil apa pun.

Pelajaran dari Koreksi S&P 500 Lebih dari 20% di 2022

Kondisi saat ini memiliki kemiripan struktur dengan periode menjelang fase koreksi bursa pada tahun 2022. Pada waktu itu, likuiditas berlebih mulai berbalik arah turun secara tajam setelah bank sentral menghentikan program stimulus dan mulai menaikkan suku bunga acuan. Indeks S&P 500 kemudian menyusul dengan koreksi lebih dari 20% setelah jeda beberapa bulan.

Situasi sekarang diperberat oleh posisi kebijakan moneter global. Bank sentral utama, termasuk Federal Reserve, menaikkan suku bunga ke level tinggi dan mempertahankan pengetatan moneter. Pada saat yang sama, yield obligasi pemerintah global naik ke level tertinggi dalam beberapa dekade terakhir. Ketika surat utang negara menawarkan imbal hasil 4% hingga 5%, daya tarik saham dengan valuasi premium langsung turun. Investor institusi memilih memarkir modal di pasar obligasi daripada mengambil risiko di bursa saham.

Saham Mahal dan Bertenor Utang Tinggi Paling Tertekan

Di pasar modal Indonesia, menyusutnya likuiditas global biasanya masuk lewat jalur nilai tukar dan pergerakan dana asing atau foreign flow. Ketika imbal hasil obligasi global bertahan tinggi, arus modal cenderung ditarik kembali ke pasar negara maju, menekan nilai tukar rupiah dan mempersempit ruang pelonggaran likuiditas di perbankan domestik.

Kelompok saham yang paling rentan menghadapi kondisi ini adalah emiten dengan valuasi mahal atau P/E ratio tinggi serta emiten dengan beban utang berdenominasi valuta asing yang besar. Saham teknologi dan sektor konsumer non-primer yang membutuhkan pertumbuhan agresif akan mengalami multiple derating karena investor tidak lagi bersedia membayar premi harga yang tinggi di tengah suku bunga yang mahal.

Sebaliknya, emiten dengan arus kas operasional kuat, posisi kas bersih atau net cash, serta kemampuan membagikan dividen tunai secara konsisten memiliki bantalan yang lebih baik. Perusahaan semacam ini tidak bergantung pada pendanaan utang baru dan tetap mampu beroperasi tanpa terbebani lonjakan biaya bunga.

Tiga Sinyal yang Menentukan Arah Pergerakan Pasar

Thesis pelemahan aset berisiko akibat pengetatan likuiditas ini bisa dipantau lewat tiga indikator pasar harian. Pertama, pergerakan yield US Treasury tenor 10 tahun; jika yield terus bertahan di level tinggi, tekanan likuiditas global belum akan mereda. Kedua, data arus keluar dana asing mingguan di IHSG; aksi jual bersih yang berlanjut menjadi konfirmasi bahwa investor global sedang mengurangi porsi risiko di pasar berkembang. Ketiga, arah revisi proyeksi laba bersih emiten oleh konsensus analis. Jika revisi laba mulai dipangkas ke bawah saat valuasi saham masih berada di rata-rata historisnya, penyesuaian harga di bursa saham menjadi hal yang perlu diantisipasi.