Rencana moratorium smelter nikel mencuat saat harga LME turun 6% YTD. Kebutuhan bijih 320 juta ton berhadapan dengan kuota RKAB 260-270 juta ton.
Key Takeaways
- Harga nikel LME bertahan di level US$15.735 per ton, terkoreksi 6,0% YTD akibat limpahan suplai global dan lemahnya serapan sektor stainless steel.
- Kebutuhan bijih smelter pada 2026 diperkirakan mencapai 320 juta ton, melampaui kuota persetujuan RKAB yang berada di rentang 260 hingga 270 juta ton.
- Jika 79 smelter beroperasi penuh, kebutuhan bijih nikel melompat ke 415 juta ton, berbanding terbalik dengan estimasi ketersediaan bijih sebesar 290 juta ton.
- Kajian pembatasan produksi menyasar produk antara: NPI, FeNi, nickel matte, dan MHP untuk menahan banjir pasokan di pasar internasional.
Harga nikel LME tertahan di US$15.735 per ton, turun 6,0% YTD. Pasar masih tertekan oleh melimpahnya pasokan global sementara serapan dari industri stainless steel belum menunjukkan pemulihan berarti. Di titik ini, wacana moratorium dan pembatasan produksi untuk produk antara—mulai dari NPI, FeNi, nickel matte, hingga MHP—kembali masuk meja kajian pemerintah.
Smelter Butuh 320 Juta Ton, Kuota RKAB Cuma 270 Juta Ton
Ada jarak yang lebar antara kapasitas olah pabrik dan suplai bijih yang diizinkan keluar dari tambang. Kebutuhan bijih nikel untuk memasok smelter pada 2026 diestimasikan mencapai 320 juta ton. Di sisi lain, volume produksi yang disetujui lewat RKAB hanya berkisar 260 hingga 270 juta ton, sementara total ketersediaan bijih diproyeksikan berada di angka 290 juta ton.
Ketegangan pasokan bahan baku ini semakin terlihat jika mengukur utilisasi fasilitas pengolahan. Bila seluruh 79 smelter beroperasi dengan kapasitas penuh, kebutuhan bijih diperkirakan mencapai 415 juta ton per tahun. Fasilitas pengolahan nikel domestik sudah melaju melampaui daya dukung kuota tambang yang tersedia.
Menahan Banjir Produk Antara untuk Menjaga Margin
Kajian pembatasan ini menyasar langsung produk olahan setengah jadi. Tujuannya bukan sekadar memperpanjang umur cadangan tambang di hulu, melainkan menahan arus produk antara agar tidak terus menekan harga jual nikel di pasar dunia.
Bagi penambang nikel, pembatasan di hilir membatasi volume serapan bijih mereka. Target penjualan harus disesuaikan dengan kuota operasional smelter yang tidak lagi leluasa berekspansi. Sementara bagi pemilik smelter, pembatasan produksi berarti tingkat utilisasi pabrik akan ditekan. Efisiensi biaya konversi per ton akan menjadi pembeda utama antara smelter yang mampu bertahan mencetak kas dan yang tergerus di level harga US$15.000-an per ton.
Yang Menentukan Kelanjutan Thesis Ini
Hal utama yang perlu dipantau ke depan adalah detail aturan, cakupan produk yang terkena batas kuota, serta jadwal penerapan resminya. Kebijakan ini masih berupa kajian awal dan belum berkekuatan hukum tetap. Sebelum aturan resmi terbit dengan target pemangkasan yang jelas, harga nikel LME kemungkinan besar tetap tertahan di kisaran saat ini.