The Fed berencana memangkas rapat FOMC dari 8 menjadi 6 kali per tahun. Sikap wait and see ini menegaskan era suku bunga tinggi belum berakhir.
Key Takeaways
- The Fed memangkas jadwal rapat penentuan bunga dari 8 kali menjadi 6 kali per tahun mulai 2028, serta menghapus 1 hak suara pada musim gugur 2027.
- Bank sentral menolak anggapan bahwa kondisi likuiditas saat ini sudah ketat, mengindikasikan ruang pelonggaran moneter masih sangat terbatas.
- Inflasi Amerika Serikat masih bertahan di level tinggi dan The Fed resmi berada di mode wait and see, menahan yield obligasi global di level tinggi lebih lama.
- Bagi pasar saham domestik, berkurangnya frekuensi rapat moneter memusatkan volatilitas foreign flow dan menahan ruang penurunan suku bunga acuan Bank Indonesia.
Jadwal pertemuan penentuan suku bunga acuan The Fed yang selama ini digelar 8 kali setahun akan dipangkas menjadi 6 kali per tahun mulai 2028. Rencana perubahan struktural ini didahului dengan penghapusan 1 hak suara penentu kebijakan pada musim gugur 2027. Keputusan tersebut diambil bersamaan dengan pernyataan resmi bahwa inflasi Amerika Serikat masih berada di level tinggi, sementara kondisi pasar keuangan dinilai belum cukup ketat untuk membenarkan pemangkasan bunga dalam waktu dekat.
Sikap ini menegaskan status wait and see bank sentral. Pasar yang selama beberapa kuartal terakhir terus berharap adanya siklus pelonggaran moneter agresif kini dipaksa menerima kenyataan bahwa suku bunga tinggi masih akan bertahan lebih lama.
Kenapa Pengurangan Rapat Bukan Sekadar Urusan Jadwal
Memangkas frekuensi rapat dari 8 kali menjadi 6 kali setahun mengubah cara pasar membaca risiko. Selama ini, jeda antar-rapat berkisar 6 minggu. Mulai 2028, jarak antar-pertemuan melebar menjadi sekitar 2 bulan penuh. Artinya, setiap pertemuan akan memiliki bobot data ekonomi yang 33% lebih padat dibanding sebelumnya.
Bayangkan sebuah pasar lelang grosir beras yang biasanya memperbarui patokan harga setiap bulan, lalu memutuskan hanya membuka lelang dua bulan sekali. Saat jeda waktu diperpanjang, data pasokan panen dan permintaan dari pembeli yang menumpuk di luar pasar lelang menjadi jauh lebih banyak. Hasilnya, setiap kali pintu lelang dibuka, penyesuaian harga beras yang terjadi bakal jauh lebih tajam dibanding saat lelang digelar lebih sering dengan rentang waktu yang pendek.
Bagi pelaku pasar modal, perubahan ini membuat setiap pengumuman suku bunga membawa dampak volatilitas yang jauh lebih terkonsentrasi. Reaksi harga aset, mulai dari nilai tukar mata uang, imbal hasil obligasi, hingga pergerakan indeks saham, tidak lagi terdistribusi merata dalam 8 siklus kecil, melainkan terkumpul dalam 6 siklus besar dengan potensi pergerakan yang lebih tajam.
Kondisi Likuiditas Ternyata Belum Ketat di Mata Bank Sentral
Pernyataan bahwa kebijakan moneter mulai bekerja dibarengi penegasan bahwa kondisi likuiditas saat ini belum bisa disebut ketat. Untuk investor pemula, istilah kondisi keuangan ketat atau tight financial conditions sederhananya merujuk pada seberapa sulit dan mahalnya pelaku usaha meminjam uang di pasar perbankan atau menerbitkan surat utang baru.
Ketika pimpinan bank sentral enggan menyebut kondisi pasar saat ini ketat, pesan yang dikirimkan sangat jelas: pasar saham masih bergerak aktif, likuiditas di sistem perbankan global masih memadai, dan biaya pinjaman di pasar swasta belum cukup menekan aktivitas ekonomi untuk mendinginkan inflasi secara tuntas. Selama likuiditas dinilai belum benar-benar mengering, The Fed tidak punya alasan kuat untuk segera memangkas suku bunga acuan secara agresif.
Mode menunggu data tambahan ini membendung ekspektasi penurunan bunga cepat. Dana global lebih memilih bertahan di alat pasar uang berbasis dolar AS yang masih memberikan imbal hasil bebas risiko di kisaran 4% hingga 5%, ketimbang terburu-buru masuk ke pasar berkembang.
Efeknya ke Rupiah dan Saham Berutang Dolar
Sikap The Fed yang bertahan di posisi suku bunga tinggi berimbas langsung ke pasar modal Indonesia melalui jalur nilai tukar dan arus dana asing (foreign flow). Ketika imbal hasil US Treasury 10-year bertahan di level tinggi, selisih imbal hasil dengan Surat Berharga Negara (SBN) menyempit, sehingga rupiah menghadapi tekanan depresiasi berkepanjangan.
Kondisi ini membatasi ruang gerak Bank Indonesia untuk menurunkan suku bunga BI-Rate lebih awal. Jika BI melonggarkan kebijakan moneter mendahului The Fed, selisih imbal hasil akan semakin tipis dan memicu tekanan jual pada rupiah. Bunga domestik yang bertahan tinggi menghasilkan dua kubu berbeda di bursa saham:
- Emiten yang Tertekan: Saham-saham di sektor properti, konstruksi, dan emiten yang memiliki porsi utang berdenominasi dolar AS tanpa lindung nilai (hedging). Beban bunga pinjaman yang tetap tinggi memangkas margin laba bersih mereka secara langsung.
- Emiten yang Diuntungkan: Bank bermodal besar dengan rasio dana murah (CASA) tinggi tetap mampu menjaga margin bunga bersih (NIM) di level sehat. Selain itu, emiten komoditas dan eksportir yang mencatatkan pendapatan dalam dolar AS namun memiliki struktur biaya operasional dalam rupiah mendapatkan keuntungan selisih kurs.
Yang Perlu Dipantau untuk Menguji Arah Kebijakan
Arah pergerakan pasar saham ke depan tidak lagi ditentukan oleh spekulasi kapan siklus pelonggaran dimulai, melainkan pada data riil inflasi inti AS (Core PCE) dan ketahanan pasar tenaga kerja. Selama inflasi bertahan di atas target 2%, suku bunga tinggi adalah kenyataan yang harus dihadapi dalam perhitungan valuasi saham.
Bagi pelaku pasar modal di IHSG, perubahan aturan main ini menuntut ekspektasi valuasi yang lebih realistis. Saham-saham dengan rasio Price to Earnings (P/E) yang mahal tanpa diimbangi pertumbuhan laba bersih riil berisiko mengalami koreksi valuasi, karena era modal murah belum akan kembali dalam waktu dekat.