Screening valuasi 45 saham LQ45: BMRI pimpin dividen 13,5%, BBTN tawarkan PER 3,6x, dan 11 saham ber-PBV di bawah 1x dengan ROE dua digit.
Key Takeaways
- BMRI dan BBRI mencatat dividend yield tertinggi di sektor perbankan, masing-masing 13,5% dan 11,2%.
- Ada 11 saham di LQ45 yang diperdagangkan dengan PBV di bawah 1x sekaligus menghasilkan ROE di atas 10%, dipimpin BBTN (0,40x) dan JSMR (0,50x).
- Valuasi buku terendah dipegang SMGR pada PBV 0,23x, namun ROE perseroan tertahan di level 0,9%.
Sebanyak 13 saham di indeks LQ45 kini menawarkan dividend yield di atas 8%. Angka ini memberi bantalan arus kas langsung bagi pemegang saham tanpa harus bergantung penuh pada pergerakan harga pasar modal.
Saham Perbankan dan Celah Dividen Dua Digit
Tiga bank BUMN besar berada di barisan terdepan pembagian dividen tunai. BMRI memimpin dengan dividend yield 13,5% pada rasio PER 6,0x dan PBV 1,32x, didukung ROE 21,9%. Di posisi berikutnya, BBRI mencatat yield 11,2% dengan ROE 19,0% dan PBV 1,45x, sementara BBNI mencatat yield 10,2% pada PBV 0,78x.
Valuasi diskon di sektor finansial ini tidak merata. BBTN tercatat sebagai saham dengan PER terendah di antara 45 emiten, yakni 3,6x dengan PBV 0,40x dan ROE 11,2%, kendati yield dividennya berada di 5,0%. Sebaliknya, BBCA tetap dihargai premium di PBV 2,78x dan PER 12,9x, mencerminkan kualitas neraca yang dinilai pasar lebih defensif dengan rasio utang DER hanya 0,01x.
Membedakan Diskon Riil dari Value Trap
Rendahnya rasio PBV sering mengecoh jika tidak disandingkan dengan profitabilitas. Dari 45 saham yang dipantau, 11 emiten berhasil mempertahankan PBV di bawah 1x dengan ROE minimal 10%. Kelompok ini mencakup INTP (PBV 0,76x, ROE 10,6%, DY 9,6%), ASII (PBV 0,81x, ROE 12,9%, DY 8,4%), serta ADRO (PBV 0,87x, ROE 11,9%, DY 10,5%). Kombinasi neraca yang terkendali dan arus kas dividen menjaga saham-saham ini dari risiko jebakan valuasi murah.
Kondisi berbeda terlihat pada SMGR. Saham semen ini mencatat PBV terendah di bursa sebesar 0,23x. Namun, ROE perseroan hanya berada di 0,9% dengan PER 26,8x. Pasar memberi diskon karena kemampuan mencetak laba terhadap ekuitas yang melemah. Hal serupa terjadi pada EXCL, yang mencatat yield 10,3% tetapi membukukan ROE minus 14,5% dan rasio utang DER 2,06x.
Kunci membaca valuasi saat ini terletak pada kesinambungan laba bersih untuk menopang dividen tahun berjalan. Selama tingkat utang terkendali dan profitabilitas modal tidak tergerus, emiten ber-PBV rendah dengan ROE di atas 10% memiliki ruang normalisasi harga yang lebih rasional.