LIVE
USD/IDR…· UST10Y…· KURVA 10Y-2Y…· EMAS…· EMAS/gr…· PERAK…· TEMBAGA…· EUR/USD…· USD/JPY…· USD/CNY…· BTC…· ETH…·
•••
R Rikopedia Research Stock Research & Market Strategy

81 Saham Keluar dari IHSG: Valuasi Turun ke 8,6x P/E

Bursa mengeluarkan 81 saham konsentrasi kepemilikan tinggi dari IHSG. Bobot bank besar naik, sementara P/E indeks turun mekanis dari 10,9x ke 8,6x.


Key Takeaways

  • Sebanyak 81 saham dengan konsentrasi kepemilikan tinggi (High Shareholding Concentration) senilai Rp434 triliun dikeluarkan dari hitungan IHSG.
  • Porsi kapitalisasi yang dihitung dalam indeks menyusut dari Rp2.166 triliun menjadi Rp1.732 triliun, tanpa ada penurunan poin indeks berkat penyesuaian angka pembagi (divisor).
  • Valuasi IHSG turun secara hitungan matematika dari 10,9x menjadi 8,6x P/E ratio dan P/BV dari 1,5x ke 1,1x karena saham yang dikeluarkan rata-rata bervaluasi mahal di 33x P/E.
  • Bobot saham likuid berkapitalisasi besar makin dominan: porsi BBRI naik dari 8,2% ke 9,0%, BMRI dari 5,9% ke 7,4%, dan ASII dari 3,9% ke 4,9%.

Mulai 2 November 2026, indeks harga saham gabungan resmi mengeluarkan 81 saham berkategori High Shareholding Concentration (HSC) dari formula perhitungannya. Nilai kapitalisasi pasar yang dikeluarkan mencapai sekitar Rp434 triliun. Angka itu setara 20% dari total nilai kapitalisasi yang selama ini dipakai untuk menghitung pergerakan IHSG.

Total nilai saham yang tercatat di bursa sebenarnya tidak berkurang sepeser pun. Namun, porsi yang dipakai sebagai dasar pergerakan indeks menyusut dari Rp2.166 triliun menjadi Rp1.732 triliun. Langkah ini bukan tindakan delisting. Ke-81 saham tersebut tetap tercatat dan tetap bisa diperjualbelikan seperti biasa oleh investor, hanya saja pergerakan harganya tidak lagi menggeser jarum IHSG.

Bukan Delisting, Poin Indeks Tidak Turun

Langkah ini bisa diibaratkan seperti pengelola pasar tradisional yang menata ulang timbangan acuan harga beras. Selama ini, beras yang disimpan di gudang pribadi pemilik toko dan tidak pernah dijual ke pembeli umum tetap dimasukkan dalam hitungan rata-rata harga pasar. Akibatnya, timbangan harga pasar menjadi tidak akurat. Mengeluarkan stok yang terkunci ini membuat harga beras di papan pengumuman murni mencerminkan transaksi nyata di lapak.

Banyak pemula mengira membuang Rp434 triliun dari indeks akan membuat poin IHSG langsung jatuh ratusan poin di hari pertama. Hal itu tidak terjadi. Bursa melakukan penyesuaian pada angka pembagi atau index divisor.

Secara teknis, pembagi indeks diubah tepat saat aturan berlaku agar angka penutupan IHSG tidak berubah sama sekali. Perubahan ini juga tidak menciptakan tekanan jual otomatis dari pelaku pasar pada saham-saham yang dikeluarkan, karena dana pasif yang mengacu penuh pada IHSG jumlahnya relatif terbatas dibanding produk yang mengacu pada indeks likuid lain seperti LQ45 atau IDX30.

Dorongan Standar MSCI di Balik Pembersihan Ini

Langkah bursa memangkas 81 saham ini punya target jelas: mempertahankan status pasar modal Indonesia di mata penyedia indeks global seperti MSCI. Selama ini, saham dengan kepemilikan sangat terkonsentrasi di segelintir pemegang saham pengendali kerap menuai kritik mengenai transparansi free float dan kemudahan transaksi pemodal global (investability).

Ketika sebuah saham memiliki porsi saham publik yang terlalu tipis, transaksi dalam jumlah kecil bisa menggerakkan harga saham secara tidak wajar. Bagi pengelola dana global, saham seperti itu sulit dibeli dalam ukuran besar tanpa membuat harga melonjak sendiri, dan sulit dijual tanpa membuat harga turun drastis. Menyingkirkan saham-saham ini membuat IHSG lebih bersih dan lebih mencerminkan kondisi likuiditas yang bisa diakses modal asing.

Empat Saham Besar Makin Menguasai Arah Indeks

Keluarnya 20% kue kapitalisasi pasar membuat saham-saham yang tersisa mendapatkan porsi yang lebih padat. Indeks menjadi semakin terkonsentrasi pada segelintir saham berkapitalisasi besar yang memenuhi syarat likuiditas, terutama sektor perbankan.

Bobot BBCA bertahan di kisaran 9%, sementara BBRI naik dari 8,2% menjadi 9,0%. BMRI bertambah porsinya dari 5,9% ke 7,4%, dan ASII naik dari 3,9% ke 4,9%. Efek langsungnya, ketergantungan IHSG terhadap sektor perbankan makin tinggi. Bila saham bank besar bergerak menguat atau melemah, arah IHSG akan langsung mengekor pergerakan kelompok ini.

P/E Turun ke 8,6x Murni Hitungan Matematika

Salah satu perubahan paling mencolok dari kebijakan ini terlihat pada valuasi IHSG. Ke-81 saham HSC yang dikeluarkan sebelumnya diperdagangkan pada rata-rata valuasi yang tinggi, yakni 33x rolling P/E dan 4x P/BV, jauh melampaui rata-rata saham lain di bursa.

Ketika kelompok bervaluasi mahal ini dikeluarkan, valuasi IHSG secara hitungan matematika turun dari 10,9x menjadi 8,6x P/E, serta PBV turun dari 1,5x ke 1,1x. Indeks seketika tampak jauh lebih murah di atas kertas.

Namun, penurunan valuasi ini bukan karena kinerja laba bersih emiten yang mendadak tumbuh kencang (earnings-driven). Ini murni efek perubahan komposisi hitungan. Mengeluarkan deretan saham bervaluasi 33x P/E secara otomatis menarik rata-rata hitungan ke bawah, tanpa mengubah fundamental laba satu per satu emiten yang tersisa di dalam indeks.

Faktor Penentu Arus Modal Asing Pasca Penyesuaian Indeks

Perubahan formula ini tidak serta-merta membuat arus dana asing masuk besar-besaran dalam semalam. Poin penentunya adalah apakah langkah pembersihan ini cukup memuaskan kriteria MSCI untuk menaikkan bobot alokasi Indonesia dalam indeks global mereka.

Bagi pelaku pasar di bursa domestik, yang perlu diperhatikan mulai November 2026 adalah korelasi pergerakan IHSG yang akan semakin mirip dengan pergerakan LQ45. Selama saham-saham perbankan besar mencatatkan net foreign inflow yang stabil, indeks akan bertahan kuat, tanpa lagi terganggu oleh lonjakan atau kejatuhan harga dari saham-saham berporsi kepemilikan terkonsentrasi.