Di tengah derasnya tekanan jual investor asing pada bursa saham domestik, PT GoTo Gojek Tokopedia Tbk (GOTO) memperlihatkan kontras yang tajam antara perbaikan kinerja keuangan dan pergerakan harga sahamnya. Sepanjang kuartal ketiga 2026, perseroan berhasil membukukan laba bersih tiga kuartal berturut-turut sebesar Rp441 miliar, naik signifikan dari Rp252 miliar pada kuartal sebelumnya.
Kinerja operasional yang membaik ini ditopang oleh lonjakan adjusted EBITDA yang mencapai Rp950 miliar atau melesat 84% dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Bahkan, manajemen menaikkan target panduan adjusted EBITDA setahun penuh 2026 menjadi Rp3,5 triliun hingga Rp3,7 triliun. Namun di lantai bursa, harga sahamnya masih bergerak defensif di kisaran harga rendah. Apa sebenarnya yang sedang terjadi?
Mesin Pertumbuhan Bergeser ke Sektor Finansial
Pendorong utama lompatan laba GOTO bukan lagi layanan transportasi daring (mobility), melainkan lini teknologi finansial (fintech). Nilai transaksi bruto (GTV) fintech melonjak 96% secara tahunan menjadi Rp187 triliun, dengan portofolio pinjaman yang disalurkan tumbuh 50% menembus Rp12 triliun.
Ibarat sebuah pusat perbelanjaan yang mulai memetik keuntungan besar dari sistem pembayaran dan pembiayaan pengunjung daripada sekadar menyewakan lapak parkir, fintech kini menjadi motor laba paling efisien bagi grup. Kontribusi adjusted EBITDA dari segmen finansial ini melonjak lebih dari 300% menjadi Rp550 miliar, dengan kualitas kredit yang tetap terjaga di mana rasio kredit macet (NPL) bertahan di level rendah 0,1%.
Beban Regulasi pada Layanan On-Demand
Sebaliknya, lini bisnis on-demand services (ODS)—termasuk GoRide dan GoFood—menghadapi tantangan regulasi berupa batas komisi 8%. Pembatasan ini memotong potensi adjusted EBITDA segmen mobilitas sekitar Rp150 miliar pada kuartal ketiga.
Manajemen merespons tekanan tarif tersebut dengan memperluas penetrasi ke segmen pasar massal (mass-market) melalui varian layanan yang lebih terjangkau (GoCar Hemat dan GoRide Hemat). Strategi volume ini berhasil meningkatkan jumlah pesanan selesai sebesar 10% secara tahunan, meskipun nilai rata-rata per transaksi menjadi lebih rendah.
Kenapa Harga Saham Masih Tertahan?
Jika laba bersih berbalik positif dan panduan kinerja dinaikkan, mengapa harga saham GOTO belum melonjak? Ada dua faktor utama yang menahan lajunya:
1. Tekanan Likuiditas dan Arus Dana Asing
Sebagai salah satu emiten teknologi dengan kepemilikan investor asing yang signifikan, pergerakan GOTO tidak terlepas dari tren keluarnya dana asing (foreign outflow) dari pasar saham Indonesia. Dalam kondisi pasar yang menghindari risiko, saham teknologi dengan kapitalisasi besar kerap menjadi instrumen penyeimbang likuiditas bagi pengelola dana global.
2. Sikap Menunggu Investor Institusi
Pelaku pasar institusi masih mencermati keberlanjutan margin di lini mobilitas serta stabilitas pertumbuhan kredit pinjaman konsumen di tengah pengetatan likuiditas perbankan nasional. Investor membutuhkan konfirmasi bahwa perbaikan laba ini bersifat struktural jangka panjang dan mampu menopang arus kas bebas positif secara mandiri tanpa suntikan permodalan baru.
Valuasi dan Pandangan Analis
Konsensus riset sekuritas mencatat bahwa dengan bertahannya laba operasional dan lompatan kinerja segmen finansial, valuasi GOTO menawarkan rasio risiko terhadap imbal hasil (risk-to-reward) yang mulai menarik bagi investor bervisi jangka menengah. Target harga berbasis sum-of-the-parts (SOTP) dari konsensus berada di rentang Rp60 hingga Rp65 per lembar saham.
Bagi pelaku pasar, saham GOTO kini bertransformasi dari sekadar cerita ekspansi pangsa pasar menjadi emiten yang mulai membuktikan disiplin monetisasi. Titik balik harga sahamnya di masa depan akan sangat ditentukan oleh kembalinya stabilitas arus modal asing ke bursa domestik serta konsistensi manajemen dalam menjaga pertumbuhan portofolio pembiayaan yang sehat.