LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

US 10-Year Yield Tembus 5,34%: Kenapa Valuasinya Belum

US 10-year yield menyentuh level 5,34%, tertinggi dalam 22 tahun. Meski ada aksi jual besar, valuasi obligasi AS ternyata belum murah. Ini efeknya ke IHSG.


Key Takeaways

  • Yield US Treasury 10 tahun menyentuh 5,34%, level tertinggi dalam 22 tahun terakhir.
  • Yield obligasi AS masih berada lebih dari 60 basis poin (bps) di atas estimasi nilai wajarnya berdasarkan indikator suku bunga global, kurva imbal hasil, dan harga minyak.
  • Equity Risk Premium berada pada titik terendah dalam lebih dari 20 tahun, membuat valuasi saham global rentan koreksi dibanding obligasi.
  • Secara historis, dalam 3 dari 4 periode ketika return 6-bulan obligasi AS kembali ke rata-rata jangka panjang, kinerjanya masih turun lebih dalam pada 3 bulan berikutnya.

Imbal hasil (yield) surat utang pemerintah Amerika Serikat tenor 10 tahun menyentuh angka 5,34%, level tertinggi dalam kurun waktu 22 tahun. Di pasar modal, jatuhnya harga aset setelah aksi jual besar sering memancing anggapan bahwa surat utang ini sudah terdiskon besar dan layak dibeli. Namun, pembacaan data valuasi justru menunjukkan kondisi sebaliknya: obligasi pemerintah AS sama sekali belum murah.

Yield 5,34% Belum Berarti Valuasi Obligasi Murah

Saat ini yield obligasi 10 tahun masih berada lebih dari 60 basis poin (bps) di atas estimasi nilai wajarnya. Nilai wajar ini dihitung berdasarkan empat faktor utama: laju kenaikan suku bunga bank sentral global, bentuk kurva imbal hasil, pergerakan harga minyak mentah, serta suku bunga acuan bank sentral AS.

Untuk memahaminya, bayangkan seorang pedagang grosir beras di pasar induk. Pemasok menawarkan sekarung beras dengan potongan harga Rp50.000 dari harga biasa. Sekilas beras itu tampak murah. Namun di saat yang sama, biaya sewa gudang naik, tarif solar truk pengiriman naik, dan bunga pinjaman modal kerja bank naik dua kali lipat. Beras yang tampak didiskon itu sebenarnya tetap mahal untuk disimpan dan dijual kembali. Hal yang sama terjadi pada US Treasury: harganya memang turun, tetapi beban suku bunga acuan dan inflasi energi yang tinggi membuat aset ini belum berada pada harga wajar yang aman untuk dikoleksi.

Jebakan Equity Risk Premium yang Terus Menipis

Tingginya yield obligasi AS langsung membebani pasar saham lewat indikator Equity Risk Premium (ERP). ERP adalah selisih antara keuntungan saham (diukur dari earnings yield, yaitu laba bersih per saham dibagi harga saham) dikurangi imbal hasil obligasi pemerintah 10 tahun.

Fungsi rasio ini sederhana: mengukur berapa besar kompensasi keuntungan tambahan yang diterima investor saham karena berani mengambil risiko bisnis, dibandingkan menaruh uang di surat utang pemerintah yang bebas risiko gagal bayar. Saat ini, ERP berada pada level terendah dalam lebih dari dua dekade.

Ketika obligasi pemerintah memberi imbal hasil 5,34% tanpa risiko, investor institusi besar tidak melihat alasan kuat untuk mempertahankan saham-saham dengan valuasi tinggi. Selisih imbal hasil yang sangat tipis ini menandakan bahwa pasar saham diperdagangkan terlalu mahal terhadap pasar obligasi. Ini bukan bukti bahwa obligasi sudah murah, melainkan sinyal bahwa ruang kenaikan indeks saham menjadi sangat terbatas.

Pola Historis Memperlihatkan Tekanan Belum Usai

Return tahunan indeks obligasi AS baru saja kembali menyentuh rata-rata jangka panjangnya. Sebagian pengamat pasar menganggap kembalinya angka return ke garis rata-rata sebagai tanda penurunan sudah selesai (bottoming). Riwayat data pasar modal justru memperlihatkan kecenderungan berbeda.

Dalam 3 dari 4 periode sebelumnya ketika return 6-bulan obligasi AS mengalami penurunan dan menyentuh rata-rata jangka panjangnya, imbal hasil totalnya justru kembali turun lebih rendah dalam kurun 3 bulan berikutnya. Pasar surat utang membutuhkan waktu lebih lama untuk membentuk dasar harga baru, terutama saat ekspektasi suku bunga tinggi masih bertahan di pasar.

Jalurnya ke Rupiah dan Pembagian Sektor IHSG

Tekanan dari pasar surat utang AS langsung merembes ke pasar modal domestik lewat pergerakan nilai tukar. Selisih imbal hasil antara US Treasury dan Surat Berharga Negara (SBN) Indonesia kini makin rapat. Ketika imbal hasil obligasi AS naik mendekati yield obligasi negara berkembang, dana asing cenderung ditarik keluar dari pasar SBN untuk kembali ke aset dolar AS. Arus keluar ini memberi tekanan pelemahan langsung ke nilai tukar Rupiah.

Kondisi ini membagi bursa saham domestik ke dalam dua kubu:

  • Pihak yang tertekan: Emiten dengan porsi utang dolar AS yang tinggi tanpa lindung nilai (hedging), serta perusahaan manufaktur dan farmasi yang mengimpor bahan baku dalam denominasi dolar. Pelemahan Rupiah langsung memperbesar beban keuangan dan menekan laba bersih mereka. Selain itu, saham dengan valuasi Price to Earnings (P/E) tinggi rentan terkoreksi karena naiknya suku bunga bebas risiko otomatis menaikkan tingkat diskonto valuasi.
  • Pihak yang bertahan: Emiten berbasis ekspor komoditas yang membukukan pendapatan dalam dolar AS sementara beban operasionalnya berbasis Rupiah. Selain itu, emiten dengan posisi kas bersih (net cash) melimpah tanpa beban utang bunga menjadi tempat berlindung paling rasional bagi pemodal.

Faktor Penentu yang Perlu Dipantau

Titik balik pergerakan yield US Treasury 10 tahun kini sepenuhnya bergantung pada rilis data inflasi acuan AS dan pergerakan harga minyak mentah dunia. Selama harga energi bertahan tinggi dan The Fed belum memberi sinyal pelonggaran likuiditas, level yield 5,34% belum menjadi jaminan dasar harga yang kokoh bagi pasar obligasi global.