BoJ menaikkan penjualan ETF tahunan jadi ¥860 miliar. Dengan nilai pasar ¥2,4 triliun per tahun vs transaksi harian ¥9 triliun, pasar saham Tokyo siap menyerapnya.
Key Takeaways
- Bank of Japan melipatgandakan target penjualan ETF tahunan dari ¥330 miliar menjadi ¥860 miliar berdasarkan book value mulai Januari.
- Durasi pelepasan seluruh portofolio ETF terpangkas dari 112 tahun menjadi sekitar 43 tahun, menandai normalisasi bertahap neraca bank sentral.
- Nilai pasar penjualan sekitar ¥2,4 triliun per tahun terhitung kecil jika dibandingkan dengan rata-rata transaksi harian bursa TOPIX yang mencapai ¥9 triliun.
- Langkah ini berpotensi menyumbang tambahan penerimaan sekitar ¥800 miliar per tahun ke kas pemerintah untuk belanja strategis dan pertahanan.
Bank of Japan menaikkan target pelepasan portofolio ETF saham mereka hingga hampir tiga kali lipat. Mulai Januari, bank sentral Jepang akan melepas ETF senilai ¥860 miliar per tahun berdasarkan nilai buku, naik dari target sebelumnya sebesar ¥330 miliar. Keputusan ini memperpendek masa likuidasi portofolio raksasa tersebut dari 112 tahun menjadi sekitar 43 tahun.
Langkah ini merupakan bagian dari normalisasi kebijakan moneter Jepang setelah lebih dari satu dekade menjalankan pelonggaran kuantitatif ekstrem. Pasar sempat bereaksi negatif sesaat setelah pengumuman keluar. Namun, tekanan jual segera mereda karena pelaku pasar menyadari tambahan pasokan saham dari bank sentral berada dalam takaran yang sangat terukur.
Satu Tahun Penjualan Cuma Setara Seperempat Transaksi Harian
Jika dihitung berdasarkan harga pasar saat ini, nilai penjualan ETF oleh BoJ berada di kisaran ¥2,4 triliun per tahun. Angka ini terlihat besar di atas kertas, tetapi konteks likuiditas bursa Tokyo memberikan gambaran yang berbeda. Rata-rata nilai transaksi harian indeks TOPIX saat ini mencapai sekitar ¥9 triliun per hari.
Artinya, total pasokan saham yang dilepas BoJ sepanjang satu tahun penuh bahkan tidak sampai sepertiga dari total nilai perdagangan saham di Tokyo dalam satu hari perdagangan biasa. Rata-rata pasokan tambahan harian yang masuk ke pasar hanya berkisar puluhan miliar yen, angka yang sangat mudah ditelan oleh bursa yang likuid.
Ibarat seorang pedagang grosir beras yang menguasai gudang raksasa dan ingin mengurangi stoknya. Jika pedagang tersebut membongkar seluruh gudang sekaligus dalam satu pagi, harga beras di pasar induk akan langsung hancur. Namun, jika ia hanya mengeluarkan setengah karung beras setiap sore di tengah pasar yang memperjualbelikan ribuan karung per jam, aktivitas perdagangan tidak akan terganggu sama sekali.
Kenapa Likuiditas Saham Tokyo Mampu Menyerap Tambahan Pasokan
Kemampuan bursa Jepang menyerap pasokan baru tercermin dari kinerja indeks acuannya. Sepanjang tahun berjalan, Nikkei 225 masih mencatatkan kenaikan sekitar 25%, sementara indeks Topix naik 16%. Kenaikan ini ditopang oleh perbaikan fundamental emiten Jepang, kembalinya inflasi sehat, serta reformasi tata kelola perusahaan yang mendorong aksi share buyback dan pembagian dividen dalam jumlah rekor.
Program buyback dari emiten-emiten besar Jepang sendiri diperkirakan mencapai rekor puluhan triliun yen tahun ini. Permintaan domestik dari aksi korporasi tersebut, ditambah arus modal masuk dari investor global yang memburu valuasi murah di Tokyo, lebih dari cukup untuk mengimbangi pasokan ETF yang dilepas BoJ secara berkala.
Kondisi ini membuat risiko terjadinya kelebihan pasokan saham yang berkepanjangan menjadi sangat minim. Selama laba bersih emiten tetap bertumbuh dan valuasi saham Jepang tidak berada di area gelembung, pasar memiliki bantalan likuiditas yang tebal.
Kas Pemerintah Jepang Dapat Tambahan ¥800 Miliar per Tahun
Di luar efek langsung ke bursa saham, penjualan ETF ini memberikan keuntungan finansial langsung bagi kas negara. Sebagian besar ETF yang dibeli BoJ selama bertahun-tahun diakumulasi pada harga yang jauh lebih rendah daripada level saat ini. Selisih antara harga beli dan harga jual menghasilkan keuntungan modal terealisasi yang cukup besar.
Percepatan penjualan ini diperkirakan menghasilkan tambahan penerimaan tahunan sekitar ¥800 miliar bagi BoJ. Sesuai aturan keuangan negara, surplus operasional bank sentral akan disetorkan kembali ke rekening pemerintah.
Dana segar non-pajak ini memberikan ruang fiskal tambahan bagi Perdana Menteri Sanae Takaichi untuk mendanai rencana belanja strategis, termasuk inisiatif ketahanan ekonomi, investasi teknologi masa depan, dan kenaikan anggaran pertahanan tanpa harus mengandalkan penerbitan obligasi baru secara agresif.
Yang Perlu Dipantau: Risiko Saat Likuiditas Global Menyusut
Meskipun jadwal penjualan ETF dirancang sangat mulus, pasar tetap perlu mengawasi satu skenario: penurunan tajam volume transaksi harian bursa saham Jepang. Target penjualan ¥2,4 triliun per tahun tidak terasa ketika transaksi harian TOPIX bertahan di level ¥9 triliun.
Namun, jika terjadi guncangan makroekonomi global yang memicu penarikan modal besar-besaran dan menekan transaksi harian bursa Tokyo hingga anjlok ke level terendah historisnya, pasokan reguler dari BoJ bisa mulai terasa membebani pergerakan harga saham berkapitalisasi besar. Parameter utama yang menentukan keberhasilan pelepasan portofolio ini adalah konsistensi volume perdagangan harian dan kelanjutan program buyback emiten di Tokyo.