LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Pola Musiman US Treasury: Tekanan Masih Ada di Oktober

Median return US Treasury tercatat -0,71% tiap Oktober. Koreksi obligasi global ini menekan likuiditas pasar berkembang sebelum potensi rebound pada November.


Key Takeaways

  • Median imbal hasil bulanan US Treasury pada Oktober tercatat -0,71% sepanjang 2016–2025, menjadikannya bulan terburuk kedua dalam setahun setelah September (-0,86%).
  • Kontrak berjangka 10Y Treasury Note sudah terkoreksi -2,85% sepanjang September berjalan, menuju catatan bulanan terlemah sejak 2022.
  • Obligasi pemerintah global ikut turun -2,1%, menandai performa September terlemah sejak 2023.
  • Pembalikan arah musiman historis baru terjadi di November dengan rata-rata median penguatan +0,69%.

September tahun ini memberi tekanan nyata bagi pasar surat utang dunia. Kontrak berjangka 10Y Treasury Note sudah terkoreksi -2,85% sepanjang bulan berjalan, mencatatkan laju bulanan terlemah sejak 2022. Pada saat yang sama, indeks obligasi pemerintah global turun -2,1%, menjadi catatan September paling lesu sejak 2023.

Pelemahan ini bukan anomali sesaat. Jika ditarik ke belakang, pergerakan surat utang pemerintah Amerika Serikat memang memiliki pola musiman yang cukup konsisten, dan data menunjukkan tekanan tersebut belum tentu berakhir begitu September ditutup.

Oktober Masih Menjadi Beban Musiman Surat Utang

Data historis dari rentang 2016 hingga 2025 memperlihatkan bahwa tekanan jual di pasar obligasi AS jarang berhenti begitu kalender berganti ke bulan Oktober. Median imbal hasil bulanan US Treasury pada Oktober berada di angka -0,71%. Angka ini menempatkan Oktober tepat di belakang September, yang secara historis mencatatkan median return -0,86%.

Pergerakan harga obligasi bekerja berkebalikan dengan suku bunga atau yield. Saat harga obligasi turun, yield otomatis naik karena pembeli di pasar sekunder meminta bunga riil yang lebih tinggi dari kupon awal yang tetap. Bayangkan seseorang menjual voucer belanja senilai Rp1.000.000 dengan potongan harga. Jika pembeli di pasar sepi, penjual terpaksa melepas voucer tersebut di harga Rp900.000. Nilai voucer tetap sama, tetapi pembeli menikmati keuntungan yang lebih lebar. Hal serupa terjadi pada US Treasury: koreksi harga -2,85% di bulan September berarti biaya pinjaman acuan global justru merangkak naik.

Efek Kenaikan Yield Global ke Aliran Modal Asing

Ketika yield US Treasury bertahan tinggi atau kembali naik sepanjang September dan Oktober, efeknya langsung sampai ke pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Pengelola dana global memiliki pilihan aset yang sangat likuid dengan risiko gagal bayar mendekati nol di surat utang AS dengan imbal hasil menarik.

Kondisi ini membuat selisih imbal hasil antara Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia dan US Treasury menyempit. Arus dana asing (foreign flow) cenderung melambat atau mencatatkan jual bersih di pasar modal domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) kerap merespons fase ini dengan pergerakan mendatar atau terkoreksi, terutama pada saham-saham perbankan berkapitalisasi besar seperti BBCA, BBRI, dan BMRI yang menjadi wadah utama dana asing.

Selain sektor perbankan, saham sektor teknologi dan properti juga menghadapi tantangan valuasi. Ketika yield acuan bebas risiko (risk-free rate) naik, angka pembagi dalam perhitungan nilai wajar saham ikut membesar, menekan valuasi saham-saham yang mengandalkan proyeksi pertumbuhan laba di masa depan. Beban bunga pinjaman juga langsung membebani laba bersih emiten yang memiliki porsi utang berbunga mengambang cukup besar.

Kapan Peluang Pembalikan Arah Terbuka?

Bagi pelaku pasar di bursa saham, membaca pola musiman ini memberi panduan alokasi portofolio. Berdasarkan catatan historis satu dekade terakhir, titik balik musiman obligasi biasanya baru terbentuk pada November. Median return US Treasury di bulan November tercatat +0,69%, catatan bulanan terbaik sepanjang tahun.

Data tersebut menunjukkan bahwa pengetatan likuiditas global cenderung mencapai titik jenuh pada Oktober sebelum akhirnya mereda menjelang akhir tahun. Selama yield obligasi AS belum membentuk titik puncak lokal, membuka posisi beli secara agresif pada saham-saham berbeta tinggi masih membawa risiko fluktuasi harga yang lebar.

Hal yang bisa mengubah thesis musiman ini adalah rilis data inflasi AS yang berada di bawah proyeksi konsensus serta sinyal pelonggaran moneter yang lebih cepat dari bank sentral AS. Jika inflasi mereda lebih cepat, tekanan pada pasar obligasi bisa berhenti sebelum pola musiman Oktober selesai. Namun selama data ketenagakerjaan dan konsumsi AS tetap kuat, pasar surat utang global masih berpotensi menguji level terendah baru sebelum November tiba.