LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Rasio Utang Negara Maju 108,2%, Jepang 204,4%

Rata-rata rasio utang negara maju mencapai 108,2% PDB. Jepang catat 204,4% dan AS 125,8%, mendekati rekor era pandemi. Simak pembacaan pasarnya.


Key Takeaways

  • Rata-rata rasio utang pemerintah terhadap PDB di negara maju menyentuh level 108,2%.
  • Jepang mencatat rasio tertinggi di dunia pada angka 204,4%, disusul Italia 138,4% dan Amerika Serikat 125,8%.
  • Tingkat utang Amerika Serikat kini mendekati rekor tertingginya di kisaran 132,0% saat pandemi 2020.
  • Jerman menjadi satu-satunya kekuatan ekonomi utama dengan rasio utang di bawah 100,0%, yakni 64,6%.

Rata-rata rasio utang pemerintah terhadap produk domestik bruto di kelompok negara maju kini menyentuh 108,2%. Angka ini memperlihatkan tumpukan utang publik terbesar dalam sejarah modern di luar masa krisis besar, melampaui kemampuan laju ekonomi riil negara-negara tersebut untuk mengejar ketertinggalan.

Beban Fiskal Menumpuk di Atas Seratus Persen

Jepang menempati urutan teratas dengan rasio Debt-to-GDP bruto sebesar 204,4%, posisi paling tinggi di antara seluruh negara ekonomi utama dunia. Di belakangnya, Italia mencatat 138,4%. Amerika Serikat menyusul di urutan berikutnya dengan rasio 125,8%, posisi yang saat ini hanya terpaut tipis dari rekor tertinggi sepanjang masa di kisaran 132,0% yang tercatat sewaktu pandemi 2020.

Kondisi serupa dialami negara-negara barat lainnya. Prancis berada di level 118,4%, Kanada 110,7%, China 106,9%, dan Inggris 103,6%. Praktis hampir semua pemain utama dunia kini mengoperasikan anggaran dengan beban utang yang melampaui total output tahunan mereka sendiri. Pengecualian tunggal datang dari Jerman, yang bertahan di angka 64,6% dan menjadi satu-satunya ekonomi besar dengan rasio di bawah batas 100,0%.

Pasar Obligasi Menanggung Beban Terbesar

Kondisi ini langsung terasa di pasar surat utang. Ketika tumpukan kewajiban melewati 100% dari ukuran ekonomi, kas negara tidak lagi cukup mengandalkan pendapatan pajak rutin. Pemerintah terpaksa menerbitkan obligasi baru terus-menerus dalam jumlah besar hanya untuk membayar pokok pinjaman dan bunga dari surat utang yang jatuh tempo.

Banjir suplai surat utang negara ini otomatis menyedot likuiditas tunai dari pasar keuangan. Konsekuensinya, pasar menaikkan batas bawah biaya pinjaman dan menuntut yield yang lebih tinggi agar mau menyerap lelang obligasi pemerintah tersebut. Bagi negara dengan rasio utang di atas 200% seperti Jepang, ruang bank sentral untuk menaikkan suku bunga menjadi sangat sempit karena kenaikan bunga sedikit saja akan langsung membebani pos pembayaran bunga di anggaran belanja negara.

Dua Arah yang Menentukan Pasar Selanjutnya

Jika pemerintah negara-negara dengan rasio di atas 100% mulai memangkas belanja publik atau menaikkan tarif pajak untuk menahan laju utang, maka pertumbuhan ekonomi berisiko melambat dan valuasi saham di sektor siklikal akan tertekan. Sebaliknya, jika penerbitan utang baru terus digenjot untuk menopang belanja, maka pasar obligasi akan meminta yield yang semakin tinggi dan menekan nilai tukar mata uang negara tersebut berhadapan dengan mata uang negara yang neracanya lebih disiplin seperti Jerman.

Fokus pasar sekarang ada pada kemampuan investor menyerap lelang surat utang baru tanpa meminta premi tambahan. Jarak antara negara dengan timbunan utang tebal seperti Amerika Serikat di 125,8% dan negara dengan neraca lebih ramping seperti Jerman di 64,6% akan menjadi kompas pemodal dalam mengalokasikan modal global.