Suplai M2 gabungan AS dan China naik $7,9 triliun YoY ke rekor $76,4 triliun. Simak efek limpahan likuiditas global ini ke valuasi saham dan aset riil.
Key Takeaways
- Gabungan suplai uang M2 Amerika Serikat dan China mencetak rekor tertinggi di angka $76,4 triliun pada Agustus, bertambah $7,9 triliun dalam kurun satu tahun.
- Total M2 kedua negara adidaya ini sudah naik lebih dari dua kali lipat dibanding posisinya 10 tahun lalu.
- China mendominasi dengan M2 sebesar $53,1 triliun, sementara M2 Amerika Serikat menyentuh level tertinggi baru di $23,3 triliun.
Sebanyak $7,9 triliun uang baru beredar di sistem keuangan Amerika Serikat dan China hanya dalam 12 bulan terakhir. Angka tersebut membawa total gabungan suplai uang M2 kedua kekuatan ekonomi dunia ini ke rekor baru sebesar $76,4 triliun per Agustus. Dalam kurun 10 tahun terakhir, jumlah uang beredar gabungan ini sudah naik lebih dari dua kali lipat.
China Memegang Porsi Terbesar Pasokan Uang
Porsi terbesar datang dari China. M2 China berada di angka $53,1 triliun, atau hampir 70% dari total gabungan kedua negara. Sementara itu, M2 Amerika Serikat tercatat sebesar $23,3 triliun. Keduanya kini berada di level tertinggi sepanjang sejarah.
Suplai M2 mengukur uang beredar luas, mencakup uang tunai, giro, tabungan, hingga deposito berjangka pendek. Pertambahan $7,9 triliun dalam setahun menunjukkan likuiditas nominal yang sangat besar tengah mengalir ke sistem keuangan global.
Ke Mana Aliran Likuiditas Baru Ini Bergerak
Pertambahan pasokan uang sebesar ini memengaruhi harga aset secara langsung. Ketika pasokan mata uang fiat bertambah lebih cepat daripada suplai barang, nilai riil uang tunai cenderung turun. Uang berlebih ini biasanya mencari aset yang mampu melindungi daya beli, seperti saham dengan neraca kuat, komoditas, dan aset riil.
Bagi pasar saham, likuiditas adalah bahan bakar utama valuasi. Perusahaan yang memiliki pricing power mampu menaikkan harga jual produk saat biaya nominal naik, sehingga laba bersih mereka tetap terlindungi. Sebaliknya, pihak yang memegang kas tunai dalam jangka panjang menanggung penurunan daya beli modal mereka.
Pasar berkembang seperti Indonesia juga merasakan efek limpahan modal ini. Saat likuiditas di dua ekonomi terbesar melimpah, dana global mencari imbal hasil riil yang lebih menarik di luar pasar domestik mereka. Jalurnya terlihat dari arus masuk dana asing (foreign flow) ke bursa saham dan obligasi pemerintah.
Arah Pasar Bergantung pada Perputaran Kredit Riil
Jika likuiditas ini berhasil mengalir ke sektor riil serta mendorong konsumsi dan investasi produktif, harga komoditas dan saham pasar berkembang berpeluang mempertahankan tren penguatan. Sebaliknya, jika pasokan uang baru ini hanya tertahan di neraca perbankan sebagai simpanan pasif tanpa perputaran kredit, pertumbuhan laba emiten akan tertahan dan reli pasar saham berisiko kehilangan tenaga.
Yang menentukan arah berikutnya adalah apakah pertambahan suplai uang ini memicu kenaikan inflasi konsumen di Amerika Serikat dan China. Jika inflasi kembali naik dan memaksa bank sentral memperketat peredaran uang, pasar aset berisiko akan langsung menghadapi batas atas kenaikannya.