LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Neraca BoJ Sentuh US$3,95 T, Terendah Sejak 2020

Total aset Bank of Japan turun US$98 miliar pada kuartal III 2026 ke US$3,95 triliun, level terendah sejak 2020 seiring berlanjutnya pemangkasan neraca.


Key Takeaways

  • Total aset Bank of Japan (BoJ) turun US$98 miliar pada kuartal III 2026 ke US$3,95 triliun, posisi terendah sejak kuartal I 2020.
  • Sejak puncak kuartal I 2024, neraca BoJ telah berkurang US$828 miliar atau terkontraksi 17,4%.
  • Rasio aset terhadap PDB BoJ turun 28, menegaskan penarikan likuiditas moneter Jepang yang berlangsung konsisten.

Bank of Japan (BoJ) memangkas neraca asetnya sebesar US$98 miliar pada kuartal III 2026, membawa total aset ke level US$3,95 triliun. Angka ini menandai posisi neraca terendah BoJ sejak kuartal I 2020, tepat sebelum program pelonggaran likuiditas besar era pandemi dimulai. Pasar keuangan global kini menghadapi kenyataan bahwa era likuiditas berlimpah dari Tokyo sedang ditarik mundur secara nyata.

US$828 Miliar Likuiditas Keluar Sejak Puncak Kuartal I 2024

Penurunan pada kuartal ini memperpanjang tren pengetatan yang sudah berjalan lebih dari dua tahun. Sejak mencatatkan rekor tertinggi pada kuartal I 2024, BoJ sudah memangkas neracanya hingga US$828 miliar, atau setara penurunan 17,4%. Penurunan ini membuktikan program quantitative tightening di Jepang bukan sekadar wacana, melainkan pemotongan aset yang terus berjalan.

Dampaknya terlihat jelas pada rasio aset terhadap PDB BoJ yang turun 28. Penurunan rasio ini menunjukkan bahwa neraca bank sentral menyusut jauh lebih cepat daripada gerak ekonomi domestik Jepang. Selama bertahun-tahun, BoJ menjadi jangkar likuiditas dunia ketika bank sentral utama lain mulai mengetatkan moneter. Kini, jangkar tersebut resmi ikut menarik dana dari pasar.

Kenapa Penyusutan Neraca BoJ Menekan Pasar Global

Jalur penarikan likuiditas ini bekerja lewat pembalikan skema yen carry trade. Selama bertahun-tahun, pelaku pasar meminjam mata uang yen dengan biaya sangat rendah untuk membeli aset berimbal hasil lebih tinggi di luar negeri, mulai dari obligasi global hingga saham pasar berkembang. Saat neraca BoJ menyusut US$828 miliar dari puncaknya, suplai yen di pasar mengecil dan biaya mempertahankan posisi pinjaman yen menjadi lebih tinggi.

Kondisi ini menciptakan pembagian jelas antara aset yang diuntungkan dan yang dirugikan. Pasar saham berkembang dan aset berisiko tinggi yang terbiasa ditopang aliran dana murah menghadapi tekanan penjualan saat modal ditarik kembali ke Jepang. Sebaliknya, mata uang yen mendapat topangan fundamental karena pasokan likuiditasnya di sistem perbankan terus diperketat.

Dua Arah yang Menentukan Likuiditas Berikutnya

Arah pasar ke depan bergantung pada seberapa agresif BoJ melanjutkan pemangkasan neracanya. Jika BoJ terus memangkas neraca dengan laju penurunan mendekati puluhan miliar dolar per kuartal, maka aliran modal global akan terus menghadapi pengetatan dan pasar negara berkembang harus bersiap menghadapi arus dana keluar lanjutan. Sebaliknya, jika BoJ memperlambat laju penurunan neraca untuk menjaga stabilitas pasar obligasi domestik Jepang, maka tekanan likuiditas terhadap pasar saham dan obligasi global akan mereda dan memberi ruang konsolidasi harga.

Fokus utama yang perlu dipantau sekarang adalah apakah total aset yang sudah menyentuh US$3,95 triliun ini mulai memicu kelangkaan likuiditas di pasar uang antarbank Jepang. Level ini menjadi patokan apakah normalisasi moneter BoJ masih bisa berjalan lancar tanpa memicu gejolak pendanaan domestik.