LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Periode 10 Tahun Terburuk US Treasury dalam Sejarah

Surat utang pemerintah AS mencatat performa 10 tahun terburuk sepanjang sejarah. Pelajari efeknya bagi pasar modal global dan pasar berkembang.


Key Takeaways

  • U.S. Treasuries mencatatkan periode performa 10 tahun terburuk sepanjang sejarah per Oktober 2026.
  • Tekanan kumulatif satu dekade menghapus asumsi lama bahwa obligasi pemerintah AS selalu menjadi aset pelindung modal tanpa risiko penurunan nilai jangka panjang.
  • Kinerja historis terlemah ini memaksa pengelola dana mengevaluasi ulang alokasi aset konvensional dan risiko durasi portofolio.

Pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat resmi mencatatkan periode 10 tahun terburuk sepanjang sejarah per 4 Oktober 2026. Surat utang negara yang selama puluhan tahun dianggap sebagai jangkar teraman dalam alokasi aset global ini justru menghasilkan imbal hasil terlemah dalam rentang satu dekade. Kerugian beruntun ini bukan sekadar koreksi jangka pendek, melainkan perubahan mendasar pada cara pasar menilai risiko suku bunga dan durasi.

Asumsi Portofolio Klasik Kehilangan Pijakan

Selama beberapa dekade, model portofolio tradisional mengandalkan obligasi pemerintah AS untuk meredam penurunan saat pasar saham terkoreksi. Asumsi korelasi negatif tersebut buyar ketika era suku bunga bertahan lebih lama dan menekan harga obligasi bertenor panjang. Hubungan harga obligasi dan suku bunga berjalan lugas: ketika suku bunga acuan bergerak naik atau bertahan di level tinggi, harga obligasi lama berkupon rendah mengalami penurunan nilai modal.

Ketika kinerja satu dekade berakhir di titik terlemah dalam catatan sejarah, kerugian ini terasa langsung oleh dana pensiun, manajer investasi, dan bank sentral global yang memegang U.S. Treasuries. Kinerja buruk selama 10 tahun berturut-turut membuktikan bahwa risiko durasi tetap nyata meskipun surat utang tersebut diterbitkan oleh negara dengan skala ekonomi terbesar di dunia.

Efeknya Terasa Sampai ke Pasar Berkembang

Kelemahan kinerja obligasi AS mengubah peta imbal hasil secara global. Ketika pasar obligasi AS menghadapi tekanan berkepanjangan, biaya modal dunia ikut terkerek. Kondisi ini membuat aset di pasar berkembang, termasuk Indonesia, harus menawarkan imbal hasil yang lebih menarik agar arus modal asing tetap bertahan dan tidak berbalik ke pasar negara maju.

Di pasar saham, sektor yang bergantung pada utang jangka panjang dan valuasi pertumbuhan menjadi pihak yang paling tertekan. Saham sektor teknologi yang mengandalkan ekspektasi laba jauh di masa depan menghadapi pemangkasan valuasi saat discount rate naik. Sebaliknya, emiten perbankan besar dengan struktur dana pihak ketiga yang kuat serta emiten dengan kas bersih melimpah berada di posisi yang jauh lebih siap menghadapi beban pembiayaan yang tinggi.

Dua Arah yang Menentukan Posisi Pasar Berikutnya

Arah pergerakan pasar ke depan akan bergantung pada keberlanjutan siklus suku bunga acuan. Jika inflasi global mereda dan bank sentral mulai menurunkan suku bunga secara konsisten, maka harga Treasuries berpeluang mencatat rebound teknikal yang menghentikan rekor kinerja terburuk ini, sekaligus membuka ruang aliran dana masuk kembali ke pasar saham negara berkembang. Sebaliknya, jika pasokan utang baru pemerintah AS terus bertambah melampaui permintaan pasar, maka tekanan jual pada obligasi akan berlanjut, yang membuat imbal hasil tetap tinggi dan menahan likuiditas global tetap ketat.

Titik penentu berikutnya ada pada daya serap pasar obligasi dalam menyerap pasokan lelang surat utang baru. Selama pasar belum menemukan titik keseimbangan harga yang stabil pada U.S. Treasuries, alokasi aset global akan terus bergerak defensif.