LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

US Treasury Turun 3,7% di September, Tertinggal dari Bund

Return US Treasury 10 tahun turun 3,7% pada September, dua kali lebih dalam dari Bund Jerman (-1,9%) dan membalikkan tren keunggulan sebelumnya.


Key Takeaways

  • Return obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun turun 3,7% sepanjang September, dua kali lebih dalam dibanding Bund Jerman yang turun 1,9%.
  • Pelemahan ini membalikkan tren sebelumnya saat obligasi AS sempat mencatatkan kinerja lebih baik dibanding obligasi acuan Eropa.
  • Tekanan jual yang lebih berat di pasar AS mencerminkan kenaikan yield yang memperketat likuiditas biaya modal global.

Sepanjang September, return obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun tercatat turun 3,7%. Angka ini hampir dua kali lipat lebih dalam dibanding pelemahan obligasi pemerintah Jerman (Bund) bertenor sama yang turun 1,9%. Pergerakan ini mematahkan tren sebelumnya, saat surat utang AS sempat bergerak lebih unggul dibanding obligasi Eropa.

Pelemahan US Treasury Dua Kali Lebih Cepat dari Bund

Dalam pasar obligasi, penurunan return mencerminkan harga surat utang yang sedang melemah seiring naiknya yield. Fakta bahwa surat utang AS turun dua kali lipat lebih dalam dibanding Bund memperlihatkan bahwa aksi jual terkonsentrasi jauh lebih berat di pasar Amerika Serikat dibanding kawasan Eropa. Pembalikan ini mengubah peta performa relatif yang sebelumnya dipegang oleh US Treasury.

Koreksi yang lebih dalam ini menunjukkan pasar menuntut imbal hasil yang lebih tinggi untuk memegang utang jangka panjang AS. Tekanan pasokan dari lelang surat utang baru pemerintah AS serta penyesuaian ekspektasi suku bunga acuan membuat investor menimbang ulang premi risiko pada tenor panjang.

Kenaikan Yield Dolar Memperketat Likuiditas Global

Pergerakan US Treasury bertenor 10 tahun selalu menjadi jangkar biaya modal di tingkat global. Saat return surat utang AS turun 3,7% akibat kenaikan yield, suku bunga acuan pinjaman berbasis dolar ikut terdorong naik. Beban likuiditas ini tidak berhenti di pasar AS saja, melainkan merambat ke pasar berkembang.

Ketika imbal hasil aset bebas risiko di AS naik lebih cepat dibanding Bund Eropa, selisih imbal hasil obligasi negara berkembang terhadap US Treasury ikut menyempit. Bagi pasar domestik seperti Indonesia, kondisi ini biasanya menahan aliran dana asing masuk ke pasar modal, sembari memaksa pasar obligasi lokal menawarkan tingkat yield yang lebih tinggi agar tetap kompetitif.

Dua Arah yang Menentukan Pergerakan Berikutnya

Arah pergerakan berikutnya bergantung pada kemampuan pasar menyerap pasokan obligasi AS saat ini. Jika pelemahan harga US Treasury terus berlanjut dan jarak penurunannya makin melebar terhadap Bund Jerman, maka biaya modal global akan tetap tinggi sehingga pasar saham dan obligasi negara berkembang akan terus menghadapi tekanan arus keluar dana asing. Sebaliknya, jika koreksi 3,7% di bulan September sudah mencerminkan penyesuaian ekspektasi suku bunga dan kenaikan yield mulai mendatar, maka tekanan terhadap mata uang dan pasar obligasi global akan mereda, membuka ruang bagi aliran dana asing untuk kembali melirik aset berisiko.

Yang Menentukan Kelanjutan Tren Ini

Kunci pengujian thesis ini berada pada rilis data ekonomi AS berikutnya dan hasil lelang penerbitan utang baru. Pelaku pasar perlu memantau apakah pembalikan tren September ini bertahan sebagai pergeseran struktural atau hanya penyesuaian posisi jangka pendek. Selama yield acuan AS bergerak naik lebih cepat dari Eropa, kehati-hatian pada aset sensitif suku bunga tetap menjadi fokus utama.