Sejak 1950, S&P 500 mencatatkan rata-rata return 17,2% pada tahun setelah midterm, dua kali lipat lebih tinggi dari fase lain dalam siklus presiden AS.
Key Takeaways
- Rata-rata return indeks S&P 500 mencapai 17,2% pada tahun setelah pemilu paruh waktu (midterm elections) sejak 1950.
- Perolehan 17,2% tersebut tercatat lebih dari dua kali lipat dibanding rata-rata tahun mana pun dalam siklus empat tahunan presiden.
- Kejelasan peta politik pascapemilu secara historis menurunkan premi risiko dan membuka ruang ekspansi valuasi saham.
Catatan historis sejak 1950 menunjukkan bahwa tahun setelah pemilu paruh waktu (midterm elections) merupakan periode paling menguntungkan bagi bursa saham Amerika Serikat. Indeks S&P 500 membukukan rata-rata return sebesar 17,2% pada fase tersebut. Angka ini tercatat lebih dari dua kali lipat capaian rata-rata pada tahun-tahun lain dalam siklus empat tahunan kepresidenan.
Kenapa Periode Pasca Midterm Selalu Jadi yang Terkuat
Pola musiman ini terbentuk karena pasar saham membenci ketidakpastian. Menjelang midterm, harga saham cenderung tertekan oleh kekhawatiran perubahan regulasi, tarif pajak, dan pergeseran kekuatan politik di Kongres. Begitu proses pemilihan selesai, ketidakpastian tersebut mereda. Pasar kembali mendapatkan kepastian mengenai arah kebijakan fiskal dan perundang-undangan.
Kondisi politik yang terbelah (split Congress) pasca-midterm kerap kali justru disambut positif oleh bursa. Ketika kekuasaan terbagi antara dua partai, peluang lolosnya regulasi baru yang berpotensi membebani margin laba korporasi menjadi jauh lebih kecil. Pada saat yang sama, memasuki tahun ketiga masa jabatan, pemerintah petahana biasanya mulai memprioritaskan stabilitas ekonomi dan menghindari kebijakan yang tidak populer demi menjaga momentum menjelang pemilihan presiden berikutnya. Penurunan premi risiko politik inilah yang memicu alokasi modal kembali masuk ke pasar saham.
Jalurnya ke Aliran Dana Pasar Berkembang
Penguatan bursa saham global yang dipimpin Wall Street biasanya membawa pengaruh nyata ke bursa negara berkembang, termasuk Indonesia. Ketika S&P 500 mencatatkan penguatan historis rata-rata 17,2%, selera risiko (risk appetite) pengelola dana global ikut terangkat. Modal investasi global cenderung bergerak keluar dari aset kas yang aman untuk mencari potensi imbal hasil yang lebih tinggi di aset ekuitas.
Kendati demikian, arah aliran dana asing (foreign flow) ke pasar berkembang tetap bergantung pada arah pergerakan mata uang dan imbal hasil obligasi. Jika reli saham Amerika Serikat berlangsung beriringan dengan pelemahan dolar AS, bursa domestik berpotensi mendapatkan limpahan modal asing yang cukup besar. Namun, apabila reli tersebut ditopang oleh penguatan ekonomi domestik AS yang membuat nilai tukar dolar tetap bertahan tinggi, arus modal global cenderung tetap berputar di dalam pasar saham AS.
Yang Menentukan Keberhasilan Pola Historis Ini
Pola historis memberikan gambaran probabilitas, tetapi bukan garansi mutlak. Jika kondisi inflasi terkendali dan pertumbuhan laba korporasi mampu bertahan stabil, maka reli 17,2% pasca-midterm berpeluang besar untuk kembali terulang sesuai pola masa lalunya. Sebaliknya, jika tekanan makro berupa suku bunga tinggi bertahan lebih lama dan mengikis margin laba korporasi, maka pola musiman ini bisa terhambat dan menghasilkan return yang jauh di bawah rata-rata historisnya.
Fokus utama yang perlu dipantau bukan sekadar siklus kalender politik, melainkan kemampuan pertumbuhan laba bersih emiten untuk mengimbangi ekspektasi pasar yang sudah mulai memperhitungkan reli musiman tersebut.