Yield obligasi Inggris 30 tahun menembus 6,02%, rekor sejak 1997. Simak analisa pergerakan yield global dan efeknya ke valuasi saham dan IHSG.
Key Takeaways
- Yield surat utang pemerintah Inggris tenor 30 tahun menyentuh 6,02%, level tertinggi sejak Januari 1997.
- Kenaikan ini mencatatkan lompatan 564 basis poin dari level terendah siklus bunga murah di 0,38% pada 2020.
- Posisi 6,02% melampaui puncak kepanikan anggaran era Liz Truss pada September 2022 yang kala itu berada di 5,10%.
- Tingginya yield negara maju menahan biaya modal global tetap mahal, membatasi aliran modal asing ke pasar berkembang, dan menekan valuasi saham ber-P/E tinggi.
Pasar obligasi pemerintah Inggris mencatatkan pergeseran besar. Yield surat utang bertenor 30 tahun resmi menembus level 6,02%. Ini adalah posisi tertinggi dalam 27 tahun terakhir, tepatnya sejak Januari 1997. Dihitung dari titik terendah pada masa pandemi tahun 2020 di kisaran 0,38%, yield obligasi jangka panjang ini sudah naik sebesar 564 basis poin.
Untuk memahami pergerakan ini, aturan dasarnya sederhana: harga obligasi dan yield selalu bergerak berlawanan arah. Saat yield naik ke 6,02%, artinya harga surat utang tersebut sedang jatuh karena pasar terus melepas kepemilikannya.
Perumpamaannya mirip dengan pedagang beras di pasar induk. Jika sebuah gudang besar terus mencetak surat utang berjangka panjang untuk menutupi biaya operasional hariannya tanpa menambah pemasukan yang jelas, para pembeli di pasar akan mulai ragu. Pembeli tidak mau membeli surat utang itu dengan harga penuh. Mereka meminta diskon harga yang besar di depan agar imbalan bunga riil yang didapat sepadan dengan risiko menahan surat pinjaman tersebut selama tiga dekade.
Melewati Puncak Krisis Liz Truss Tanpa Kepanikan Massal
Angka 6,02% ini menarik jika disandingkan dengan peristiwa dua tahun lalu. Pada September 2022, Perdana Menteri Liz Truss terpaksa mundur hanya dalam hitungan minggu setelah proposal anggarannya memicu aksi jual besar di pasar obligasi. Saat itu, yield obligasi 30 tahun menyentuh 5,10%, yang langsung memaksa dana pensiun Inggris menghadapi panggilan jaminan tunai atau margin call darurat.
Sekarang, yield obligasi justru bertengger hampir 100 basis poin lebih tinggi dari era krisis tersebut, tetapi tidak ada kepanikan politik terbuka. Bedanya terletak pada kecepatan pergerakannya. Pada 2022, lonjakan terjadi dalam hitungan hari akibat kepanikan kebijakan fiskal mendadak. Kali ini, kenaikan berlangsung bertahap karena pasar mulai menerima kenyataan bahwa era bunga acuan nol persen memang sudah selesai.
Banjir Surat Utang dan Berhentinya Pembelian Bank Sentral
Pemicu utama dari naiknya yield ini bertumpu pada pergeseran penawaran dan permintaan di pasar obligasi.
Pemerintah Inggris saat ini menghadapi defisit anggaran belanja yang lebar. Untuk membiayai operasional negara, kementerian keuangan setempat harus terus menerbitkan surat utang baru ke pasar. Masalahnya, pembeli terbesar selama satu dekade terakhir, yaitu Bank of England, sudah berhenti menyerap surat utang tersebut. Bank sentral justru aktif menjual kepemilikan obligasi mereka ke pasar terbuka lewat kebijakan pengetatan neraca atau quantitative tightening.
Ketika pasokan surat utang membanjiri pasar sementara pembeli terbesarnya ikut berjualan, harga surat utang otomatis tertekan. Investor swasta yang tersisa menuntut premi risiko tenor panjang atau term premium yang jauh lebih tinggi. Mereka enggan mengunci uang selama 30 tahun jika risiko inflasi dan beban utang negara penerbit belum terlihat mereda.
Jalurnya ke Valuasi Saham dan IHSG
Surat utang negara maju adalah acuan dasar bagi penentuan biaya modal global atau cost of capital. Ketika investor institusi dunia bisa menikmati yield tetap di atas 6% dalam pound sterling atau di atas 4,5% di obligasi pemerintah AS tanpa risiko gagal bayar, standar imbal hasil untuk investasi saham ikut terdorong naik.
Efek ini membagi emiten di pasar saham ke dalam dua kubu yang berbeda:
Pihak yang terbebani adalah emiten dengan rasio utang tinggi berbunga mengambang dan saham-saham bervaluation mahal. Saat yield bebas risiko bertahan tinggi, angka diskonto atau discount rate dalam perhitungan valuasi saham menjadi lebih besar. Akibatnya, proyeksi laba masa depan dari saham dengan rasio price to earnings (P/E) tinggi dinilai lebih rendah pada hari ini.
Sebaliknya, pihak yang lebih bertahan adalah emiten dengan posisi kas bersih melimpah atau net cash, serta emiten yang mampu membagikan dividend yield stabil. Perusahaan dengan arus kas operasional kuat tidak bergantung pada pinjaman bank baru, sehingga terhindar dari pembengkakan beban bunga.
Bagi pasar modal Indonesia, bertahannya yield global di area tinggi membuat aliran dana asing atau foreign flow ke pasar saham dan Surat Berharga Negara (SBN) cenderung bergerak selektif. Kondisi ini juga menahan ruang bagi Bank Indonesia untuk memangkas suku bunga acuan terlalu cepat, demi menjaga stabilitas nilai tukar rupiah terhadap mata uang global.
Yang Bisa Mengubah Arah Tren Ini
Thesis bahwa yield obligasi jangka panjang akan bertahan tinggi hanya akan buyar oleh dua kondisi. Pertama, perlambatan ekonomi mendalam yang memaksa bank sentral memangkas suku bunga secara agresif untuk menahan resesi. Kedua, kemacetan likuiditas perbankan atau dana pensiun yang memaksa bank sentral menghentikan penjualan obligasi dan kembali menjadi pembeli siaga di pasar.
Selama pasokan surat utang baru terus bertambah dan inflasi menolak turun ke target lama, yield 30 tahun akan tetap menjadi patokan biaya modal baru. Bagi pelaku pasar modal, penyesuaian valuasi portofolio saham harus bertumpu pada satu fakta riil: era likuiditas murah belum akan kembali dalam waktu dekat.