LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

Tiga Bank Sentral Tahan Bunga, The Fed Hadapi Ujian

Tiga bank sentral global diproyeksikan menahan suku bunga. Namun The Fed harus mengambil keputusan sebelum data inflasi PCE dan pertumbuhan PDB AS dirilis.


Key Takeaways

  • Tiga bank sentral global—The Fed, ECB, dan BoJ—diproyeksikan menahan suku bunga acuan pada pertemuan 28–30 Oktober setelah ketiganya kompak menaikkan bunga pada September.
  • The Fed menetapkan suku bunga acuan di rentang 3,75%–4,00% pada 28 Oktober tanpa melihat rilis inflasi PCE September yang baru keluar satu hari berikutnya.
  • Konsensus memproyeksikan inflasi tahunan PCE AS September naik ke level 3,6% (sebelumnya 3,4%) dan Core PCE naik ke 3,1%, didorong perkiraan pertumbuhan PDB kuartal III di kisaran 3,0%–3,2%.
  • Musim rilis laporan laba sektor teknologi dimulai dari SK Hynix, disusul Microsoft, Alphabet, Amazon, dan Intel untuk membuktikan hasil belanja modal AI.

The Fed berada pada posisi yang tidak biasa pekan ini. Pada 28 Oktober, bank sentral Amerika Serikat harus menetapkan arah suku bunga acuan yang kini berada di rentang 3,75%–4,00%. Keputusan ini diambil persis 24 jam sebelum data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) edisi September dirilis ke publik.

Keputusan The Fed Mendahului Rilis Data Inflasi PCE

Situasi bank sentral saat ini mirip seorang pedagang grosir yang terpaksa menetapkan harga jual persediaan hari ini, padahal nota tagihan pasokan logistik baru diserahkan besok pagi. The Fed harus meraba tekanan harga dari data lawas, sementara angka inflasi terbaru berada tepat di depan mata.

Survei konsensus pasar mencatat 94 dari 100 pelaku pasar memperkirakan The Fed akan memilih langkah aman dengan menahan suku bunga acuan. Langkah defensif ini selaras dengan langkah bank sentral dunia lainnya pada pekan yang sama. European Central Bank (ECB) diproyeksikan mempertahankan deposit facility rate di level 2,50% pada 29 Oktober. Sehari kemudian, Bank of Japan (BoJ) juga diprediksi menahan suku bunga kebijakannya di level 1,25% setelah ketiganya kompak menaikkan suku bunga pada September lalu.

Proyeksi PDB 3,2% dan Kenaikan Core PCE ke 3,1%

Data ekonomi AS yang keluar pada 29 Oktober berpotensi mengubah pembacaan arah bunga secara drastis. Konsensus memproyeksikan inflasi PCE tahunan naik ke level 3,6% (YoY) dari posisi bulan sebelumnya 3,4%. Inflasi inti atau core PCE, indikator inflasi yang tidak menghitung komponen makanan serta energi bergejolak, diperkirakan naik dari 3,0% menjadi 3,1%.

Beban pembuktian semakin berat karena pembacaan awal Produk Domestik Bruto (PDB) kuartal III AS diperkirakan berada di rentang 3,0%–3,2%, melonjak dari realisasi kuartal II sebesar 2,2%. Pertumbuhan ekonomi di atas 3% mencerminkan daya beli domestik AS yang masih kokoh. Logika dasarnya sederhana: selama perputaran ekonomi masih berjalan cepat dan inflasi bergerak naik, bank sentral tidak memiliki alasan mendesak untuk menurunkan suku bunga pinjaman.

Ujian Realisasi Laba Raksasa Teknologi AI

Di luar ruang sidang para gubernur bank sentral, bursa saham memasuki babak pembuktian kinerja keuangan kuartal ketiga. Sektor teknologi dan semikonduktor menghadapi pertanyaan utama dari pemodal institusi: apakah belanja modal puluhan miliar dolar untuk infrastruktur kecerdasan buatan mulai menghasilkan pendapatan kas nyata?

Jadwal laporan keuangan dibuka oleh produsen cip memori asal Korea Selatan, SK Hynix, pada 28 Oktober pagi waktu setempat. Begitu bursa Wall Street ditutup pada hari yang sama, giliran Microsoft dan Alphabet yang membeberkan laporan keuangannya. Rentetan ini berlanjut pada 29 Oktober saat Amazon dan Intel melaporkan kinerjanya ke pasar.

Saham-saham ini diperdagangkan dengan rasio valuasi price to earnings (P/E) yang tinggi karena pasar telah mematok ekspektasi laba yang tinggi. Jika kinerja mereka gagal melampaui estimasi (earnings beat) atau jika margin keuntungan mulai tergerus biaya operasional, saham teknologi rentan mengalami aksi jual penyesuaian yang dampaknya bisa merembet ke bursa saham Asia.

Transmisi Suku Bunga ke Kurs Rupiah dan IHSG

Arah kebijakan ketiga bank sentral dan rilis data AS ini masuk ke bursa domestik lewat pergerakan nilai tukar dan arus modal asing (foreign flow). Apabila data pertumbuhan ekonomi AS terkonfirmasi kuat dan inflasi PCE naik sesuai konsensus, yield obligasi US Treasury tenor 10 tahun berpeluang naik kembali.

Kenaikan yield obligasi AS akan mempersempit selisih imbal hasil dengan Surat Berharga Negara (SBN), yang membuat nilai tukar rupiah rentan tertekan terhadap dolar AS. Bagi IHSG, kondisi ini biasanya membatasi aliran dana masuk ke saham-saham perbankan berkapitalisasi besar (big caps) dan memberi beban tambahan bagi emiten dengan porsi utang dolar tinggi. Di sisi lain, eksportir dan emiten komoditas berpendapatan dolar mendapatkan keuntungan pelindung alami.

Fokus utama pasar pekan ini bukan lagi sekadar menebak apakah The Fed menahan bunga atau tidak—konsensus 94% sudah mengunci ekspektasi tersebut. Titik penentunya berada pada nada pernyataan Jerome Powell pada 28 Oktober: apakah bank sentral mulai bersiap mempertahankan bunga tinggi lebih lama untuk menghadapi inflasi PCE September yang berbalik naik.