LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

S&P 500 Tembus Rekor, Kenapa IHSG Tertahan di P/E 9,9x?

S&P 500 mendekati 8.000 ditopang laba 34%, namun yield US Treasury 5,23% menekan pasar berkembang. IHSG kini terdiskon di valuasi 9,9x P/E.


Key Takeaways

  • Pertumbuhan laba konsensus Amerika Serikat sebesar 34% menopang S&P 500 mendekati level 8.000, meski yield US Treasury 10 tahun bertahan tinggi di 5,23%.
  • Beban biaya dana memukul aset sensitif bunga: indeks Russell 2000 turun 10% dari puncak Agustus, sementara IHSG terkoreksi 30% sepanjang tahun berjalan ke level 6.053.
  • Valuasi IHSG kini berada di 9,9x forward P/E, menciptakan jarak valuasi yang lebar terhadap bursa global yang rata-rata diperdagangkan di 18,2x.

S&P 500 bergerak mendekati level 8.000 di tengah harga minyak Brent US$102,9 per barel dan The Fed yang masih membuka peluang kenaikan suku bunga lanjutan. Pasar saham Amerika Serikat bertahan karena ditopang revisi proyeksi laba bersih yang tumbuh 34% — hampir empat kali lipat dari rata-rata historisnya.

Laba Mega Tech Menutup Beban Biaya Dana

Kenaikan indeks acuan Wall Street ini menyembunyikan kerapuhan di bawah permukaan. Reli laba tersebut sangat terkonsentrasi pada segmen kecerdasan buatan (AI) dan komoditas. Ketika saham teknologi raksasa terus melaju, segmen pasar yang sensitif terhadap suku bunga mulai melemah. Russell 2000 turun hampir 10% dari level tertingginya pada Agustus, dan selisih yield obligasi korporasi peringkat rendah mulai melebar.

Yield US Treasury 10 tahun yang berada di 5,23% membuat biaya peluang (opportunity cost) memegang saham menjadi jauh lebih mahal. Bahkan ketika harga minyak WTI turun ke US$90 per barel, yield obligasi tidak turun banyak. Pasokan surat utang pemerintah yang tinggi serta penerbitan obligasi korporasi skala besar untuk mendanai belanja modal AI terus menahan yield di level tinggi.

Jurang Valuasi Membuka Peluang di Pasar Berkembang

Efek dari tingginya yield global ini terasa langsung ke bursa domestik. IHSG turun 30% sejak awal tahun ke level 6.053. Arus dana keluar menekan pasar saham Indonesia hingga valuasi forward P/E berada di 9,9x, jauh di bawah MSCI World di level 18,2x maupun S&P 500 di 21,1x.

Kondisi serupa terjadi di China, di mana deflator PDB mulai berbalik positif setelah tiga tahun mengalami deflasi berkat kebijakan penertiban perang harga. Pertumbuhan laba korporasi domestik China kembali mencatat kenaikan dua digit rendah. Dengan rantai pasok teknologi mandiri yang tidak bergantung pada siklus belanja modal raksasa teknologi AS, valuasi murah di kawasan Asia mulai menawarkan profil imbal hasil yang lebih defensif dibanding mengejar saham bursa barat yang valuasinya sudah mahal.

Kunci arah pergerakan ke depan bertumpu pada musim rilis kinerja keuangan kuartal ketiga. Jika realisasi laba gagal mengimbangi yield obligasi yang bertahan di atas 5%, premi risiko ekuitas global akan menyempit. Di titik itu, saham dengan valuasi di bawah 10x seperti IHSG memiliki bantalan penurunan yang jauh lebih tebal dibanding indeks yang diperdagangkan di valuasi 21x.