Top 10% rumah tangga AS kuasai 70% kekayaan bersih dengan tambahan US$52,7 T sejak 2020. Top 0,1% kini bernilai US$200 juta per rumah tangga.
Key Takeaways
- Top 10% rumah tangga AS kini menguasai 70% dari total kekayaan bersih (net worth).
- Kekayaan kelompok 10% teratas bertambah US$52,7 triliun sejak masa pandemi 2020.
- Kelompok top 0,1% mencatatkan penggandaan kekayaan sejak 2019 dengan tambahan US$14,5 triliun, setara rata-rata sekitar US$200 juta per rumah tangga.
- Konsentrasi likuiditas di puncak piramida menjadi penopang utama valuasi aset finansial global.
Pemusatan kepemilikan aset di Amerika Serikat menyentuh level baru per Oktober 2026. Sebanyak 70% dari total kekayaan bersih (net worth) rumah tangga di AS saat ini dikuasai oleh 10% kelompok teratas. Kenaikan nilai aset finansial dan properti dalam beberapa tahun terakhir memperlebar jarak kekayaan, menempatkan sebagian besar modal likuid dunia di tangan segelintir pemilik aset.
US$52,7 Triliun Mengalir ke Puncak Sejak 2020
Sejak pandemi 2020 melanda, kelompok 10% teratas mencatat penambahan kekayaan bersih sebesar US$52,7 triliun. Angka ini bukan sekadar statistik pembagian pendapatan biasa, melainkan cerminan langsung bagaimana pasar modal melipatgandakan modal pemilik aset. Saat likuiditas berlimpah masuk ke sistem keuangan, modal tersebut tidak mengalir rata ke sektor riil harian, melainkan terserap ke portofolio saham, obligasi, dan real estat komersial yang kepemilikannya terkonsentrasi di puncak piramida.
Top 0,1 Persen Mengantongi Rata-Rata US$200 Juta
Perubahan paling tajam terlihat pada lapisan yang lebih sempit lagi. Kelompok top 0,1% mencatatkan kekayaan bersih yang berlipat dua kali lipat sejak 2019. Tambahan kekayaan yang mereka kumpulkan mencapai US$14,5 triliun. Dengan pertumbuhan tersebut, rata-rata nilai kekayaan bersih kelompok 0,1% ini berada di kisaran US$200 juta per rumah tangga.
Di tingkat aset sebesar ini, sumber pendapatan tidak lagi bergantung pada upah kerja bulanan, melainkan pada imbal hasil modal, dividen, serta keuntungan modal (capital gain). Pola pengeluaran mereka pun berbeda total dari konsumen kebanyakan.
Kenapa Pasar Saham Kebal Pelemahan Konsumen Ritel
Konsentrasi kepemilikan ini menjelaskan kenapa bursa saham sering kali tetap kokoh saat daya beli kelas pekerja melemah. Kuncinya ada pada kepemilikan aset finansial. Sebanyak 70% kekayaan bersih berada di tangan pihak yang tidak terpengaruh oleh lonjakan harga kebutuhan pokok harian.
Pemilik modal besar tidak membelanjakan kekayaannya untuk konsumsi harian, melainkan memutarnya kembali ke aset produktif. Likuiditas yang mengalir ke pasar saham hingga aset pasar berkembang tetap berjalan stabil karena modal US$52,7 triliun ini terus mencari tempat bertumbuh.
Jika kelompok 10% teratas terus menahan kekayaannya di aset finansial, maka valuasi pasar saham akan terus mendapat bantalan likuiditas yang tebal dan terhindar dari tekanan jual paksa. Sebaliknya, jika ada perubahan aturan pajak modal atau penurunan harga aset yang mendorong mereka mencairkan portofolio secara serentak, maka pasar saham global akan menghadapi penyusutan likuiditas secara cepat mengingat 70% porsi modal berada di tangan kelompok ini.
Yang Perlu Dipantau dari Alokasi Pemilik Modal
Fokus utama ke depan adalah ke mana modal US$52,7 triliun ini akan dialokasikan berikutnya. Jika kelompok pemilik US$200 juta per rumah tangga ini mulai memindahkan dana mereka dari saham ke kas tunai atau surat utang negara, barulah tekanan koreksi pasar modal akan terasa nyata. Membaca arah perputaran portofolio kelompok teratas ini jauh lebih menentukan arah pasar daripada sekadar memantau survei belanja ritel biasa.