LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Stimulus US$4 Triliun dan Beban Pajak Inflasi

Stimulus AS lebih dari US$4 triliun pada 2020 terbukti menjadi pajak tidak langsung lewat inflasi. Simak efeknya ke pemegang kas dan pasar modal.


Key Takeaways

  • Penyaluran stimulus Amerika Serikat senilai lebih dari US$4 triliun pada 2020 menjadi bentuk pajak tidak langsung terbesar dalam sejarah.
  • Inflasi bekerja seperti pungutan pajak terselubung yang memangkas daya beli riil kas tanpa pengesahan undang-undang pajak baru.
  • Beban penurunan nilai dipikul oleh pemegang kas dan pendapatan tetap, sementara debitur dan pemilik modal produktif relatif terlindungi.

Pemerintah Amerika Serikat menyalurkan stimulus lebih dari US$4 triliun pada 2020 untuk menopang perekonomian. Kebijakan darurat ini bukan bantuan cuma-cuma, melainkan pajak tidak langsung terbesar sepanjang sejarah. Penarikan pajak tersebut tidak lewat pemotongan penghasilan formal atau kenaikan tarif di parlemen, melainkan lewat inflasi.

Inflasi Sebagai Cara Memungut Pajak Tanpa Undang-Undang

Ketika jumlah uang beredar ditambah secara besar-besaran sementara ketersediaan barang dan jasa tidak bertambah dengan kecepatan yang sama, daya beli setiap unit mata uang akan turun. Inilah bentuk taxation through inflation. Pemerintah tidak perlu mengumumkan penarikan dana dari rekening warga. Nilai riil uang di dalam rekening itu sendiri yang menyusut saat dipakai berbelanja kebutuhan pokok.

Secara hitungan ekonomi riil, inflasi berfungsi seperti transfer kekayaan. Nilai kas tergerus perlahan karena jumlah unit uang yang mengejar barang riil bertambah terlalu banyak. Pajak tradisional membutuhkan debat politik dan persetujuan formal, sedangkan inflasi memungut biaya dari seluruh pemegang mata uang tanpa pemungutan suara.

Siapa yang Menanggung Beban dan Siapa yang Terlindungi

Kebijakan suntikan likuiditas selalu memisahkan pelaku pasar menjadi dua kelompok. Pihak yang paling tertekan adalah penabung kas murni dan pekerja bergaji tetap yang penyesuaian pendapatannya tertinggal dari laju kenaikan harga barang pokok. Nilai tabungan mereka terpotong secara riil setiap tahun.

Sebaliknya, pihak yang berutang dengan bunga tetap justru mendapat keuntungan karena nilai riil kewajiban mereka menyusut seiring penurunan daya beli mata uang. Pemerintah sebagai penerbit surat utang terbesar ikut diuntungkan karena membayar kembali kewajiban masa lalu dengan nilai uang yang sudah tergerus. Di pasar modal, modal cenderung mengalir ke emiten yang memiliki pricing power kuat, yaitu perusahaan yang mampu meneruskan kenaikan biaya ke harga jual tanpa kehilangan volume penjualan.

Arah Likuiditas dan Ujian Nilai Aset

Jika tekanan inflasi bertahan lama dan ekspansi belanja pemerintah berlanjut, pemegang kas akan terus merugi secara riil sehingga modal akan mencari perlindungan pada saham dengan arus kas sehat dan aset produktif. Sebaliknya, jika otoritas moneter menarik likuiditas terlalu cepat dan menaikkan suku bunga acuan terlalu tinggi untuk menahan harga, valuasi saham akan terkoreksi karena biaya modal naik dan aktivitas bisnis melambat.

Yang perlu dipantau ke depan adalah apakah emiten mampu mempertahankan operating margin di tengah biaya yang bertahan tinggi, serta seberapa jauh kebijakan moneter mampu menyeimbangkan penarikan kelebihan likuiditas tanpa mengorbankan pertumbuhan laba.