CapEx AI naik 36% dan yield US Treasury bertahan di 4,40%. Simak bedah valuasi S&P 500, rotasi ke saham SMID, dan peluang di kredit berimbal hasil tinggi.
Key Takeaways
- Yield US Treasury 10-tahun bertahan di kisaran 4,40% menyusul meredanya harga minyak, mendorong pasar obligasi meminta term premia lebih tinggi seiring kuatnya pertumbuhan ekonomi nominal.
- Konsensus belanja modal (CapEx) raksasa teknologi untuk 2026 direvisi naik 36% akibat kebutuhan komputasi sistem agentic AI yang menyerap token hingga 15 kali lipat lebih banyak.
- Rasio forward P/E S&P 500 berada di 20,0x (di bawah rata-rata 5 tahun 20,2x), menandakan penguatan indeks murni ditopang revisi laba, bukan penggelembungan valuasi.
- Alokasi unggulan beralih ke saham berkapitalisasi kecil-menengah (SMID), perbankan Eropa dan Jepang, serta kredit berimbal hasil tinggi seperti bank loans dan MBS.
Yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun kini bertahan di sekitar 4,40%, turun dari puncaknya di 4,65% pada pertengahan Mei setelah lalu lintas kapal di Selat Hormuz mulai pulih dan harga minyak turun. Namun, jangan salah baca arah: era suku bunga rendah tidak kembali. Ekonomi global sedang menetap di rezim pertumbuhan nominal yang lebih tinggi, di mana inflasi tertahan di atas target 2% dan pertumbuhan riil ditopang belanja modal yang terus membesar.
Laba Bertumbuh, Valuasi AI Justru Turun
Lima raksasa teknologi dunia—Microsoft, Google, Amazon, Meta, dan Oracle—menaikkan perkiraan belanja modal 2026 hingga 36% sejak awal tahun. Pemicunya adalah pergeseran dari sekadar chat interactions menuju agentic AI. Sistem multi-agen bekerja otomatis tanpa jeda dan membutuhkan token komputasi hingga 15 kali lipat lebih banyak dibanding aplikasi obrolan biasa.
Kabar baiknya, lonjakan belanja ini tidak diiringi kenaikan valuasi yang berlebihan. Rasio forward P/E S&P 500 bertengger di 20,0x, masih di bawah rata-rata lima tahunnya di level 20,2x. Penguatan pasar saham murni digerakkan oleh kenaikan laba bersih per saham (EPS). Keranjang saham AI global bahkan mengalami penurunan valuasi relatif terhadap MSCI ACWI selama tiga tahun terakhir karena pasar belum sepenuhnya memperhitungkan daya tahan laba tersebut.
Rotasi ke Saham Siklikal dan Kredit Berimbal Hasil Tinggi
Indeks manufaktur AS yang bertahan di zona ekspansi di atas 50 selama enam bulan berturut-turut membuka jalan bagi pelebaran pasar. Saham berkapitalisasi kecil dan menengah (SMID cap) menjadi pilihan menarik karena valuasi relatifnya mendekati level terendah historis terhadap saham berkapitalisasi besar, didukung oleh pemulihan sektor industri domestik.
Di pasar luar AS, sektor perbankan Eropa dan Jepang menjadi motor utama. Bank Jepang diuntungkan oleh berlanjutnya siklus kenaikan bunga Bank of Japan, sedangkan bank Eropa menikmati pertumbuhan kredit baru dan lonjakan belanja kelistrikan yang mencapai €78 miliar hingga €103 miliar per tahun untuk proyek ketahanan energi.
Di pasar pendapatan tetap, surat utang korporasi berperingkat investment grade (IG) kurang menarik karena selisih imbal hasil terhadap US Treasury berada di titik terendah. Ruang imbal hasil yang lebih menarik kini berada di bank loans dan mortgage-backed securities (MBS) yang memiliki kupon mengambang dan tahan terhadap kurva yield obligasi yang mengalami steepening.
Pelebaran reli ini hanya bergantung pada satu hal: yield US Treasury 10-tahun tidak kembali menembus level 4,65%. Selama yield obligasi acuan tersebut tertahan, pertumbuhan laba nominal akan terus menguntungkan pemilik saham dan menekan imbal hasil obligasi berdurasi panjang.