Gross margin DEWA naik ke 20,7% berkat armada in-house, tapi pasar fokus pada utang Rp6,3 triliun. Kontrak Sebuku dan RKAB jadi penentu arah valuasi.
Key Takeaways
- Gross margin melonjak dari 9,7% (1Q24) menjadi 20,7% (2Q26) seiring porsi armada in-house yang mencapai 89%, meski pendapatan 1H26 masih mendatar di Rp3,21 triliun (+3% y/y).
- Total utang berbunga mencapai Rp6,3 triliun untuk pembelian armada baru, membawa rasio net debt to EBITDA ke level 2,7x di akhir 2026.
- Kontrak Sebuku senilai US$1,3 miliar menjadi sumber volume baru (hingga 5 juta ton per tahun), tetapi realisasi penuhnya bergantung pada persetujuan RKAB Desember.
Saham PT Darma Henwa Tbk (DEWA) turun sekitar 20% dalam enam bulan terakhir ke level Rp342, padahal efisiensi operasionalnya berbalik arah. Gross margin naik dari 9,7% pada kuartal pertama 2024 menjadi 20,7% di kuartal kedua 2026. Di mata pasar, perbaikan margin ini tertutup oleh satu fokus utama: penumpukan utang untuk membeli armada tambang sendiri.
Armada Sendiri Menaikkan Margin, Bukan Pendapatan
Porsi pemindahan material secara mandiri naik dari 41% menjadi 89% setelah proyek Bengalon dikerjakan langsung. Masalahnya, pendapatan paruh pertama 2026 hanya naik 3% menjadi Rp3,21 triliun. Mengganti subkontraktor dengan armada sendiri memangkas biaya per ton, tetapi tonase yang dikerjakan tetap sama.
Di saat yang sama, belanja modal untuk membeli alat berat membuat utang kotor naik ke Rp6,3 triliun—terdiri dari pinjaman bank Rp4,5 triliun dan pembiayaan vendor Rp1,8 triliun. Kas tersisa Rp644 miliar setelah belanja modal 1H26 sebesar Rp1,1 triliun dan pembelian kembali saham Rp791 miliar. Pasar merespons ini murni sebagai beban utang, mengesampingkan fakta bahwa margin operasional sudah terbentuk.
Kontrak Sebuku Membawa Tonase Baru
Tambahan volume baru datang melalui kontrak PT Sebuku Sejaka Coal senilai US$1,3 miliar (sekitar Rp22 triliun) selama lima tahun. Ini merupakan kontrak pertama DEWA di luar grup BUMI, dengan potensi pemindahan batuan penutup hingga 55 juta bcm dan 5 juta ton batu bara per tahun. Angka ini menambah volume setara 40% dan 29% dari pencapaian tahun 2025.
Kendati demikian, kontribusi tahun ini tertahan perizinan. Alokasi RKAB Sebuku untuk 2026 hanya disetujui 1,4 juta ton dari permohonan 5 juta ton. Operasional efektif baru berjalan mulai September hingga Desember, dengan potensi pendapatan sekitar Rp640 miliar tahun ini.
Persetujuan RKAB Menjadi Penentu Valuasi
Pada harga Rp342, DEWA diperdagangkan di 9,2x EV/EBITDA 2026 dan 5,5x untuk proyeksi 2027. Rasio net debt to EBITDA berada di titik tertinggi 2,7x tahun ini, lalu berpeluang turun ke 1,1x pada 2027 seiring masuknya arus kas dari Sebuku serta rencana emisi obligasi Rp750 miliar.
Jika kuota RKAB penuh 5 juta ton disetujui pada Desember, pendapatan 2027 berpeluang mencapai Rp9,5 triliun dengan EBITDA Rp3,6 triliun. Namun bila kuota tetap tertahan di 1,4 juta ton, perolehan EBITDA 2027 hanya akan berputar di level yang sama dengan tahun ini.