LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Portofolio Naik 30% Ternyata Baru Balik Modal

Daya beli dolar AS terpangkas 23% sejak 2020. Aset yang naik 30% secara nominal secara riil hanya impas. Ini hitungan daya beli riil.


Key Takeaways

  • Daya beli dolar AS terpangkas 23% sejak 2020, menggerus nilai riil uang tunai secara langsung.
  • Portofolio aset yang mencatatkan kenaikan nominal 30% sejak 2020 pada dasarnya baru mencapai titik impas riil.
  • Menyimpan uang tunai terbukti menjadi keputusan yang mengunci penurunan nilai modal dari tahun ke tahun.

Dolar AS telah kehilangan 23% daya belinya sejak 2020. Angka ini mengubah cara membaca seluruh hasil investasi dalam beberapa tahun terakhir: aset yang mencatatkan kenaikan 30% pada periode yang sama sebetulnya baru menyentuh titik impas secara riil.

Ilusi Keuntungan 30 Persen di Atas Kertas

Banyak investor merasa sudah menghasilkan keuntungan ketika melihat portofolio mereka tumbuh 30% sejak 2020. Di atas kertas, angka itu tampak memuaskan. Namun, pasar mengukur kekayaan lewat apa yang bisa dibeli, bukan deretan angka di aplikasi saldo.

Ketika mata uang utama dunia kehilangan 23% nilai belanjanya, batas minimal untuk mempertahankan modal riil otomatis terangkat. Nilai uang 100 pada 2020 kini hanya memiliki daya beli setara 77. Agar daya beli tersebut kembali setara dengan modal awal, nilai aset hari ini harus berada di sekitar 130. Kenaikan 30% itu bukan pertumbuhan kekayaan baru, melainkan sekadar biaya yang harus dipenuhi agar daya beli investor tidak mundur ke belakang.

Menyimpan Kas Menjadi Pilihan Paling Mahal

Sejak beberapa tahun lalu, tesis kami sudah jelas: pegang aset produktif atau tertinggal. Kondisi hari ini menunjukkan secara tepat apa yang kami antisipasi sejak awal. Mereka yang memilih mendiamkan uang tunai di rekening dengan dalih menghindari risiko pasar justru menanggung kepastian penurunan nilai modal.

Uang tunai sering dianggap tempat berlindung paling tenang karena nilainya tidak bergerak naik-turun setiap hari di layar. Padahal, penurunan daya beli sebesar 23% bekerja tanpa henti. Tidak ada catatan kerugian di rekening koran, tetapi jumlah barang riil yang bisa dibawa pulang terus menyusut. Memegang kas terbukti menjadi langkah yang paling mahal dalam menjaga daya beli.

Arah Daya Beli Menentukan Standar Imbal Hasil

Jika tren penurunan daya beli mata uang terus berlanjut, maka target imbal hasil minimal yang harus dicapai investor agar modalnya benar-benar berkembang akan bergeser jauh melampaui level 30%. Sebaliknya, jika daya beli uang mulai stabil dan laju penurunan mata uang mereda, maka pertumbuhan portofolio yang moderat sudah cukup untuk mencetak imbal hasil riil yang positif.

Yang menentukan ke depan adalah kemampuan aset menghasilkan imbal hasil di atas laju pelemahan daya beli mata uang acuan. Angka hijau di laporan portofolio tidak lagi cukup menjadi patokan jika nilai tukar uangnya sendiri terus tergerus di belakang layar.