Inflasi PCE 3,4% kini hanya diimbangi suku bunga riil 50 bps, jauh di bawah level 2% era Kevin Warsh. Ini artinya bagi pergerakan pasar.
Key Takeaways
- Inflasi PCE saat ini berada di level 3,4%, sama dengan angka inflasi saat Kevin Warsh menjabat sebagai Gubernur The Fed pada pertengahan dekade 2000-an.
- Suku bunga riil (Fed funds rate dikurangi PCE) sekarang hanya berada di level 50 bps, jauh lebih rendah dibandingkan posisi 2% pada pertengahan 2000-an.
- Selisih 150 bps pada suku bunga riil ini menunjukkan posisi kebijakan moneter saat ini belum seketat siklus pengetatan sebelumnya, membatasi ruang penurunan suku bunga acuan.
Inflasi pengeluaran konsumsi pribadi (PCE) saat ini berada di kisaran 3,4%. Angka ini persis sama dengan level inflasi saat Kevin Warsh duduk di dewan Gubernur The Fed pada pertengahan 2000-an. Kendati demikian, tingkat suku bunga riil yang terbentuk di pasar saat ini mencerminkan situasi yang sangat berbeda.
Pada pertengahan 2000-an, suku bunga riil The Fed—yang dihitung dari Fed funds rate dikurangi PCE—berada di kisaran 2%. Hari ini, dengan angka PCE yang identik di 3,4%, suku bunga riil hanya tercatat 50 bps. Ada selisih sebesar 150 bps antara kedua periode tersebut, dan selisih inilah yang menjadi pembeda utama dalam membaca arah pasar ke depan.
Kenapa Suku Bunga Riil 50 bps Masih Terlalu Longgar
Suku bunga riil adalah patokan utama untuk mengukur seberapa ketat kebijakan moneter menahan roda ekonomi. Ketika PCE berada di level 3,4% dan suku bunga riil hanya 50 bps, tekanan moneter terhadap inflasi sebenarnya tergolong tipis. Posisi ini jauh lebih longgar jika disandingkan dengan periode pertengahan 2000-an, saat The Fed memasang bantalan suku bunga riil hingga 2% untuk menghadapi inflasi di level yang sama.
Artinya, suku bunga acuan sekarang belum memberi rem yang cukup kuat ke perekonomian. Jika bank sentral ingin mencapai tingkat pengetatan riil yang setara dengan siklus pertengahan 2000-an, suku bunga acuan semestinya berada lebih tinggi. Ruang bagi The Fed untuk menurunkan suku bunga acuan menjadi sangat sempit selama suku bunga riil masih tertahan di 50 bps.
Dolar Bertahan Tinggi dan Menahan Foreign Flow Masuk
Kondisi suku bunga riil yang tipis ini berdampak langsung ke pasar obligasi dan pergerakan dana global. Di pasar obligasi, investor menahan diri untuk masuk ke surat utang tenor panjang karena imbal hasil riil 50 bps tidak memberi kompensasi yang cukup aman terhadap risiko inflasi yang bertahan di 3,4%.
Situasi ini juga membuat dolar AS bertahan kuat karena bank sentral terpaksa mempertahankan suku bunga acuan di level tinggi lebih lama agar suku bunga riil tidak jatuh. Dolar AS yang kokoh menahan laju aliran dana asing atau foreign flow masuk ke pasar berkembang, termasuk Indonesia. Saham-saham berkapitalisasi besar yang bergantung pada aliran dana global pun mengalami tekanan pada valuasi mereka.
Arah Pasar Ditentukan oleh Kecepatan Penurunan Inflasi
Jika inflasi PCE tetap tertahan di level 3,4% atau berbalik naik, maka The Fed akan dipaksa menahan suku bunga acuan lebih lama untuk mencegah suku bunga riil tergerus, yang pada gilirannya menekan valuasi saham dan menahan gerak indeks. Sebaliknya, jika data PCE berikutnya turun mendekati target tanpa pelemahan ekonomi yang dalam, maka suku bunga riil akan melebar secara alami tanpa memerlukan kenaikan suku bunga acuan tambahan, membuka ruang bagi pemulihan harga obligasi dan masuknya aliran modal ke pasar berkembang.
Fokus pasar saat ini bukan lagi menebak kapan pemangkasan suku bunga acuan dimulai, melainkan menguji apakah suku bunga riil 50 bps ini cukup memadai untuk menekan inflasi tanpa pengetatan tambahan.