Mulai 2 November 2026, BEI mengeluarkan saham High Shareholding Concentration (HSC) dari IHSG. Simak efeknya ke analisa saham dan pasar modal.
Key Takeaways
- Mulai 2 November 2026, BEI resmi mengeluarkan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG.
- Saham dengan kepemilikan terpusat pada segelintir pihak tidak lagi bisa menggerakkan angka indeks lewat transaksi bervolume tipis.
- Bobot IHSG kembali ditentukan oleh emiten berlikuiditas riil dengan porsi free float yang benar-benar diperdagangkan publik.
- Manajer investasi tidak lagi dirugikan oleh distorsi benchmark akibat kenaikan harga saham tidak likuid yang pantang mereka beli.
Mulai 2 November 2026, Bursa Efek Indonesia (BEI) mengeluarkan saham kategori High Shareholding Concentration (HSC) dari perhitungan IHSG. Kategori HSC merujuk pada emiten yang kepemilikan sahamnya terkonsentrasi di tangan segelintir pemegang saham, sehingga jumlah saham yang aktif diperdagangkan di publik sangat kecil. Perubahan aturan ini langsung memperbaiki kualitas pembacaan arah pasar modal Indonesia.
Kenapa Saham Kepemilikan Terpusat Mengaburkan Angka IHSG?
Selama ini, gerak IHSG sering kali tidak sejalan dengan kondisi mayoritas saham di bursa. Indeks terlihat bertahan di zona hijau, padahal sebagian besar saham berlikuiditas tinggi sedang mengalami tekanan jual dan foreign flow keluar. Penyebabnya adalah bobot besar dari saham berkapitalisasi pasar (market cap) jumbo di atas kertas yang kepemilikannya dikuasai segelintir pihak.
Bayangkan petugas survei pasar tradisional yang menghitung rata-rata harga beras satu kota, tetapi memasukkan satu gudang yang 98% stoknya dikuasai satu pedagang grosir. Saat pedagang itu menjual sekarung beras ke rekannya sendiri dengan harga tiga kali lipat, angka rata-rata harga beras sekota di laporan survei ikut naik. Padahal, harga transaksi riil di ratusan toko beras lain diam di tempat.
Hal serupa terjadi ketika saham HSC masih masuk hitungan IHSG. Karena porsi saham beredar bebas (free float) di pasar reguler sangat tipis, modal transaksi yang kecil sudah cukup untuk mengangkat harga sahamnya. Kenaikan pada volume tipis ini langsung memperbesar market cap emiten dan menarik naik IHSG tanpa adanya arus dana besar ke bursa.
Siapa yang Diuntungkan Saat IHSG Dibersihkan dari Saham HSC?
Pihak yang paling diuntungkan dari aturan baru ini adalah manajer investasi dan institutional investor. Dalam standar manajemen risiko investasi, institusi besar dilarang membeli saham dengan likuiditas harian sempit atau konsentrasi kepemilikan ekstrem. Sebelum aturan ini, saat saham HSC naik dan mengangkat IHSG, kinerja reksa dana terlihat kalah dari benchmark hanya karena manajer investasi menolak membeli saham berlikuiditas sempit tersebut.
Bagi pelaku trading saham serta analis yang menyusun riset saham dan analisa saham, grafik IHSG menjadi lebih akurat. Level support dan resistance indeks akan kembali mencerminkan minat beli dan jual pada saham penggerak ekonomi yang likuid. Sebaliknya, saham HSC dengan valuation mahal yang selama ini numpang tenar sebagai penggerak indeks bakal kehilangan daya tarik semunya.
Saham kategori HSC tetap bisa diperdagangkan di bursa, namun gerak harganya per 2 November 2026 tidak lagi menyumbang poin ke IHSG. Fokus pelaku pasar saat aturan ini berjalan adalah seberapa besar pergeseran bobot indeks kembali ke saham likuid berfundamental kuat serta kalibrasi ulang pengelola dana yang mengacu pada IHSG.