Pasar properti China melemah dan stimulus cuma 0,6% PDB, tapi tembaga dan batu bara bertahan karena hambatan suplai. Ini data lapangannya.
Key Takeaways
- Reformasi presale properti China memangkas sumber dana pengembang hingga 30%, menunda pemulihan sektor fisik melewati 2028.
- Paket stimulus terbaru sekitar 0,6% dari PDB hanya menjadi bantalan penahan penurunan, bukan pengubah arah tren ekonomi lama.
- Harga logam bertahan bukan karena permintaan yang kuat, melainkan hambatan suplai: treatment charges (TC) tembaga jatuh ke minus US$225 per ton dan utilisasi tambang batu bara Shanxi tertahan di 74%.
Permintaan baja China bergerak turun ke kisaran minus 2% untuk 2026. Margin pabrik baja tertekan hingga menyisakan kurang dari 10% produsen yang masih mencetak laba operasional. Namun, harga komoditas logam secara keseluruhan tidak jatuh ke titik terendah. Penopang utamanya bukan lonjakan permintaan, melainkan pengetatan di sisi suplai.
Aturan Presale Baru Menunda Titik Balik Sektor Properti
Kebijakan penjualan rumah per akhir Agustus mengubah total likuiditas pengembang. Izin presale kini ditahan sampai struktur utama gedung selesai dibangun. Skema ini menahan akses kas masuk pengembang hingga 12 sampai 18 bulan ke depan. Padahal, uang muka konsumen selama ini menopang 30% total pendanaan proyek properti.
Efek aturan ini akan terlihat penuh pada 2027, dengan proyeksi penjualan lahan dan pembangunan proyek baru turun antara 20% hingga 30%. Stimulus subsidi bunga hipotek sebesar 1% yang baru digulirkan pemerintah pusat bernilai sekitar 0,6% dari PDB, tetapi nilainya terlalu kecil untuk mengubah jalur kontraksi properti. Pemulihan sektor konstruksi fisik bergeser mundur melampaui 2028, membuat permintaan baja dan semen tetap berada di bawah tekanan.
Hambatan Pasokan Menjaga Harga Tembaga dan Batu Bara
Di tengah pelemahan ekonomi lama, tembaga mencatatkan ketahanan paling kuat. Keterbatasan konsentrat membuat tarif pengolahan spot (treatment charges) jatuh ke kisaran minus US$225 per ton. Smelter di China kini merugi sekitar RMB2.091 per ton dan pemerintah menyetop perizinan smelter baru yang tidak memiliki tambang sendiri.
Di sisi hilir, permintaan tembaga tertolong belanja jaringan listrik yang diproyeksikan tumbuh 40% hingga 2030, serta ekspansi pusat data. Hal serupa terjadi pada batu bara kokas (coking coal). Pengetatan audit keselamatan di Shanxi menahan utilisasi tambang di level 74%, menjaga batas bawah harga impor laut di kisaran US$240 per ton.
Pasokan Simandou Jadi Ujian Bijih Besi
Bijih besi masih bertahan di kisaran US$93 per ton menuju Tahun Baru Imlek, terbantu penurunan produksi konsentrat lokal China sebesar 6% dan tingginya biaya angkut kapal. Namun, daya tahan ini bersifat musiman.
Titik rawan bijih besi ada pada 2027 hingga 2028 saat proyek Simandou di Guinea mulai mengalirkan 70 hingga 100 juta ton pasokan berbiaya rendah ke pasar. Begitu pasokan baru masuk dan biaya logistik laut kembali normal, batas biaya marginal bijih besi berpotensi turun di bawah US$90 per ton.