Yield US Treasury naik ke 5,33% dan ETF TLT minus 55%. Simak analisa tekanan biaya dana global terhadap earnings yield saham dan IHSG.
Key Takeaways
- ETF obligasi pemerintah AS tenor panjang ($TLT) terkoreksi 55% dari puncak 2020 akibat kenaikan yield obligasi 30-tahun ke 5,66% dan tenor 10-tahun ke 5,33%.
- Kenaikan yield US Treasury 10-tahun sebesar 87,1 basis poin dalam kuartal ketiga menjadi lonjakan kuartalan terbesar sejak 1994, menekan imbal hasil tahunan bergulir 10-tahun obligasi bertenor 15+ tahun ke -2%.
- Selisih imbal hasil US Treasury terhadap earnings yield indeks saham berada di titik tersempit sejak 2002, memangkas daya tarik komparatif dividen dan pertumbuhan laba ekuitas.
- Biaya dana global yang bertahan tinggi membatasi ruang pelonggaran moneter domestik dan menekan valuasi saham dengan rasio utang tinggi.
Kerugian pada pasar obligasi pemerintah Amerika Serikat memasuki fase terberat dalam beberapa dekade terakhir. ETF obligasi pemerintah AS tenor panjang, iShares 20+ Year Treasury Bond ETF ($TLT), sudah terkoreksi 55% dari titik tertingginya pada 2020. Penurunan harga ini menghapus lebih dari separuh nilai modal pemegang obligasi jangka panjang seiring kenaikan yield US Treasury tenor 30 tahun ke 5,66%—level tertinggi sejak 2002—dan tenor 10 tahun ke 5,33%, level tertinggi dalam 24 tahun terakhir.
Pada kuartal ketiga, yield 10-tahun bertambah 87,1 basis poin. Lonjakan kuartalan sebesar itu belum pernah terjadi lagi sejak 1994, menyamai laju aksi jual pada era inflasi tinggi dekade 1970-an dan 1980-an. Imbasnya terlihat pada imbal hasil tahunan bergulir sepuluh tahun untuk obligasi AS bertenor 15 tahun ke atas yang kini berada di angka minus 2% (-2%). Ini adalah kinerja 10-tahun terburuk pasar obligasi pemerintah Amerika setidaknya sejak tahun 1935.
Kenapa Obligasi Bebas Risiko Mengalami Kerugian 55%
Banyak investor pemula beranggapan bahwa obligasi pemerintah AS bebas dari risiko kerugian modal. Surat utang pemerintah memang bebas dari risiko gagal bayar (default risk) karena dijamin oleh penerbitnya, tetapi tetap tunduk pada risiko fluktuasi harga akibat suku bunga (duration risk). Risiko durasi mengukur seberapa dalam harga obligasi turun saat suku bunga baru di pasar beredar lebih tinggi.
Cara kerjanya mirip dengan kontrak sewa properti. Bayangkan Anda mengunci modal dengan menandatangani kontrak sewa ruko selama 30 tahun yang memberi hasil sewa tetap Rp20 juta per tahun. Tiga tahun kemudian, ruko baru di sebelahnya disewakan dengan tawaran hasil sewa Rp55 juta per tahun untuk masa sewa yang sama. Bila hari ini Anda berniat menjual hak sewa lama Anda ke orang lain, tidak akan ada pembeli yang bersedia membayar dengan harga modal awal. Anda terpaksa mendiskon harga jual kontrak itu cukup dalam agar persentase keuntungan sewa pembeli baru setara dengan penawaran Rp55 juta di pasar ruko baru. Penurunan harga itulah yang dialami pemegang ETF obligasi tenor panjang saat ini.
Selisih Earnings Yield dan US Treasury Menyempit ke Level 2002
Tekanan di pasar obligasi kini mulai merambat ke pasar saham. Selisih antara yield obligasi pemerintah 10-tahun dan earnings yield indeks S&P 500 berada di posisi paling sempit sejak 2002. Earnings yield adalah laba bersih per lembar saham dibagi harga sahamnya—kebalikan dari rasio Price-to-Earnings (P/E)—yang menunjukkan persentase keuntungan operasional bisnis terhadap modal investasi saham.
Ketika yield obligasi bebas risiko berada di level 1,5%, investor saham rela membayar valuasi mahal karena tidak ada alternatif imbal hasil lain yang memadai di pasar modal. Namun, ketika yield US Treasury 10-tahun bertahan di 5,33%, pertimbangan alokasi modal berubah drastis. Manajer dana besar kini bisa mengunci imbal hasil di atas 5% per tahun dalam dolar AS tanpa perlu menanggung risiko fluktuasi laba korporasi, kenaikan beban operasional, atau kompetisi bisnis.
Situasi ini menciptakan batas atas bagi valuasi saham. Saham-saham dengan kelipatan valuasi mahal dituntut membukukan pertumbuhan laba yang jauh lebih tinggi agar valuasinya tetap masuk akal. Tanpa percepatan laba yang nyata, valuasi saham rentan mengalami derating atau penyesuaian kelipatan harga ke bawah.
Efek Kenaikan Yield Paman Sam ke IHSG dan Saham Domestik
Jalur pengaruh yield obligasi AS ke bursa saham domestik berjalan melalui nilai tukar dan arus modal asing (foreign flow). Yield US Treasury 5,33% memperkuat daya tarik aset berdenominasi dolar AS, menekan nilai tukar rupiah serta harga Surat Berharga Negara (SBN). Agar arus modal tidak keluar dari dalam negeri, Bank Indonesia perlu mempertahankan suku bunga acuan di level yang relatif tinggi guna menjaga selisih imbal hasil.
Suku bunga acuan yang bertahan tinggi membagi emiten di bursa ke dalam dua kelompok:
- Emiten yang tertekan: Sektor dengan tingkat utang berbunga (leverage) tinggi seperti properti, konstruksi, dan menara telekomunikasi. Naiknya beban bunga langsung memangkas margin laba bersih. Selain itu, saham sektor teknologi dan emiten bertaraf valuasi premium terkena revisi valuasi karena tingkat diskonto (discount rate) dalam proyeksi arus kas masa depan ikut naik.
- Emiten yang diuntungkan: Perusahaan dengan posisi kas bersih (net cash) melimpah serta perbankan besar yang menguasai dana murah (CASA). Emiten yang kaya likuiditas menikmati kenaikan pendapatan bunga dari penempatan dana di perbankan maupun pasar uang.
Yang Menentukan Kapan Dana Institusi Kembali Masuk ke Obligasi
Fokus utama pasar saat ini tertuju pada titik yield di mana manajer dana institusi mulai memindahkan porsi modal dari saham kembali ke obligasi pemerintah. Selama defisit anggaran pemerintah AS masih dibiayai lewat lelang surat utang dalam jumlah besar dan inflasi inti bertahan di atas target, tekanan pada obligasi tenor panjang masih berlanjut.
Bagi pelaku pasar saham domestik, memantau arah yield US Treasury 10-tahun memberi gambaran lebih akurat mengenai arah likuiditas global dibanding sekadar melihat sentimen harian. Selama yield acuan global tersebut belum membentuk level puncak (peak yield) yang terkonfirmasi, potensi kenaikan indeks saham akan terus tertahan oleh tingginya imbal hasil aset bebas risiko dunia.