LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Peta Data Center RI: Ambisi 2,7 GW dan Realitas Emiten

Kapasitas data center diproyeksikan 2,7 GW pada 2030. TLKM memperluas NeutraDC, GOTO merilis AI lokal, sementara proyek DOOH masih tahap MoU.


Key Takeaways

  • Kapasitas data center Indonesia diproyeksikan naik dari 500 MW pada 2025 menjadi 2,7 GW pada 2030, dengan nilai pasar mencapai US$ 3,48 miliar di 2031.
  • TLKM mengejar target kapasitas 60 MW di akhir 2026 bermodal capex Rp 10,8 triliun dan sisa alokasi buyback saham Rp 3 triliun.
  • Rencana AI data center 1,6 GW milik DOOH masih berada di tahap nota kesepahaman (MoU), berbeda dengan ekspansi fisik terukur milik TLKM.

Pasar data center nasional diproyeksikan tumbuh dari 500 MW pada 2025 ke 2,7 GW pada 2030, sejalan dengan rencana Perpres yang mendorong sebaran proyek ke luar Jawa dan Batam. Nilai pasarnya ditaksir naik dari US$ 1,61 miliar pada 2025 ke US$ 3,48 miliar pada 2031. Di bursa, pembeda utamanya terlihat jelas: siapa yang membangun fisik dan siapa yang baru memegang komitmen awal.

TLKM Eksekusi NeutraDC dengan Amunisi Kas Kuat

TLKM membidik kapasitas 60 MW pada akhir 2026 lewat NeutraDC, melanjutkan realisasi semester I 2026 yang menyentuh 49,9 MW. Portofolio fisiknya bertumpu pada Cikarang tahap pertama sebesar 21,5 MW—dengan tahap kedua direncanakan mulai 2027—serta Batam tahap pertama sebesar 18 MW.

Ekspansi ini ditopang anggaran belanja modal Rp 10,8 triliun pada 2026. TLKM juga memegang sisa alokasi buyback saham sekitar Rp 3 triliun hingga Juni 2027 dari pagu maksimal Rp 4 triliun. Integrasi jaringan kabel bawah laut dan pusat data memberi keunggulan langsung bagi TLKM untuk menangkap kebutuhan komputasi domestik.

GOTO Masuk Model Bahasa, DOOH Masih Tahap MoU

Dari sisi ekosistem software, GOTO mengambil celah pengembangan large language model berukuran 27 miliar parameter. Model ini disiapkan dalam format open-source dengan opsi on-premise yang mendukung bahasa Indonesia dan empat bahasa daerah (Jawa, Sunda, Bali, Batak) untuk kebutuhan pelaku usaha serta lembaga publik.

Sebaliknya, DOOH memajang angka kapasitas jumbo melalui kerja sama dengan Jiangxi Jiusheng, CSCEC Third Bureau, dan GOME FinTech untuk PLTS 2 GW dan AI data center 1,6 GW. Proyek ini masih berstatus Nota Kesepahaman (MoU) dengan tahap awal beban komputasi 50 MW, sehingga realisasi fisiknya tetap perlu diverifikasi sebelum diperhitungkan ke harga saham.

Batas Nyata Ada di Pasokan Listrik dan Daya Serap

Target kapasitas 2,7 GW memerlukan pasokan listrik yang andal dan kesiapan kabel bawah laut. Kecepatan pasar menyerap kapasitas baru akan menjadi pemisah antara aset yang benar-benar menghasilkan arus kas dan proyek yang berhenti di atas kertas.