The Fed diproyeksikan menaikkan suku bunga 25 bps pada Desember 2026 dan Maret 2027 seiring ekonomi AS yang diperkirakan bertahan kuat hingga 2028.
Key Takeaways
- Suku bunga acuan The Fed diproyeksikan naik dua kali: 25 bps pada Desember 2026 dan 25 bps pada Maret 2027.
- Ketahanan ekonomi Amerika Serikat diperkirakan berlanjut hingga 2028, mematahkan ekspektasi penurunan bunga berkepanjangan.
- Dolar AS berpotensi bertahan kuat lebih lama, membatasi ruang pemangkasan bunga domestik dan menahan arus dana asing ke pasar berkembang.
Ekspektasi pemangkasan bunga acuan global menghadapi pembalikan arah. Arah kebijakan moneter The Fed kini diperkirakan berbalik menaikkan suku bunga sebesar 25 bps pada Desember 2026, yang kemudian disusul 25 bps berikutnya pada Maret 2027. Skenario pengetatan lanjutan ini bertumpu pada satu data fundamental: ekonomi Amerika Serikat diperkirakan tetap bertahan kokoh hingga 2028 tanpa mengalami resesi.
Dua Kenaikan Bunga Mengubah Arah Biaya Modal Global
Ekspektasi pasar selama ini bersandar pada asumsi bahwa era suku bunga tinggi akan segera melandai seiring normalisasi ekonomi. Namun, proyeksi kenaikan total 50 bps dalam rentang empat bulan membongkar perhitungan dasar para pengelola dana. Selama ekonomi AS mampu berekspansi hingga 2028, bank sentral tidak memiliki alasan mendesak untuk melonggarkan likuiditas.
Kondisi tersebut menahan yield obligasi pemerintah AS tetap berada di posisi tinggi. Ketika surat utang AS memberi imbal hasil menarik tanpa risiko kredit, biaya modal atau cost of capital global otomatis terkunci tinggi. Saham bervaluasi mahal dengan kelipatan laba tinggi menjadi pihak pertama yang tertekan, mengingat proyeksi arus kas masa depan harus dinilai dengan suku bunga diskonto yang lebih tinggi.
Dolar Bertahan Kuat, Pasar Domestik Menghadapi Tekanan Dana
Daya tahan ekonomi AS yang berlanjut hingga 2028 memberi topangan tambahan bagi pergerakan dolar AS. Dengan terbukanya ruang kenaikan suku bunga di akhir 2026 dan awal 2027, foreign flow cenderung bertahan di pasar negara maju daripada mengalir bebas ke aset pasar berkembang.
Bagi pasar modal Indonesia, kondisi ini langsung memberi imbas ke pergerakan nilai tukar rupiah. Ruang gerak Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga acuan domestik menjadi sangat sempit, karena pelonggaran yang terlalu dini berisiko memperlebar selisih imbal hasil dengan AS. Emiten dengan beban utang berdenominasi dolar akan menanggung biaya bunga dan selisih kurs yang menekan laba bersih. Sebaliknya, emiten eksportir yang mencatatkan pendapatan dolar dengan struktur biaya operasional rupiah berada di posisi yang jauh lebih terlindungi.
Kondisi yang Menentukan Keberlanjutan Proyeksi
Pergerakan pasar saham dan obligasi ke depan akan sangat ditentukan oleh data riil aktivitas ekonomi AS. Jika ekonomi AS terbukti bertahan kuat hingga 2028 dan inflasi tetap bertahan, maka kenaikan 25 bps pada Desember 2026 serta 25 bps pada Maret 2027 akan dieksekusi, memaksa pasar menerima era biaya modal tinggi lebih lama dan menahan laju IHSG. Sebaliknya, jika data aktivitas ekonomi mulai melemah mendahului jadwal tersebut sebelum akhir 2026, maka rencana kenaikan suku bunga ini akan dibatalkan, memberi kesempatan bagi yield obligasi untuk melandai dan memicu kembalinya aliran dana asing ke bursa saham domestik. Fokus pasar saat ini tertuju penuh pada kemampuan ekonomi AS mempertahankan laju pertumbuhannya.